
Di perjalanan tidak ada yang bersuara, hanya kegelisahan yang Nares rasakan.
Tak berselang lama, mobil pun sampai di pekarangan rumah sakit.
Nares pun keluar dari mobil, masih menggendong Zoya, ia pun masuk kedalam rumah sakit.
"Dokter, suster, tolong istri saya!!!" teriak Nares.
"Tuan mari ikut saya," ucap salah satu perawat, menyuruh Nares untuk ikut dengannya ke ruang IGD.
Nares dan Angel pun mengikuti perawat itu, saat sudah berada di sana, perawat itu pun menyuruh Nares untuk membaringkan tubuh Zoya ke atas hospital bad.
"Tuan letakkan istri anda di sana," ucap perawat itu seraya menunjuk ke arah hospital bad.
Dan Nares pun meletakan tubuh Zoya ke atas sana.
"Tuan, nona. Maaf, anda harus menunggu di luar," pinta perawat itu.
Mau tak mau, Nares dan Angel pun keluar dari ruang IGD.
Saat sudah berada di luar, Nares tak henti-hentinya cemas, ia selalu mondar-mandir seperti setrikaan.
Sementara Angel ia merotasi bola matanya, karena melihat tingkah Nares.
"Tuan duduk lah," ucap Angel, seraya menepuk kursi yang kosong di sebelah yang sedang ia duduki.
"Tidak terima kasih."
"Tapi anda membuat saya pusing, karena terus saja mondar-mandir, seperti setrikaan," gumam Angel yang tidak dapat di dengar oleh Nares.
Ceklek.
Pintu pun terbuka, dan muncullah dokter dan juga perawat tadi.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Nares tidak sabaran, begitupun dengan Angel ia langsung berdiri dari duduknya.
"Apakah anda suaminya?" tanya dokter sebelum menjawab pertanyaan dari Nares.
"Ya dokter," jawab Nares.
"Begini, istri anda tidak pa-pa. Hanya saja dia tidak boleh kelelahan atau kecapean, karena istri anda tengah hamil muda, dan itu sangat rawan keguguran, di usia kandungan yang masih sangat muda," jelas dokter itu.
"Apa?! Maksud dokter istri saya hamil?"
"Ya, apa anda belum tahu?" tanya dokter itu, dan Nares pun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban ia belum tahu bahwa Zoya kini tengah mengandung anaknya.
__ADS_1
"Mm ... Yasudah, saya harus periksa pasien ya lain," ucap dokter.
"Apa saya boleh menjenguknya?"
"Tentu saja boleh, kalau begitu saya permisi."
"Iya dok, terima kasih."
"Sama-sama."
Dokter itu pun pergi, sementara Nares ia masuk kedalam ruangan tempat dimana Zoya berada.
Sementara Angel, ia lebih memilih untuk menunggu di luar, karena ia tidak ingin mengganggu pasangan suami istri itu.
Di dalam, Nares pun menarik tirai yang menutupi tempat Zoya.
Di sana ia melihat istrinya itu masih belum sadarkan dari pingsannya.
Nares pun mendekat, setelah berada di dekat Zoya Nares menatap perut Zoya yang masih rata.
Ternyata yang dikatakan kakaknya benar, bahwa akhir-akhir ini, ia mengalami namanya kehamilan simpatik.
Dan kecurigaan Nares pun benar, bahwa istrinya itu tengah menyembunyikan sesuatu, pada saat ia menanyakan tentang kehamilan.
Nares pun memberanikan diri untuk mengusap perut Zoya yang masih rata itu.
Di saat Nares tengah mengusap perut Zoya, tak lama Zoya pun sadar dari pingsannya.
"Euggghh," lenguhan nya.
Mendengar lenguhan dari Zoya, Nares pun menjauhkan tangannya yang sedang mengusap itu, dari perut Zoya.
"Kakak, apa yang terjadi?" tanyanya, karena pada saat ia membuka mata, ia sudah berada di ruang serba putih itu.
Nares tak menjawab, ia hanya menatap Zoya dengan dingin, dan seakan menuntun sesuatu pada Zoya.
