Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 38


__ADS_3

"Mas tahu, mas salah. Tapi mas tidak bisa berbuat apa-apa," ucapnya lagi.


"Siapa namanya?" tanya Zahra, setelah melepaskan pelukan dari suaminya itu.


"Zoya."


"Apa selama kamu pulang larut, bahkan sering tidur di apartemen, itu sebenarnya kamu ... kamu bersama dengan maduku? Yakni istri kedua mu?" tanya Zahra, dan Nares pun hanya menganggukkan kepalanya yang menunduk itu.


"Maaf ... maaf, mas telah membohongi mu. Bukan bermaksud mas membohongimu, namun mas belum siap melihat kamu menangis dan kecewa seperti sekarang ini."


"Jika kamu mau, mas akan menceraikan dirinya," ucap Nares.


"Apa yang kamu katakan mas? Jangan bicara seperti itu, dengan kamu bicara seperti itu, seolah-olah aku ini orang yang jahat. Meskipun aku kecewa dan sakit mendengar kamu memiliki istri lagi, namun aku tak sejahat itu, aku akan berusaha menerima maduku itu mas. Jadi aku mohon, jangan bicara seperti itu lagi."


"Sayang maafkan mas, bukan maksud mas berkata seperti itu. Mas hanya tidak ingin membuat mu semakin sakit hati, tapi jika kamu meminta seperti itu. Baik, mas tak akan bicara seperti itu lagi."


"Temukan aku dengannya mas, aku ingin bertemu dengan maduku itu," ujar Zahra dengan bibir gemetar.


"Kau ingin bertemu dengannya? Kau yakin?" tanya Nares, dan diangguki oleh Zahra.


"Baik, mas akan mempertemukan kalian berdua. Nanti mas akan bawa dia kemari," ujarnya.


°°°


Keesokan harinya, waktu menunjukkan pukul jam dua belas siang. Nares berencana ingin menjemput Zoya dari kampusnya, namun pada saat ia sampai, ia melihat Zoya bersama dengan pria yang menurutnya masih muda.


Entah mengapa, melihat Zoya bersama dengan seorang pria, Nares merasa marah dan kesal.


Ia pun buru-buru melajukan mobilnya ke hadapan Zoya, yang kebetulan kini mereka masih ada di dalam lingkungan kampus, yakni tempat parkir.


Disisi lain, Zoya yang hendak pergi ke halte bus. Karena memang ia sering pulang dengan menaiki bus, dikejutkan dengan kedatangan Erik sang ketua himpunan sekaligus senior nya.


"Hey, Zoya. Apa kau ingin pulang? Biar aku antar ya?" Erik pun mengajak Zoya untuk pulang bersama.


"Maaf, aku akan pulang dengan bus atau naik taksi online saja," tolak Zoya.


"Tapi kenapa kamu tak ingin aku mengantarkan kamu pulang? Aku dengar, kamu tinggal di apartemen xxx, kebetulan rumahku juga searah."


"Maaf, tapi aku tak enak hati. Kau tau aku ini sudah menikah," ujar Zoya, dan Erik pun menganggukkan kepalanya.


Ya, seluruh kampus atau lebih tepatnya teman kelas Zoya sudah tau bahwa ia sudah menikah.

__ADS_1


Karena Zoya yang tak ingin menutupi statusnya. Menurutnya, jika ia menutupi statusnya yang sudah menikah pasti akan ribet.


Baru juga Erik akan berucap, terhalang oleh suara yang memanggil Zoya.


"Zoya," panggil Nares pada istri kecilnya itu.


Zoya dan Erik sama-sama melihat ke arah sumber suara.


"Kakak," gumam Zoya.


Sementara Erik malah menilai Nares, ia memikirkan apakah pria dewasa ini adalah suami Zoya, pikirnya.


Erik menilai Nares, yang terlihat masih muda, Nares memakai baju kemeja yang lengannya digulung, berwarna hitam.


Dan celana bahan kotak-kotak yang berwarna abu-abu tua, serta sepatu sneaker.


Ya, Nares lebih suka memakai kemeja tanpa jas tak seperti yang lainnya.


Nares menghampiri Zoya, kemudian ia merangkul pinggang sang istri di depan Erik.


