Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Berpulang dengan bahagia


__ADS_3

Masih terbayang wajah marah Caca dengan kata-katanya yang menyakitkan hati. Entah apa yang ada didalam fikiran gadis itu.


Lelah berfikir tak menemukan solusi, aku memilih mandi untuk menyegarkan tubuhku. Mungkin dengan diguyur air badan bisa sedikit ringan.


Terdengar suara Rizon memanggilku saat aku sedang berada dikamar mandi.


"Adek lagi mandi kak..." teriakku dari kamar mandi.


Tak ada jawaban. Aku berfikir dia pasti sudah keluar lagi. Dengan santai aku keluar hanya dengan berbalutkan handuk saja.


"Mereka sudah pulang dek" suaranya yang sedang berbaring membuatku kaget. Melihatku, dia langsung mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.


"Kakak keluar dulu, adek mau salinan" pintaku


"Emang kalo kakak disini kenapa??? Udah pernah lihat juga" mulai menggodaku.


"Kakakkk..."


Dengan wajah puas menggodaku dia melangkahkan kakinya keluar kamar sambil tersenyum nakal.


Senyum yang aku suka yang sudah beberapa hari ini hilang dari wajahnya.


"Semua ini akan berlalu dan kita akan menata kehidupan yang baru, dan harus membiasakan tanpa ibu."


***


Diluar ada ayah, om Adi, tante wulan, ada Rizon , Caca dan beberapa kerabat penting sedang berkumpul.


"Sini dek..."panggil Rizon yang melihat keberadaanku


Aku duduk disamping Rizon yang masih belum tau agenda apa yang membuat semuanya berkumpul.


"Buat semua sudah berkumpul, terimakasih banyak." Kalimat ayah membuka pembicaraan yang kesannya sangat serius.


"Semua kita benar-benar dikejutkan atas kepergian ibu dari anak-anak. Sebenarnya sudah 1 minggu terahir ibu sudah ngasi isyarat, tapi ayah ga peka." Ayah menceritakan seminggu sebelum ibu menghembuskan nafas terahirnya. Mengundang air mataku yang tak bisa tertahan. Rizon memelukku memberiku kekuatan.


"Ayah ga tau apa isinya, beberapa hari yang lalu ibu memeberi tau ayah tentang ini."

__ADS_1


Flashback


Sepertinya sudah menjadi rutinitas sebelum tidur ibu selalu mengajak ayah ngobrol. Banyak yang bisa dijadikan topik. Hal yang biasa mereka bicarakan kegiatan sepanjang hari, membahas anak-anak.


"Ayahhh... ga terasa ya anak-anak sudah besar. Sudah memiliki menantu. Meskipun ibu tau mereka memutuskan untuk menikah hanya karena ibu. Ibu tau masih banyak mimpi-mimpi yang mereka ingin raih"


"Jangan bicara seperti itu, doakan anak mantu kita rukun bahagia, cukup itu saja bu. Masalah mimpi-mimpi mereka akan bisa diraih meski sudah dengan status menikah."


"Tapi kadang ibu kasian dengan Nina, dia terpaksa menikah diusia yang masih sangat muda."


"Umurnya boleh muda bu, tapi dia sudah sangat dewasa menjalani takdirnya. Dia tidak egois. Dia tidak hanya ingin anak kita. Tapi dia sangat menyayangi dan menghormati kita sebagai orang tuanya."


Ibu bangkit dari rebahannya mengeluarkan tiga kotak yang ayah ga tau apa isinya.


Masing-masing kotak itu bertuliskan nama kedua anak dan menantunya.


"Nanti seandainya ibu sudah ga ada, ibu titip berikan ini pada anak-anak.


Ayah yang menganggap itu hal biasa hanya mengiakan aja tanpa banyak pertanyaan. Soalnya ibu sering kali berimajinasi terlalu jauh. Jadi ayah tidak begitu membawa permintaan istrinya itu terlalu untuk difikirkan. Bukan hanya sekali dua kali dia selalu menitipkan pesan seolah olah hidupnya akan segera berahir. Dan kali ini benar adanya, itu adalah pesan terahirnya.


Sore setelah Rizon dan Nina berangkat, seperti biasa ibu dan ayah menghabiskan waktu bersama.


