Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Happy b'day


__ADS_3

Kejadian sore tadi membuat Rizon meninggalkan rumah, Caca juga melakukan hal yang sama. Tinggal aku sendiri dengan kekacauan ini.


"seandainya ibuku dekat, mungkin aku ga sekacau ini."


Ingin menelponnya tapi aku takut membuatnya berfikir dan sakitnya bisa kambuh.


"seandainya ibu mertua masih ada, beban ini akan lebih ringan" mengingat sosok yang sangat menyayangiku.


Aku benar-benar sendiri. Berusaha memejamkan mata meski aku ga merasakan kantuk. Rizon yang entah kemana perginya. Pesanku diabaikan begitu saja. Aku telpon juga tidak diangkat.


Aku menarik selimut, menutupi tubuhku yang terasa sangat dingin.


Sudah jam 11 lebih Rizon belum juga pulang. Aku beranjak menunggunya dengan tiduran disofa.


"Teman-temannya...Aku telpon aja, siapa tau ada disana." fikirku hanya untuk memastikan keberadaannya.


"hallo kak Udan, maaf ganggu malam-malam gini... apa Rizon ada di tempat kakak???"


"ga ada Nin, sore tadi ke sini. Kakak kirain udah pulang..." jawabnya membuatku menelan kekecewaan


Beberapa teman dekatnya aku hubungi tapi ga ada juga. Nomor terahir satu-satunya yang aku miliki.


""hallo kak Baim, maaf ganggu malam-malam gini... apa Rizon ada di tempat kakak???"


"ga ada Nin...tadi kakak ketemu di Udan dia barengan sama Ayu...katanya mau keluar ada yang mau dicari gitu."


"dduggghhh" jantungku rasanya berhenti berdetak.


"Naaaa..." suara Baim menyadarkanku


"oohhh iyaaa kak, makasi kalo gitu ya..." ucapku gugup sembari menutup telpon.


Aku tak sanggup menahan sesak yang semakin menjadi. Tak bisa berkata-kata hanya air mata yang keluar.


Aku menuju kamar mandi menghidupkan shower dan mengguyur tubuhku dengan air dingin. Tangisku pecah dibawah kucuran air. Kubiarkan air itu terus mengalir sampai badanku rasanya kaku tak bisa kugerakkan. Samar kudengar keributan dengan pandangan yang kabur dan semua menjadi gelap


***

__ADS_1


Niat hanya untuk prank berujung tidak baik dan diluar apa yang direncanakan. Rizon, Caca, dan teman-temannya ga bisa berkata-kata dengan kondisi Nina. Beberapa hari terahir wajah bingung Nina menjadi bahan tertawaan dan kepuasan buat mereka yang sudah berhasil dalam rencananya.


Birthday Cake yang sudah dibawa, buket bunga dan hadiah-hadiah, serta teman-teman sudah berkumpul, Tapi kali ini mereka bingung sendiri melihat kondisi yang benar-benar serius.


"Rencana kamu terlalu berlebihan Ca, Baim juga ngapain harus bawa-bawa Ayu..." suara Rizon terdengar menyesal.


Rizon mengganti pakaian Nina yang basah kuyup. Tersungkur menggigil dikamar mandi. Dia memeluknya dengat sangat erat. Setelah membaluri dengan minyak kayu putih, badan itu masih begitu dinginnya.


"maafin kakak yang sudah keterlaluan" masih dengan memeluk dengan erat.


"kakak dimana, kakak jangan seperti ini, jangan hukum adek seperti ini, adekkk mau kakkkaaakk" Nina mengigau sambil menangis dengan mata tertutup...


"sayanggg bagunnn..." Rizon berusaha membangunkan.


Caca dan yang lain yang mendengar teriakan Rizon menghampiri kedalam kamar.


Aku memandang wajah mereka satu persatu. Penuh dengan rasa kuatir dan penyesalan. Surprise birthday yang gagal total.


***


Marah, aku benar-benar marah. Mereka mempermainkan perasaanku dengan keterlaluan.


"adek, kami ada disini untuk adek..." bujuk Rizon


"kalian ga punya hati, kalian semua jahat, kaliiaa..."


Rizon yang melihat emosiku naik malah memelukku, dan sudah pasti menjadi korban pukulan dan cakaran bertubi-tubi. Tapi pelukannya lebih kuat, membuat aku tak bisa bergerak. Hanya bisa melepaskan amarah dengan menangis.


