Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 16


__ADS_3

"Halo sayang ada apa? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Nares lagi, kali ini dengan suara yang tengah khawatir.


Mendengar kekhawatiran sang suami, membuat Zahra kembali tersadar.


"Tidak mas, aku tidak pa-pa. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Zahra.


"Huh, syukurlah. Kau takut terjadi sesuatu terhadap mu, sayang."


"Kamu tidak perlu khawatir mas, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin bilang sama kamu, kamu pulang nya jam berapa? Apakah kamu pulang larut malam lagi?" tanya Zahra.


"Tidak ko sayang, aku tidak akan pulang larut malam lagi. Mm, mungkin sekitar jam setengah delapan, memangnya kenapa?"


"Tidak pa-pa, hanya ingin bertanya saja."


"Oh begitu, yasudah kalau begitu aku kembali bekerja dulu ya."


"Iya mas."


Tak lama sambungan pun terputus. Mendengar pengakuan dari sang suami, membuatnya senang, karena ia bisa membuatkan makanan kesukaan suaminya itu, sekaligus membuat cake sebagai hadiah untuk hari anniversry mereka.

__ADS_1


Kemudian ia pun mengajak sang anak untuk berjalan sebentar di komplek perumahan mereka.


°°°


Sebenarnya sejak ia dari pengadilan tidak ada pekerjaan lagi yang ia kerjakan, namun pada saat selesai makan sia tadi bersama dengan temannya, Nares diminta oleh sang asisten kakak nya yang bekerja di perusahaan milik keluarganya.


Yakni Roy, Roy meminta dirinya untuk datang ke perusahaan karena ada berkas yang harus ia tandatangani.


Nares pun berdecak dengan kesal, pasalnya ia ingin mengajak keluarga kecilnya itu makan di restoran, namun apalah daya, pekerjaannya sedang menanti dirinya.


Terlebih lagi ia harus ke apartemen, ia harus melihat kondisi istri kecilnya, sekaligus membahas yang ingin ia bahas bersama istri kecilnya itu.


Saat ia sudah berada di dalam, Nares tak menemukan keberadaan Zoya, biasanya istri kecilnya itu tengah duduk di depan televisi, sambil melihat drama Korea kesukaannya.


Nares pun melangkah ke kamarnya, dengan pelan ia membuka pintu kamar, namun lagi-lagi ia tak menemukan keberadaannya.


Hanya satu ruangan yang belum ia datangi yaitu dapur, ia pun melangkahkan kakinya ke dapur.


Di saat ia sudah berada di dapur, Nares di buat terkejut sekaligus berdecak, bagaimana tidak ia melihat kondisi dapurnya berantakan, kulit telur yang berserakan di lantai, padahal di sana sudah ada tempat sampah.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya selalu bersih, ia pun dapat melihat Zoya yang tengah berhadapan dengan wajan itu, entah apa yang sedang ia lakukan, sehingga terdengar suara pekikan dari Zoya.


"Yes, akhirnya berhasil juga," pekik Zoya, seraya bertepuk tangan, bahkan melompat-lompat.


Melihat tingkah konyol sang istri kecilnya itu seketika membuat Nares tersenyum samar, namun tak lama kemudian ia kembali ke bentuk semula.


Kemudian ia melihat ke arah meja pantry, di sana ada satu piring besar yang berisi beberapa telur yang bentuknya tak bisa ia deskripsi kan.


Apalagi warnanya, ada yang berwarna gosong, dan ada yang masih mentah ditambah sisa kulit telurnya masih ada.


"Ehmm," Nares pun berdehem, dan hal itu berhasil membuat Zoya kaget.


"Eh astaga, sejak kapan kakak ada disini? Bikin kaget aja tau," gerutunya seraya mengerucutkan bibirnya, melihat hal itu membuat Nares tersenyum samar.


"Aku sudah dari tadi berada disini, sedang apa kamu, kenapa berantakan sekali dapurnya?" tanyanya.


"I- itu, a- anu. Aku sedang belajar memasak telur, tapi hasilnya selalu gagal, tapi kakak tenang aja, nanti aku akan bersihkan," jawab Zoya dengan gugup.


"Huh, sudahlah. Ikut aku, aku ingin bicara denganmu," ujar Nares.

__ADS_1


Zoya pun mengikuti langkah kaki Nares dari belakang, setelah ia menaruh piring yang berisi telurnya yang matang sempurna meski bentuknya tidak sebagus kaya orang-orang.


__ADS_2