
"Ada apa?" tanyanya melihat tangannya di pegang oleh istrinya.
"Tak apa mas," jawabnya, karena ia tahu apa yang ingin dilakukan oleh suaminya.
"Tapi ... "
"Mas. Aku tidak masalah, jika kalian bercinta. Bukankah itu adalah kewajiban kamu sebagai seorang suami, untuk memberikan nafkah batin pada istrimu, dia pun sama sepertiku, istrimu."
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Nares ucapkan, dan Zahra pun mengangguk seraya tersenyum manis.
Kini keduanya memutuskan untuk tidur, dengan saling berpelukan.
...***...
Dua Minggu kemudian.
Sudah dua Minggu, semenjak Nares dan Zoya berlibur ke Bali.
Malam hari, tepatnya di rumah Zahra. Kini ia tengah membaringkan putri kecilnya di box bayi, setelah membaringkan putrinya, tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Ada apa mas?" tanya Zahra, ia tahu yang memeluknya dari belakang adalah suaminya.
"Aku rindu," bisik Nares ditelinga sang istri, lalu menghirup aroma leher sang istri.
Zahra pun berbalik menghadap suaminya itu, kemudian Zahra pun mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
Sementara Nares ia masih tetep memeluk pinggang Zahra.
Mereka pun saling menatap satu sama lain, sampai Nares menggendong Zahra dan menidurkan nya di atas ranjang mereka.
Dan pada saat mereka akan berciuman, tiba-tiba ponsel Nares berdering, tandanya ada yang menghubunginya.
"Mas, telepon mu berdering," ucap Zahra.
"Ck." Nares pun berdecak, ia pun mengambil ponselnya di atas nakas.
Ia pun melihat siapa yang menghubunginya, setelah dilihat, ternyata istri keduanya yang meneleponnya.
"Zoya," gumamnya tak dapat didengar.
Nares pun mengangkat teleponnya.
"Halo," ucapnya, setelah sambungan telepon terhubung.
" ... "
"Kamu?! kenapa bisa ponsel Zoya ada di tanganmu?"
" ... "
__ADS_1
"Ck. Awas, jika kamu berani membawanya akan saya beri pelajaran."
" ... "
"Apa!!!"
"Dimana kalian sekarang, saya akan ke sana."
" ... "
"Hm, tolong temani dia dulu, sebelum saya sampai, terima kasih."
Tut. Nares pun mengakhiri teleponnya, tanpa mendengar balasan dari orang yang menelponnya tersebut.
"Mas kenapa?" tanya Zahra, melihat suaminya itu mengambil sebuah jaket dan juga kunci mobilnya.
"Sayang maafkan mas, bukannya maksud mas mau menyakiti mu. Tapi in sangat penting, mas harus menjemput Zoya," jawab Nares.
"Memang nya ada apa dengan Zoya?" tanyanya masih setia duduk di atas ranjang.
"Zoya pingsan, jadi sebab itu mas harus pergi ke sana," jawabnya.
"Yasudah kalau begitu mas berangkat, kamu hati-hati di rumah. Assalamu'alaikum," ucap Nares lagi.
"Wa'alaikum salam," jawab Zahra setelah suaminya itu mencium keningnya.
Nares pun sudah pergi dari rumahnya, menuju ke tempat yang di mana Zoya berada.
Disisi lain, sebelum Nares mendapat kabar bahwa istri keduanya itu pingsan.
Zoya yang kini tengah menghadiri pesta ulang tahun salah satu seniornya, yang tak lain ialah Rara.
Orang yang benci kepadanya, tak ingin hadir, namun ia harus menghargai undangan dari seniornya itu. Lagi pula ia harus membuktikan bahwa ia tak pernah takut terhadap seniornya itu.
Zoya pun hadir bersama dengan kedua temannya, karena memang Rara mengundang beberapa junior di kampusnya belajar.
Rara mengadakan pesta ulang tahunnya di sebuah ballroom hotel.
Di sana Rara kini tengah merencanakan sesuatu untuk Zoya, ia berniat ingin menjebak Zoya dengan memberikan Zoya obat p***g di minuman yang nantinya akan di berikan pada Zoya.
