
Dengan Zoya yang memakai dress piyama berbahan satin berwarna maroon. Sedangkan Nares hanya memakai kaos oblong polos berwarna hitam dan juga celana pendek warna hitam.
"Apakah mba Zahra tidak akan marah? Jika kakak tidak pulang? Bahkan hari weekend kakak tidak pulang?" pertanyaan bertubi-tubi pun dilontarkan Zoya.
"Zahra tidak akan marah, aku terpaksa bohong padanya, jika aku akan pergi ke luar kota untuk menemui klien," jawabnya.
"Pasti ini semua gara-gara aku kakak sampai berbohong," ujarnya setelah bangkit dari posisi rebahan, Zoya pun duduk sambil menundukkan wajahnya.
"Hey no. Ini bukan salah mu, aku memang ada pekerjaan di luar kota, tapi aku hanya menyuruh asisten ku untuk mengurusnya," ucap Nares, karena ia tak mau sampai Zoya merasa bersalah, Nares pun memegang dagu Zoya dengan jari telunjuknya agar Zoya bisa melihat wajahnya.
"Ya sama aja, kakak tidak pergi gara-gara aku. Apa keluarga kakak gak curiga, sedangkan itu pekerjaan perusahaan keluarga kakak, otomatis keluarga kakak tau dong, kalau kakak tidak ke luar kota?"
"Kamu tenang saja, aku sudah bilang sama kakak ku, untuk tidak bilang kalau sebenarnya aku tidak pergi ke luar kota."
"Jadi maksud kakak, kak Jeffry sudah tau, kalau kita sudah menikah?" tanya Zoya, Zoya sebenarnya sudah tau nama dari keluarga Nares, bahkan dia sudah bertemu dengan kakaknya Nares, yaitu Jeffry.
Karena waktu itu ia tak sengaja bertemu di perusahaan Syahputra company, karena pada saat itu Zoya sedang menunggu Nares sedang menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, karena menjemputnya dari kampus.
Dia bertemu dengan Jeffry pada saat ia dan Nares ingin pulang ke apartemennya, pada saat itu ia hanya menunggu didalam mobil, sedangkan Nares menemui kakaknya yang berdiri di samping mobil milik Nares.
Dan pada saat itu, ia diberi tahu oleh Nares, bahwasanya orang yang menemui suaminya itu adalah kakak dari Nares.
"Iya," jawab Nares.
"Apa dia tidak marah?"
"Tidak, dia tahu ketidakberdayaan kita untuk menolak pernikahan ini Zoya."
"Tapi seharusnya kakak menceraikan aku, ketika pernikahan kita sudah memasuki usia satu Minggu, tapi kenapa kakak masih ingin mempertahankan aku," lirih Zoya.
"Jangan pernah mengatakan perceraian Zoya! Berapa kali sudah aku bilang!" tekan Nares. Ya karena Zoya selalu saja mengatakan perceraian, karena ia merasa berdosa dan bersalah karena telah hadir di keluarga kecil suaminya itu.
Bahkan Nares harus bersikap perhatian padanya, tapi apa yang selalu Nares katakan jika ia membahas mengenai perceraian? Nares selalu mengatakan bahwa ia tak akan mencarikan dirinya.
"Tapi aku merasa berdosa kak, karena sudah mengganggu rumah tangga kakak dan mba Zahra," lirih Zoya.
__ADS_1
"Huh, sudahlah. Ini sudah takdir yang harus kita jalani. Lagi pula, jika aku menceraikan dirimu, maka apa yang akan kamu lakukan, dan dimana kamu akan tinggal, sementara kamu saja tidak bisa bekerja. Ditambah lagi dengan kehadiran paman angkat mu, apa kamu jamin dia tidak akan mengganggu kamu lagi."
Mendengar penjelasan dari Nares, Zoya pun hanya bisa menundukkan kepalanya, ia sadar di dunia ini ia tak memiliki siapapun, hanya Nares lah yang ia miliki.
"Sudahlah, sebaiknya kita tidur. Ini sudah malam," ucap Nares.
