Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 89


__ADS_3

"Pagi semua," sapa Nares, seperti biasa dengan mimik wajahnya yang datar.


"Pagi," balas semua orang yang berada di ruang makan.


Setelah itu, Nares pun duduk di kursi yang bisanya ia tempati.


Nares melihat ke arah kursi yang berada di sampingnya, yang dimana kursi itu ialah kursi yang selalu ditempati oleh Zahra, mendiang istrinya.


Ia pun menghela nafasnya dengan kasar, lalu ia mulai menikmati sarapannya.


"Begini pak Putra, dan juga Bu anggun. Saya, beserta keluarga, mau pamit untuk pulang ke Bogor hari ini," ucap pak Jamal, setelah mereka selesai sarapan.


"Loh kenapa buru-buru, pak besan?" tanya pak Putra.


"Tidak pa-pa, hanya saja, saya harus melihat ladang dan juga hasil panen, pak besan," jawab pak Jamal.


"Apakah ayah tidak bisa menginap lagi?" tanya Nares.


"Tidak bisa nak," jawabnya.


"Yasudah kalau begitu. Jika memang ini keputusan anda, kami tidak akan memaksa, tapi ingat, saat anda datang ke Jakarta, anda harus mampir ke rumah kami," ucap pak Putra.


"Tentu saja, sekali-kali saya akan datang kemari, untuk menemui cucu saya," ujar pak Jamal.


Sementara yang lainnya hanya diam, mendengarkan kedua besan tersebut berbicara.


Lain halnya dengan ibu tiri mendiang Zahra, ia terus saja mengoceh dalam hati. Pasalnya, suaminya itu malah ingin cepat-cepat pergi dari rumah mewah ini, padahal dia kan ingin lama tinggal di rumah mewah nan megah ini.


"Pah, mah. Sepertinya kami juga akan pulang sekarang, ditambah lagi, Erlangga harus pergi sekolah," ucap Jeffry.


Ya, Jeffry dan Vio masih tinggal di sana. Beda dengan tuan dan nyonya Abimanyu itu, yang sudah lebih dulu pulang sewaktu pagi-pagi tadi.


"Apa kalian tidak bisa lama untuk tinggal disini?" tanya mamah Anggun, pada sang anak dan juga menantunya itu.


"Maaf mah," ujar Jeffry dan Vio.


"Hm yasudah lah."


Nares pun berangkat bekerja, dengan Zoya yang membawakan tas kerjanya, dan mengantarkan nya, sampai di depan rumah.


"Ini kak, tas kerjanya," ucap Zoya, pada saat mereka sampai di depan rumah.


"Hm ... Terima kasih," ujar Nares, masih setia dengan mimik wajah dan nada datarnya, seraya menerima tas kerjanya yang di berikan oleh Zoya.

__ADS_1


Setelah itu Nares pun pergi ke arah mobilnya yang sudah terparkir di pekarangan rumah.


Namun pada saat ia sudah berada di depan pintu mobilnya, ia kembali lagi.


Zoya yang masih berada di depan pintu itu pun menyengerit bingung, kenapa suaminya itu kembali lagi.


Kebingungan itu pun langsung sirna, ketika ia melihat suaminya itu mengelus perutnya yang sudah membuncit itu, dengan senyum, meski senyum nya itu tidak seperti biasanya.


Tak banyak tanya, setelah mengelus perut Zoya, Nares pun kembali melangkah ke arah mobilnya.


Di sana ia pun langsung masuk, tanpa memalingkan wajahnya ke arah Zoya, dan tanpa menyapa istri keduanya itu.


Melihat sikap suaminya itu, Zoya hanya bisa menghela nafasnya, entah sampai kapan sikap suaminya itu akan kembali seperti semula.


Setelah tidak lagi melihat mobil suaminya, Zoya pun kembali masuk kedalam rumah.


°°°


Waktu pun berlalu, sudah empat puluh hari kematian istri pertama sang pengacara tampan itu.