Zoya yang menyadari itu hanya bisa diam dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Zoya yakin, pasti suaminya itu sudah mengetahui bahwa ia kini tengah mengandung anak mereka.
"Kenapa?" tanya Nares dingin, setelah lama diam.
Zoya tak menjawab pertanyaan Nares, Zoya hanya bisa menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
"Jawab Zoy, kenapa kamu tidak bilang saat aku bertanya, apa kamu hamil?!"
__ADS_1
"M- maaf. Maaf, karena aku takut, aku ... Aku takut jika nanti kakak akan membawa bayi ku setelah aku lahir. Lagi pula, bukannya kakak masih belum mau mempunyai anak lagi, mangkanya kakak selalu mengeluarkannya di luar," jawab Zoya dengan lirih, tanpa berani melihat ke arah Nares.
Namun hal tidak terduga terjadi, Nares yang tadinya bersikap dingin padanya malah menjitak kening Zoya.
Tak. Nares pun menjitak kening Zoya setelah berada di hadapan istri kecilnya itu.
"Kakak," ucap Zoya cemberut, ia pun mendongkang melihat ke wajah Nares, seraya mengusap keningnya yang dijitak oleh suaminya itu.
"Apa? Lagian aku tidak habis pikir, kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti itu. Aku tidak sejahat itu, sehingga memisahkan ibu dari anaknya. Dan ya, aku juga minta maaf, mungkin kamu sakit hati, karena aku selalu melakukan itu."
"Maaf, aku hanya takut," lirih Zoya.
Nares pun memeluk Zoya, sementara Zoya ia kaget namun ia pun membalas pelukan dari Nares, dengan melingkarkan tangannya di pinggang Nares, serta membenamkan wajahnya di perut suaminya itu.
"Tidak. Harusnya aku yang meminta maaf, maafkan aku Zoy." Nares pun mengelus rambut coklat Zoya seraya mengecup pucuk kepala Zoya.
"Kenapa kakak yang meminta maaf?" tanya Zoya, setelah ia melepaskan pelukannya.
"Karena aku hampir mengucapkan kata perpisahan," jawab Nares.
"Memang itu akan terjadi, kan?" tanya Zoya.
"Tidak. Itu tidak akan," jawab Nares, seraya memegang pipi Zoya dengan kedua tangannya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin, anak kita kehilangan salah satu orang tuanya. Walaupun kita mungkin bisa memberikan kasih sayang, meski kita tidak bersama, tapi aku tidak ingin itu," jawabnya.
"Terima kasih," ucap Zoya, ia pun memeluk suaminya itu, dan membenamkan wajahnya di perut sang suami.
"Ekhm, maaf mengganggu. Apa kalian sudah selesai? Dokter bilang, Zoya boleh bisa pulang sekarang, dan saya juga sudah menebus obatnya," ucap Angel, seraya melihatkan satu plastik yang bersisi obat Zoya yang ada di tangannya.
"Ah begitu. Terima kasih, sudah menebus obat untuk Zoya," ujar Nares, setelah mereka sudah melepaskan pelukannya.
"Tak masalah, Zoya sudah ku anggap sebagai adikku sendiri."
"Kau bisa bahasa Indonesia?" tanya Nares, karena ia terkejut lantaran Angel fasih berbahasa Indonesia.
"Of course, Zoya yang mengajari," jawabnya.
"Yasudah ayo kita pulang." Nares pun membantu Zoya turun dari hospital bad nya.
Mereka pun keluar dari rumah sakit setelah membayar administrasi, dan pulang ke rumah Zoya, dengan Jo sebagai supir, dan Angel duduk di sampingnya.
Sementara kedua pasangan suami istri, duduk di bangku bagian belakang.
__ADS_1
Di perjalanan tak ada yang bersuara, Zoya yang bersandar di dada bidang suaminya, karena entah mengapa ia ingin sekali berdekatan dengan Nares, mungkin karena efek kehamilannya.
Sementara Nares, ia tengah ...