
"Sebelum Nares menjawab pertanyaan mamah barusan. Nares ingin meminta maaf sama mamah, papah. Maaf, selama ini telah menyembunyikan sesuatu dari kalian," ucap Nares.
Mendengar ucapan yang dilontarkan putra bungsunya itu, membuat kening mamah Anggun dan pak Putra berkerut.
"Maksud kamu," ujar pak Putra.
"Nares ... "
°°°
Disisi lain, seorang pria yang sudah tak lagi muda, sedang melakukan panggilan dengan seseorang, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas, pria paruh baya itu meminta orang yang sedang ia ajak bicara telpon itu, untuk segera melakukan apa yang ia perintahkan.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus segera menjalankan apa yang aku perintahkan, kau mengerti!"
" ... "
"Bagus kalau begitu, aku tunggu kabar baik darimu."
Tut. Pria itupun mengakhiri sambungan teleponnya, setelah itu ia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
°°°
Dikediaman keluarga Syahputra.
Setelah menjelaskan dan menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya, Nares dan Zoya hanya diam dan saling menundukkan kepalanya.
Sedangkan kedua orang tua itu pun hanya diam, mereka terkejut mendengar pengakuan dari putra bungsunya itu.
Bagaimana tidak. Selama satu bulan ini putranya itu menyembunyikan hal yang sangat penting.
Namun mereka tak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada Nares dan Zoya. Apalagi setelah mendengar peruturan dari Nares, bahwa ia menikah lagi hanya karena kesalahpahaman saja.
Dan untuk Zoya. Mereka pun tak menyalahkan gadis itu, justru mereka merasa prihatin dan kasihan, lantaran gadis cantik bermata biru itu akan di jual oleh pamannya kepada seorang mucikari, meski pamannya hanya paman angkat, tapi itu sudah keterlaluan.
"Apa Zahra sudah tahu, bahwa kamu menikah lagi?" tanya sang mamah pada putra bungsunya itu.
Mendengar hal itu, membuat Nares menegakkan kepalanya, ia pun melihat pada sang mamah yang bertanya padanya.
"Sudah. Waktu kemarin malam, aku sudah memberitahukan padanya. Dan, tadi siang aku mengajak Zoya ke rumah, lantaran Zahra ingin bertemu dengannya," jawab Nares dengan pelan.
"Apa dia marah?" tanya mamah lagi.
Dan Nares pun menggelengkan kepalanya. "Justru dia menerima pernikahan ku mah, dan dia menerima Zoya sebagai madunya," ucapnya, seraya melihat ke arah Zoya, yang masih menundukkan kepalanya.
Dan mamah Anggun pun hanya bisa menghela nafasnya.
"Lalu, bagaimana dengan mertuamu. Apa mereka juga sudah tau?" tanya pak Putra.
__ADS_1
"Ayah mertua sudah tau, sementara ibu mertua belum tau," jawab Nares.
"Bagaimana responnya, setelah mendengar bahwa kamu menikah lagi?" tanyanya lagi.
"Awalnya ayah mertua kecewa setelah mendengar bahwa aku sudah menikah lagi. Tapi, setelah aku jelaskan dan ceritakan semuanya, ayah menerimanya. Karena ia pun merasa kasihan terhadap musibah yang menimpa Zoya."
Pak Putra pun menghela nafasnya. "Baiklah, jika istri dan mertua mu menerima pernikahan keduamu ini. Papah pun merestui pernikahan kalian, namun ingat pesan papah, kamu harus bersikap adil terhadap kedua istrimu, mengerti!" Pak Putra pun, berucap penuh penekanan.
"Iya pah Nares mengerti," ujarnya.
"Mamah pun merestui hubungan kalian, dan mamah harap nak Zoya bisa akur dengan Zahra, selaku istri pertama dari suamimu," ujar mamah Anggun.
"I- iya mah." Zoya pun mengangguk.
"Dan teruntuk kamu Nares, benar apa yang dikatakan oleh papah mu. Bersikap lah adil, sehingga kamu tidak menyakiti hati salah satu istrimu, mamah harap kamu tidak pernah menyakiti hati keduanya. Walaupun berat bagimu, mamah harap kamu bisa melewati semua ini. Ini lah konsekuensi jika memiliki dua seorang istri," jelas sang mamah, dan Nares pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Lalu kalian Zoya tinggal dimana?" tanya mamah Anggun pada Nares.