Dia juga akan meminta bantuan kepada salah satu temannya, lebih tepatnya orang membayar temannya itu untuk melancarkan aksinya.
Ia berniat akan membuat Zoya malu, sehingga ia di keluarkan dari kampusnya, bahkan mungkin ia akan dibenci oleh Erik, setelah Erik tahu kelakuan wanita yang di cinta nya.
"Tamat riwayat mu, Zoya." Monolognya, ia pun menaruh obat p***g kedalam minuman.
"Pelayan, tolong berikan minuman ini pada wanita itu," pintanya sambil menunjuk ke arah Zoya yang kini tengah sendiri, karena kedua temannya itu entah pergi kemana.
"Baik nona." Pelayan itu pun mengambil minuman yang diberikan oleh Rara dan mulai memberikan nya pada Zoya.
__ADS_1
Di tempat semula, Rara yang melihat Zoya yang mengambil minuman dari pelayan itu pun tersenyum sinis, akhirnya sebentar lagi ia akan membuat musuhnya itu malu.
Namun senyuman itu luntur, lantaran ia melihat Erik yang sepertinya sengaja menyenggol Zoya sehingga minuman yang sudah ia beri obat itu tumpah ke lantai.
"Issss Erik, apa-apaan sih." Kesalnya, ia pun pergi dari tempat itu.
Disisi lain, Erik yang melihat Rara tengah memasukan sesuatu ke minuman dan menyuruh salah satu pelayan untuk mengantarkan minuman itu ke Zoya pun merasa curiga.
Ia pun mulai mendekati Zoya dan dengan sengaja menyenggol Zoya dan akhirnya minuman itu pun tumpah.
"Sorry, sorry. Aku gak sengaja," ucapnya pada Zoya.
"Oh gak pa-pa kak. Ya udah, kalau gitu aku ke sana dulu ya." Zoya pun pergi dari sana dan pergi ke tempat yang di mana kedua temannya itu berada, setelah mendapat kan anggukan dari Erik.
Setelah melihat Zoya sudah bersama kedua temannya, ia pun berencana untuk berbicara dengan Rara.
"Ikut gua," ucapnya setelah berada di hadapan Rara, Erik pun menarik lengan Rara dan membawanya ke tempat yang lumayan jauh dari tempat diadakannya pesta.
"Erik apa-apaan sih. Sakit tau," ujarnya setelah mereka sampai di tempat yang dituju Erik.
"Maksud lu apa?" tanya Erik tanpa basa basi.
"Maksud kamu apa sih, aku gak ngerti," jawabnya.
"Gak usah banyak ngeles. Gua tau, kalau lu udah masukin sesuatu ke minuman nya Zoya, kan."
"Kalau ia kenapa? Hah?!"
"Cih, lu kenapa selalu jahat sama Zoya? Emang salah dia apa?" tanya Erik seraya berdecih.
"Kamu mau tau? Karena aku suka sama kamu Erik!! Tapi kamu gak pernah menganggap ku!" teriak Rara.
"Gua suka sama siapapun itu bukan urusan lu. Dan kalau pun orang lain yang gua suka, bukan Zoya, lu gak bisa bersikap seenaknya. Dan asal lu tahu, dengan lu lakuin ini, semakin gua gak suka sama lu," jelasnya.
"Dan Lu pikir, gua suka sama orang jahat kaya lu!" Jelasnya lagi penuh penekanan.
Setelah mengatakan itu, Erik pun pergi meninggalkan Rara seorang diri.
Di sana Rara berteriak tidak jelas setelah mendengar penjelasan dari Erik, bahwa dia tidak suka terhadap dirinya.
"Akhhh," teriaknya.
"Lagian apa hebatnya wanita tidak tau diri itu, dan kenapa juga Erik suka sama orang yang sudah menikah."
Yaps, Rara memang sudah tau bahwa Zoya sudah menikah. Ia pernah mendengar percakapan antara Zoya dan kedua temannya, ditambah ia melihat Zoya sering di jemput oleh seorang pria tampan.
Mendengar Zoya sudah menikah, membuat Rara bahagia...
***
__ADS_1
Selamat membaca π
Terimakasih π