Dan hal itu membuat Zoya bengong, tak biasanya Nares bersikap demikian.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Zoya gugup tak karuan. "Ah, i- iya." Zoya pun menjawab pertanyaan dari Nares dengan gugup.


Pasalnya kini mereka tengah menjadi tontonan orang, bahkan bukan hanya Erik tapi juga semua mahasiswa yang hendak pulang.


"Apa kamu tidak ingin mengenalkan ku dengan temanmu ini?" tanya Nares lagi.


"A- ah, ya. Kak kenalkan, dia kak Erik. Senior Zoya sekaligus ketua himpunan mahasiswa." Zoya pun mengenalkan Erik pada Nares, begitupun sebaliknya.


"Dan ya, kak Erik. Kenalan dia kak Nares, suami Zoya," ucapnya.


"Nares," ucap Nares, seraya mengulurkan tangannya.


"Erik." Erik pun membalas uluran tangan Nares.


"Yasudah, sebaiknya kita pulang ya. Kami permisi dulu," ucap Nares pada Erik, dan Erik pun hanya menganggukkan kepalanya.


Nares pun membawa Zoya masuk kedalam mobilnya, tanpa melepaskan tangannya yang memegang pinggang Zoya.


Didalam mobil tak ada yang bersuara, sampai akhirnya mobil yang dikendarai oleh Nares, masuk kedalam gang perumahan.

__ADS_1


"Kita mau kemana kak?" tanya Zoya, setelah mobil yang ditumpanginya masuk kedalam perumahan yang cukup elit itu.


"Nanti juga kamu akan tahu," jawabnya.


Zoya pun tak lagi bersuara, sampai mobil yang ditumpanginya masuk kedalam rumah minimalis namun cukup luas itu.


"Ayo turun," ajak Nares, setelah ia mematikan mesin mobilnya di halaman rumahnya.


Zoya pun turun dari mobil, dan mengikuti Nares dari belakang.


"Assalamu'alaikum," ucap Nares, ketika mereka sudah berada didalam rumah.


"Wa'alaikum salam," jawab seorang wanita cantik yang tak lain ialah Zahra, istri pertama Nares.


Zahra pun menuruni anak tangga, seraya menggendong Zahwa putrinya.


"Kamu udah pulang mas," ujarnya, seraya menyalim punggung tangan suaminya.


"Iya." Nares pun membalas dengan mencium kening Zahra, serta mencium pipi gembul anaknya itu.


Melihat itu, Zoya dapat menyimpulkan bahwa kini ia tengah berada di rumah suaminya dengan istri pertamanya.


Dan ia dapat melihat istri pertama suaminya itu, sungguh sangat cantik dan anggun. Meski hanya menggunakan daster modern panjang dan kerudung instan, namun tak menghilangkan paras cantiknya.


"Apa dia ... " ujar Zahra pada sang suami, sambil melirik ke arah Zoya, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka berdua.


Melihat itu membuat Nares menoleh kebelakang, ia menepuk keningnya dengan satu tangan, lantaran satu tangannya ia gunakan untuk menggendong Zahwa.


Kenapa ia bisa lupa, bahwa ia juga membawa Zoya kerumahnya, lantaran ingin mengenalkan Zoya pada istri pertamanya, Zahra.


"Ah maaf, aku lupa. Aku pernah bilang kan sama kamu, bahwa aku telah menikah lagi. Dan kamu ingin bertemu dengannya, jadi aku membawanya supaya kamu bisa mengenalnya," ucap Nares.


"Iya mas." Zahra pun tersenyum kearah Zoya, yang menundukkan kepalanya, ia menatap Zoya, dilihatnya Zoya yang cantik.


"Kenapa menunduk?" tanya Zahra pada Zoya, dan hal itu membuat Zoya mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Zahra, yang ternyata sudah berada di hadapannya.


"A- assalamu'alaikum," ucap Zoya dengan gugup.


"Wa'alaikum salam," jawab Zahra, ia pun langsung memeluk madunya itu, membuat Zoya terkejut. Namun tak lama kemudian Zoya pun membalas pelukannya.


"Siapa namamu?" tanya Zahra.

__ADS_1


__ADS_2