"Baiklah, tapi gendong," pinta Zoya seraya merentangkan tangannya untuk meminta Nares menggendongnya.
Nares pun menggendong Zoya ala baby koala, sudah tak ada malu lagi untuk Zoya meminta Nares untuk menggendongnya.
Karena semenjak Nares, perhatian dan sering ke apartemennya, Nares selalu menuruti apa yang ia pinta. Awalnya Zoya hanya iseng, namun Nares malah menganggap nya beneran.
Jadi sebab itu, Zoya tak malu dan sungkan lagi meminta Nares untuk menggendongnya atau menyuapinya makan.
Dan Nares, ia sama sekali tak keberatan, ia menganggap permintaan Zoya itu layaknya seorang adik yang meminta pada sang kakak.
Dan Nares tahu, bahwa Zoya adalah anak yang dimanja oleh orang tuanya ketika masih hidup.
Ketika sudah berada didalam kamar, Nares pun membaringkan Zoya di atas ranjang, setelah itu ia menyelimuti Zoya sampai batas dada Zoya, kemudian ia pun naik ke ranjang dan tidur di sebelah Zoya.
Disela-sela Nares membelai punggung Zoya, ia teringat, bahwasanya ia belum mengabari istri pertamanya itu, biasanya ia akan selalu mengabari Zahra ketika ia sudah sampai ditempat tujuan.
Perlahan Nares pun memindahkan kepala Zoya yang sedang tidur berbantalkan lengannya ke bantal, kemudian ia perlahan turun dari ranjang dan mengambil ponselnya di atas nakas.
Setelah itu Nares pergi ke arah balkon untuk mengabari Zahra, ia tahu bukan waktu yang tepat untuk menghubungi seseorang di jam segini, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Namun Nares tak peduli, ia tetap menghubungi istri pertamanya itu, agar Zahra tak terlalu khawatir akan dirinya.
Tak lama sambungan telepon pun terhubung.
"Halo assalamu'alaikum," ucap Nares.
" ... "
"Ara, maafkan mas ya. Mas belum sempat menghubungi mu tadi, mas tadi banyak sekali pekerjaan, sehingga baru sekarang mas menghubungi mu."
__ADS_1
" ... "
"Iya, bagaimana dengan Zahwa, apa dia baik-baik saja?"
" ... "
"Syukurlah. Yasudah kalau begitu, kamu tidur lagi ya, maaf mas sudah mengganggu tidurmu."
" ... "
"Iya-iya Humairah ku, mas akan makan dengan banyak, yasudah kalau begitu assalamu'alaikum."
" ... "
Klik. Telepon pun dimatikan oleh Nares, ia pun kembali kedalam kamarnya, dan kembali tidur, namun bukannya tidur di ranjang, ia malah memilih tidur di sofa.
Itulah kebiasaan yang dilakukan Nares setiap menginap di apartemen, dan setelah memeluk Zoya sampai tertidur, ia akan pindah ke sofa untuk tidur.
Pagi hari tiba, karena hari ini adalah hari Sabtu. Maka Nares berencana mengajak jalan Zoya selama sehari penuh.
Kali ini tempat yang dipilih Nares adalah pantai, mereka pun memakai pakaian simpel.
Seperti Zoya yang hanya memakai dress bermotif bunga-bunga, dengan tali sepegeti dan panjangnya di atas lutut, sedangkan Nares hanya memakai kaos putih polos dengan celana pendek berwarna cream.
Sebenarnya Nares keberatan dengan pakaian yang Zoya pakai, bagaimana tidak baju itu kerahnya berbentuk v dan ditambah sedikit rendah di bagian dadanya, sehingga memperlihatkan sedikit belahan dada Zoya.
Namun Zoya tetap kekeuh ingin memakai baju itu, dan Nares pun hanya pasrah mengikuti kemauan Zoya, daripada nantinya Zoya akan marah padanya, bisa-bisa istrinya itu akan marah seharian pada dirinya.
Ditambah lagi Zoya susah untuk di bujuk, ketika Zoya sudah marah atau sedang ngambek.
***
Happy reading π
Jangan lupa like, komen, vote, dan gift ππ
__ADS_1