
"Kita mau kemana kak?" Ujarku yang tiba-tiba diajak bersiap oleh Rizon
"Adek pasti akan suka..." Balasnya sambil menyisir rambutku dan membantuku mengikatnya tinggi keatas seperti yang aku minta.
Tanpa bantak protes aku hanya mengikuti apa yang dikatakannya. Karena membantah bukanlah hal baik, hanya akan menghabiskan tenaga untuk berdebat.
Perjalanan yang aku tak tau arah dan tujuannya. Hanya berusaha menikmati dan memperhatikan apa yang sedang kami lewati. Masih berharap ada keajaiban aku bisa mengingat semuanya.
Sekitar 45 menit menikmati perjalanan yang masih dalam tanda tanya, mobil perlahan memasuki kawasan yang terasa tidak asing bagiku. Memastikan mobil terparkir dengan benar.
Dia membantuku dengan membawakan kaki roda duaku.
"Pantai...yahhh, ini pantai yang indah" batinku
Mengambil posisi dibelakangku, perlahan dia membawaku menghadap ketepian pantai. Meski hanya diposisi itu sudah cukup bagiku bisa menikmati anugrah Tuhan yang indah yang tersuguh dihadapanku.
Deburan ombak yang pecah ditepian pantai.
Meski dengan suara yang terdengar kejam tapi indah untuk dilihat. Angin yang membawa kedamaian menyapa setiap kenangan yang ada ditempat itu.
Aku menikmati setiap sapuan angin yang menyapaku. Menutup mataku, menegadahkan wajahku kelangit, terlintas kehangatan yang samar dalam bayanganku. Aku tersadar dan tak menyisakan ingatan sedikitpun.
"Apa yang adek rasakan berada ditempat ini?"
"Ada perasaan hangat kak, tapi kenapa aku ga bisa ingat satu pun!"
"Sayang, disini tempat pertama kali kakak mengajakmu jalan. Bisa dibilang kita ngedate untuk pertama kalinya. Walau tak pernah ada pengakuan status diantara kita, tapi kita bahagia menjalani hubungan itu. Buktinya kita ahirnya menikah."
Hanya diam mendengar kalimat-kalimat Rizon . Setiap sudut tempat itu seakan tak asing bagiku.
***
Sampai matahari benar-benar terbenam, ahirnya Rizon membawaku beranjak dari tempat itu. Sedikit mengurangi rasa sumpek yang sudah bejibun.
Sebelum benar-benar memutuskan untuk pulang Rizon kembali membawaku ketempat yang lagi-lagi sangat familiar. Yahhh, memang hanya sebuat restoran yang menyediakan makanan dominan ayam. Tapi ada hawa kenangan ditempat itu.
__ADS_1
Aku benar-benar diperhadapkan dengan ribuan pertanyaan pada diriku sendiri. Ingin rasanya berteriak dengan rasa hampa yang menyelimuti hati yang kosong.
"Adek ada mau pesan yang lain lagi?" tanyanya ketika makanan sudah diantar pelayan, dan hanya kubalas dengan gelengan kepala.
Tanpa banyak bicara aku melahap makanan yang ada didepanku. Ingin segera pulang dan berbaring. Tubuhku lelah, fikiriranku lelah.
"Pelan-pelan dek."
"Adek pengen cepat pulang kak. Adek capek"
"Iyaaa, habis ini kita langsung pulang"
Menyelesaikan makan dan segera pulang. Ketidaknyamananku membuat Rizon sedikit kasian melihatku.
"Maaf, kakak terlalu memaksa sayang..." ujarnya lembut dengan satu tangannya menggenggam erat tanganku.
"Bersandar dijok, memejamkan mata berusaha mengusir gelisah dihatiku. Fikiranku tidak bisa fokus, semua bercampur aduk.
***
"Rambut adek lengket, sekarang keramas ya..." ucapnya menyiapkan segala keperluan.
Dia menggendongku ala-ala bridal style dan mendudukan di bathup yang sudah terisi air hangat serta aroma terapi yang menenangkan. Membersihkan rambutku dengan syampo, perlahan dia menyapukan sabun beraroma lavender kemudian perlahan mengosok punggung, tangan,kaki, bahkan dengan menahan hasratnya dia menggosokkan bagian dadaku.
Terbayang seorang lelaki yang mencintai istrinya, menjamah tubuh itu tapi tak bisa menikmati sepenuhnya.
Terkadang menjadi bebanku ketika dia harus menahan hasratnya demi menjaga wanitanya.
"Kak, apa kamu pengen?"
" Eenngg Ga sayang..."ucapnya terbata kemudian mengalihkan pandangan dan tangannya beralih pada rambutku. Aku paham perasaannya yang serba salah. Karena tubuhku juga menikmati setiap sentuhannya.
Aku meraih tangannya. Memintanya mendekat. Dengan lutut menjadi tumpuannya, dia berada disampingku, hanya terhalang bathup. Mengalungkan tanganku pada lehernya. Memberikan lampu hijau agar dia menciumku. Pelan ciuman itu menjadi lebih bersemangat. Tanpa menolak sentuhannya aku membiarkan tangannya menjamah yang dia mau. Meremas dengan lembut pusaka kembarku.
"Boleh kakak lanjutkan?" bisiknya penuh dengan nafsu yang diubun-ubun
__ADS_1
"He em..."
Pakaian yang sedari tadi menutupi tubuh kekarnya seketika dilepasnya terlempar begitu saja. Kini tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Dia memposisikan diri dibelakangku. Dengan leluasa dia bisa menjamah bagian-bagian sensitifku, memberikan ciuman hangatnya. Meninggalkan bintang-bintang merah hasil karyanya. Desahan tak bisa tertahan lagi membuatnya semakin bernafsu.
"Cukup sayang, kakak ga mau menyakiti kamu..."
Dia keluar dari bathup, mengeluarkan nafsunya sendiri dengan tangannya sendiri. Tubuhnya tampak bergetar hebat dan erangan kepuasan terlepas dari bibirnya.
"Aaarrhhh aarrhhh arhhhh..."
Dia terduduk sambil mengecup lembut keningku.
"Makasiii sayang..." Senyumnya merekah.
Setelah jeda beberapa saat ahirnya ritual mandi selesai.
Memakaikanku piyama, mengeringkan rambut. Semua dilakukannya setiap hari tanpa beban.
"Makasiii kak..."
"Mau langsung tiduran atau mau diluar?"
"Adek mau rebahan kak..."
Tanpa banyak bertanya tangan kekarnya sudah membawaku dan merebahkanku di tempat tidur.
"Kak!!!" Panggilku ketika dia akan beranjak.
"Temani adek!"
Mata itu memandangku dengan senyum dibibirnya. Mengikuti permintaanku ikut berbaring disampingku.
Dia meraihku kedalam pelukannya. Dada bidangnya menjadi tumpuan kepalaku. Aroma tubuhnya sangat lembut membutku betah berlama-lama dengan posisi itu.
Tak ada percakapan yang berlangsung. Kami hanya menikmati diam. Tangannya membelai rambutku membuat kantuk menghampiriku. Kucoba memejamkan mata, berdamai dengan keadaan, meminta waktu untukku merehatkan fikiran yang masih banyak pertanyaan.
__ADS_1