Dan selama itu pula sikap Nares tidak berubah.


Kali ini usia kandungan Zoya sudah memasuki usia lima bulan, dan hari ini ia tengah menunggu kedatangan suaminya itu, karena hari ini ia akan mengecek kandungan nya bersama sang suami.


Dan mulai besok waktu Nares bersama Zoya, meski orang tuanya sempat meminta Nares untuk tetap tinggal dirumahnya, dan tidak tinggal lagi di rumahnya bersama dengan mendiang Zahra.


Karena mamah Anggun khawatir dengan putra bungsunya, meski di sana ada bi Darmi, pasti sang putra mengalami kesulitan untuk mengurus cucunya itu.


Walaupun setiap kali Nares pergi bekerja, pasti Zahwa akan dititipkan pada dirinya, dan setelah itu Nares akan membawa di pulang kerumahnya jika dia sudah pulang dari kantornya.


Namun tetap saja Nares keras kepala, ia ingin tinggal di rumahnya dan Zahra.


Dan untuk Zoya, ia sama sekali tidak keberatan, ia tahu posisi nya itu.


Ia hanyalah seorang istri yang kini tengah mengandung anak dari Nares, dan bukan orang yang ia cintai.


Jadi, sebab itu ia tidak mengikuti perintah sang mamah mertua untuk ikut tinggal di rumah yang ditempati oleh suaminya dan juga mendiang Zahra itu.


Zoya pun tersenyum melihat mobil suaminya itu yang masuk kedalam pagar itu.


Mobil Nares pun berhenti di pekarangan rumah keluarga Syahputra yang cukup luas itu.


"Kak," ucap Zoya, setelah suaminya sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


Sementara Nares ia hanya menanggapi istri keduanya itu dengan senyum kecil.


Meski suaminya itu tersenyum kecil ke arahnya, itu sudah membuat ia senang.


"Tunggu sebentar," ujar Nares.


"Mah aku titip Zahwa sebentar ya," ucap Nares pada sang mamah yang kebetulan baru keluar dari rumah, seraya menyerahkan putrinya yang kini sudah berusia tujuh bulan itu.


"Iya sayang." Sang mamah pun menggendong cucunya itu.


"Yasudah kami berangkat dulu ya mah," ucap Nares seraya menyalim punggung tangan mamahnya, disusul oleh Zoya ia pun melakukan hal yang sama.


"Ayo," ucapnya pada sang istri.


Meski sikap Nares yang datar, namun ia tetap mempertahankan dan memperdulikan kandungan Zoya, karena bagaimanapun di sana ada ketiga anaknya yang belum lahir.


Mereka pun masuk kedalam mobil, dan Nares pun mulai melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Semoga kalian selalu bahagia," lirih sang mamah, yang melihat mobil yang ditumpangi anak dan menantunya itu sudah hilang di balik pagar.


Mamah Anggun pun masuk kedalam dengan sang cucu yang berada di gendongannya.


°°°


Di rumah sakit.


Kini Nares dan Zoya sudah berada di rumah sakit.


Keduanya masuk kedalam gedung yang bercat putih itu.


Mereka pun duduk di kursi yang berada diluar ruangan dokter spesialis kandungan itu.


Dan beruntungnya mereka sudah mendaftar terlebih dahulu, sehingga mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.


Keduanya pun masuk kedalam ruangan dokter itu, setelah nama Zoya di panggil.


Setelah beberapa jam, pemeriksaan pada kandungan Zoya pun berakhir.


Nares dan Zoya pun pergi pulang ke kediaman keluarga Nares.


Selama di perjalanan tidak ada yang bersuara, hanya terdengar suara mobil saja lah.


Dikarenakan keduanya sibuk masing-masing, dengan Zoya yang sibuk melihat ke arah luar melalui jendela mobil, sementara Nares ia sibuk pada kemudinya itu.

__ADS_1


Hingga tiba saat Zoya melihat seorang penjual rujak ...


__ADS_2