"Ayah masih dengar waktu Nina telponan ngasi tau kalo sudah sampai. Dan bercerita kalo dijalan sangat macet."


"Ada sekitar setengah jam setelah telpon, sambil tiduran ayah dan ibu ngobrol sebelum tidur. Tiba-tiba ibu bilang haus dan mau ke dapur ambil air. Tapi ayah suruh ibu tunggu, dan ayah mengambilkan air ke dapur."


"Ayah mengambilkan air dan setelah sampai dikamar ibu sudah terlihat seperti tidur dengan menutup mata"


"Ayah masih biarkan, ga mau ganggu ibu kalian yang tampak sudah tertidur"


"Perasaan ayah ga nyaman, karena tadi ibu bilang minta diambilin air, pas ayah datang ibu sudah tertidur. Soalnya ayah berfikir ga mungkin kurang dari dua menit ibu sudah tertidur sepulas itu dan tidak sadar ayah sudah membawakan segelas air yang dimintanya."


"Ahirnya ayah panggil dan tidak ada sautan. Ayah goyang-goyangkan tubuhnya sudah tidak bergeming"


"Ayah langsung telpon dokter Santika untuk memeriksa dan dokter bilang ibu sudah meninggal"


Cerita ayah membuat kami tak menyangka ibu pergi dengan setenang itu. Aku hanya bisa terisak dibahu suamiku yang juga ga bisa menahan air matanya.

__ADS_1


dengan


"Nina, terimakasih buat enam bulan terahir yang Nina berikan sambungan umur buat ibu. Sepanjang enam bulan ini ibu menikmati hidupnya dengan sangat bahagia. Bahkan dihari terahir hidupnya dia sangat bahagia." Ucap ayah padaku yang sangat menyentuh hati.


Caca tiba-tiba memelukku, menumpahkan tangisannya dipelukanku.


"Maafin aku Na..." ucapnya penuh sesal.


"Begitu besar pengorbanan kamu buat keluargaku, buat kebahagiaan ibuku, aku malah bersikap kasar padamu."


"Ca, aku paham kamu lagi emosi. Aku ga papa."ucapku sambil mengusap lembut kepalanya.


Umur kami memang sama, tapi kehidupan membuatku jauh lebih bisa menahan emosi dibanding Caca yang terbiasa manja, terbiasa dengan segala fasilitas yang ga pernah kekurangan.


"Mulai saat ini belajar lebih dewasa lagi Ca, semua bisa dibicarakan dengan baik-baik. Kita harus melanjutkan hidup tanpa ibu. Dan dank percaya kita bisa menjalaninya. Caca harus bisa terima kenyataan ini. Ada ayah, ada dank, ada Nina yang bisa kamu ajak bercerita, ada om tante. Kita akan saling mendukung" jelas Rizon sembari memeluk adik semata wayangnya yang masih terisak itu lembut.


***


Pagi pertama tanpa ada ibu bersama kami. Sedih sudah pasti. Biasanya dia akan sibuk menyiapkan segala sesuatunya yang kami suka.


Banana cake yang masih tersisa mengingatkanku akan kebersamaan terahir sebelum kami pulang ke Bengkulu.


Mengingat semua kenangan bersamanya yang sudah berbeda dunia denganku sangat menyesakkan hati. Waktu yang hanya enam bulan menyisakan kenangan serasa sudah bersama selama puluhan tahun. Dia begitu baik dimataku. Memberikan tempat yang indah dihatinya. Mencintaiku seperti dia mencintai anak darah dagingnya sendiri.


"Kenapa secepat ini bu..." lirihku menatap banana cake yang ada di atas meja tak mampu membendung air mataku.


"Sayang..." suara Rizon di belakangku.


Buru-buru aku mengusap air mataku menyadari keberadannya.


"Cukup menangisnya sayang..."


"Dalam waktu yang singkat terlalu banyak kenangan dirumah ini kak. Setiap sudut rumah ini memberiku cerita tentang ibu."


"Semua ini akan berlalu dek. Kita pasti bisa lewati"


Aku mengangguk sembari membersihkan wajahku yang akan sangat terlihat merah dan mataku langsung bengkak sehabis menangis. Hal yang ga bisa aku sembunyikan dari suamiku. Sedikit saja aku mengeluarkan air mata, mataku sudah langsung terlihat sembab.

__ADS_1


__ADS_2