"marahlah kalo itu bisa membuat adek lega..." ucap Rizon pasrah.


Satu jam lebih ahirnya aku bisa mengontrol emosiku. Rizon merangkulku keluar dari kamar. Diluar tampak tampang-tampang menyesal menyambutku dengan perayaan kecil yang manis...


"happy b'day kakak ipar..." Senyum Caca sembari membawa cake yang beraroma kesukaanku dengan cahaya lilin yang menghiasi.


Aku yang lupa dengan ulang tahunku akibat prank yang mereka lakukan dengan segala syukur dan berharap yang terbaik buat kedepannya.


"Meskipun aku masih kesal, tapi aku makasi buat semuanya. tapi tolong kalo ngeprank kira-kira ya..." ucapku membuat mereka tersenyum.

__ADS_1


Ahirnya ngobrol sampai subuh. Dan untungnya besok weekend. Mereka mengulang cerita dimana aku begitu tampak bodoh masuk dalam perangkap mereka. Dan uang 15 juta itu sudah kembali dengan utuh dihari yang sama pada saat aku mengirimkannya. Salah satu bagian dari rencana Caca yang berhasil mengobrak abrik perasaanku.


Kami masuk kerumah setelah semua pamit untuk pulang. Caca langsung masuk kekamarnya untuk istirahat.


Rasa kantukku hilang melihat rumah yang lumayan berantakan. Berniat merapikannya tapi tangan Rizon keburu menarikku hingga jatuh tepat dipelukannya. Sekarang hanya kita berdua.


"Selamat ulang tahun sayang...semua yang terbaik buat adek ya..." ucapnya lirih persis diwajahku. Kening kami yang menyatu membuat desah nafasnya begitu terasa hangat diwajahku.


Tanpa meminta dia mengecup lembut bibirku. Rasa yang hilang selama dua hari terahir. Ciumannya semakin dalam dan gairahku kembali terpacu. Tangannya semakin liar membuatku tersadar. Aku melepaskan ciumannya yang semakin panas.


"Kenapa sayang...???"


"Ada Caca sayang..." bisikku pelan


Tanpa banyak berkata-kata dia menggendongku menuju kamar, dengan tanganku masih melingkar dilehernya. Kembali dengan hujan ciuman dimana-mana. Nafsu yang sudah memuncak tak mampu dibendung lagi. Setiap inci tubuhku disapu bibirnya yang dengan lembut. Satu persatu yang melekat ditubuhku dia lepas, sampai benar-benar polos.


Tanganku mulai menggenggam miliknya yang sudah kekar, mengusapnya dengan lembut membuat suamiku mendesah sangat panjang. Aku ingin melayaninya, aku berada diatasnya membuatnya tidak percaya kalo aku juga bisa membuatnya kejang kenikmatan. Menghujaninya dengan ciuman yang membuatnya memejamkan mata dengan setiap rasa nikmat yang dirasankannya.


Pelan aku memandu senjata Rizon memasuki liangnya. pelan aku memberikan gerakan yang membuat Rizon memejamkan mata dengan desahan kami yang saling.


"adekkkk...."


Aku semakin tak terkendali berada diatas memberikan rasa yang berbeda dari sebelumnya. Aku merasakan sesuatu yang hangat keluar dan itu membuatku merasa terbang.


"auuuccchhhh...."


Rizon memperlambat membuatku semakin terbang. Aku memeluknya dan seketika dia memutarku berada dibawah. Kali ini dia mengambil alih kendali. Lagi-lagi aku merasakan kepuasan yang luar biasa. Mungkin karena beberapa hari terahir kami menahan hasrat.


Gerakan Rizon semakin cepat dan semakin bergairah dan...


"aaauuuuhhhhhh...." Desahnya dengan nafas yang tak beraturan. Larva itu ditumpahkannya diatas tubuhku. Dan terkulai lemas disampingku.


"makasiii sayang...kamu hebat juga kalo diatas." ucapnya sambil mencium keningku lembut.


"maaf ya..." ucapnya seraya mengambil tissue dan membersihkan tubuhku.


"kakak lupa... untung masih terkontrol"

__ADS_1


Aku masih dalam dekapannya. Memejamkan mata yang dengan tubuh yang lelah. Kami tertidur masih hanya dalam balutan selimut yang menutupi. Subuh yang indah, dihari ulang tahunku yang kini menginjak kepala dua.


__ADS_2