"Dia tinggal di apartemen Nares mah," jawab Nares, dan sang mamah pun menganggukkan kepalanya.
"Tadinya mamah ingin meminta Zoya untuk tinggal bersama. Mamah kesepian ditinggal kalian menikah," keluhnya.
"Sudahlah mah, kan masih ada papah," ujar sang suami.
"Isss papah ini, ya beda lah." Mamah Anggun pun cemberut, melihat itu membuat Nares dan Zoya tersenyum.
Satu Minggu kemudian.
Sudah satu Minggu, setelah Nares memberitahukan pernikahan sirinya dengan Zoya kepada istrinya dan juga keluarga nya.
Dan sudah tiga hari, ia menginap di apartemen. Karena Nares sudah memutuskan untuk membagi waktunya bersama kedua istrinya itu.
Ia akan tinggal bersama Zoya selama tiga hari, sementara dengan istri pertamanya Zahra, ia akan tinggal selama empat hari.
Dikarenakan ia memiliki Zahwa yang harus diperhatikan, dan Zoya pun tak masalah akan hal itu.
Dengan Nares mau membagi bersama dengannya saja sudah membuat ia senang.
Namun tetap ada yang mengganjal hatinya. Zoya merasa sudah menjadi wanita yang jahat, karena telah menjadi orang ketiga di rumah tangga orang.
Meskipun itu bukan keinginannya untuk menjadi istri kedua, bahkan ia sudah meminta Nares untuk menceraikan nya, namun apa yang ia dapat. Justru Nares enggan menceraikan dirinya, dengan alasan ia tak punya siapapun yang bisa melindungi dirinya.
Alasan Nares memang benar, ia sudah tak mempunyai siapapun di kota ini. Zoya pernah berpikir bahwa ia akan pergi dari kehidupan Nares dan Zahra, jika Nares tak mau menceraikan dirinya.
Ya, Zoya sudah memutuskan untuk pergi dari negara ini dan kehidupan Nares, ia tak perduli jika Nares akan marah padanya, ia sudah bertekad untuk pergi dari kehidupan sang suami.
Pagi ini, setelah Nares berpamitan untuk pergi berkerja. Zoya berencana akan pergi ke bandara tanpa sepengetahuan dari suaminya itu.
__ADS_1
Ia pun masuk kedalam taksi yang sudah ia pesan secara online, setelah itu mobil itu pun melaju dengan membelah jalanan.
Tanpa sepengetahuan darinya, ternyata ada seseorang yang sejak tadi mengintai dirinya.
Orang yang mengintai Zoya pun menghubungi seseorang.
"Halo tuan," ucapnya, saat sambungan telepon terhubung.
"Ya, ada apa?"
"Saya hanya ingin mengatakan, bahwa non Zoya pergi membawa koper. Ia pergi dengan mobil, sepertinya dia telah memesan taksi online," ujarnya.
°°°
Di kantor Nares.
"Apa!!!" pekik Nares.
"Bagaimana bisa, cepat ikuti dia. Jangan sampai lolos, ingat!"
" ... "
"Ya. Jangan lupa hubungi baku jika terjadi sesuatu."
" ... "
"Hmm." Nares pun menutup sambungan teleponnya.
Ya, orang yang tadi mengintai Zoya adalah suruhan dari Nares. Nares melakukan hal itu, karena tak ingin paman Zoya menyakiti istri kecilnya itu.
Jadi sebab itu, menyuruh seseorang untuk menjaga Zoya dari pria tua itu. Namun apa yang ia dapat, ia dihubungi dengan kabar, bahwa istri kecilnya itu pergi dengan membawa koper.
"Sial," umpatnya.
Nares pun kembali duduk di kursi kerjanya.
°°°
Disisi lain, Zoya yang kini sedang melihat jalanan dari jendela mobil.
Ia dikejutkan dengan adanya mobil yang menghalanginya tiba-tiba.
"Ada apa pak?" tanya Zoya pada Pak sopir itu.
***
Selamat membaca 💞
__ADS_1
Selamat tahun baru 2023 🎉🎊