Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 39


__ADS_3

"Siapa namamu?" tanya Zahra, masih dengan senyum yang terus terukir di bibirnya, meski hatinya rapuh, melihat suaminya membawa wanita lain, yang tak lain ialah madunya sendiri.


Meski ini keinginan dirinya sendiri, untuk dipertemukan dengan istri kedua dari suaminya itu.


"Z-zoya," jawab Zoya dengan gugup.


"Hey tak usah gugup," ucap Zahra dan Zoya pun mengangguk.


"Kau sangat cantik sekali, apalagi matamu. Sangat indah," puji Zahra, pada madunya itu.


"Lebih baik kita ke dapur yuk, menyiapkan makanan untuk makan siang," ucap Zahra lagi, seraya mengajak Zoya untuk ke dapur.


"Yasudah, kalau begitu aku yang akan menjaga Zahwa," ujar Nares.


"Iya mas." Zahra pun pergi ke dapur, dan diikuti oleh Zoya.


Sementara Nares ia masih di ruang tamu sambil mengajak putrinya itu bermain.


Di dapur, Zahra dan Zoya kini tengah menyiapkan makanan untuk ditata di atas meja makan.


"Zoya, apa aku boleh bertanya?" tanya Zahra, setelah menaruh sayur asem di atas meja.


"Boleh, memang nya kakak mau bertanya apa."


"Jangan panggil kakak, panggil saja mbak."


"Baik."


"Aku hanya ingin bertanya, kamu memiliki darah campuran ya?" tanya Zahra, meski ia sudah tau tentang Zoya dari suaminya, namun Zahra masih ingin bertanya pada Zoya, itung-itung bisa membuat mereka akrab.


"Iya mbak, aku memang memiliki keturunan Eropa," jawab Zoya.


"Pantas saja, kamu seperti orang luar. Apalagi matamu yang indah berwarna biru, sungguh sangat cantik."


"Mbak bisa aja, mba pun cantik. Mangkanya kak Nares cinta banget sama mbak," ujar Zoya, dan Zahra hanya tersenyum.


"Mm, aku minta maaf mbak," ucap Zoya dengan menundukkan kepalanya.


"Minta maaf, untuk ... "


"Untuk semuanya. Aku minta maaf, karena sudah berani masuk kedalam rumah tangga mbak dan juga kak Nares, seharusnya aku tidak masuk kedalam rumah tangga kalian. Aku merasa berdosa," lirih Zoya.

__ADS_1


"Hey sudahlah, ini semua sudah menjadi takdir. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk memiliki seorang madu," ujar Zahra dengan senyuman, meski hatinya sakit mengatakan hal itu, namun sebisa mungkin ia akan menerima.


"Tapi gara-gara aku mbak jadi sakit hati, jika mbak menginginkan aku untuk berpisah dengan kak Nares, aku siap kok." Zoya pun merasakan sakit ketika mengatakan bahwa ia siap untuk berpisah dengan Nares, padahal hatinya tak siap jika ia harus berpisah dengan orang yang ia cintai.


Ya, Zoya memang mencintai Nares sejak pandangan pertama. Namun ia tak boleh egois, ia harus rela jika istri pertama dari suaminya itu, meminta dia pergi dari kehidupan Nares.


Siap tak siap, maka ia harus siap pergi dan berpisah dari suaminya yang ia cintai.


"Hey, apa yang kau katakan. Aku tidak mungkin menyuruh suami kita untuk menceraikan kamu, sudahlah. Aku sudah menganggap kamu sebagai adikku, aku tidak masalah jika harus berbagi suami denganmu," ucap Zahra, dengan bibir gemetar, namun ia berusaha untuk tidak terlihat oleh Zoya.


Mendengar hal itu membuat Zoya menangis, kemudian ia memeluk Zahra dengan erat.


"Maafkan aku mbak, maaf," lirih Zoya.


"Husstt, sudah jangan menangis. Nanti cantiknya ilang loh," ujarnya setelah melepaskan pelukan dari Zoya, kemudian Zahra menghapus air mata yang mengalir di pipi Zoya.


"Terima kasih," ucap Zoya, seraya tersenyum.


"Yasudah, sebaiknya kita panggil suami kita."


Perkataan yang dilontarkan oleh Zahra membuat Zoya merasa tak enak hati, karena sebutan ' suami kita. '


Mereka pun pergi ke ruang tamu, setelah sampai di sana, keduanya melihat pemandangan yang menyejukkan.


"Astaga, kelakuan ayah anak ini sama saja," ucap Zahra, ia pun membangunkan Nares, dan mengangkat Zahwa untuk ia gendong dalam pelukannya.


"Mas bangun." Zahra pun membangunkan suaminya itu dengan menggoyangkan bahu suaminya.


Sementara satu tangannya ia gunakan untuk menggendong putrinya itu. Tak lama, Nares pun bangun dari tidurnya.


"Oh maafkan mas, mas ketiduran," ucapnya dengan suara serak khas orang yang bangun tidur.


"Tak apa, yasudah sebaiknya kita makan. Mas sama Zoya duluan saja, aku mau menidurkan Zahwa di kamar dulu," ujar Zahra.


Ia pun langsung menaiki tangga, menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Sementara Nares dan Zoya masih di ruang tamu.


"Ayo." Nares pun mengajak istri kecilnya itu untuk pergi ke dapur, dan Zoya pun mengikuti langkah Nares dari belakang.


Keduanya pun sampai di meja makan, Nares pun menyuruh Zoya untuk duduk di kursi.


"Duduklah," pintanya.

__ADS_1


"Iya mas." Zoya pun duduk di kursi yang sebelah kiri, sementara Nares duduk di kursi bagian tengah.


Tak lama Zahra pun ikut bergabung bersama mereka, ia duduk di kursi sebelah kanan berhadapan dengan Zoya.


Sebenarnya ketiganya merasa canggung berada di posisi ini, namun bagaimana lagi inilah takdir yang harus mereka terima.


Zahra pun mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya itu, dan Nares pun menerimanya dengan senyuman yang indah dari bibirnya.


Dan hal itupun tak luput dari penglihatan Zoya, ia melihat interaksi antara keduanya.


"Mereka sangat romantis, huh. Apa aku bisa menjalankan semua ini, aku merasa bersalah telah mencintai suami orang. Meski ia juga sudah menjadi suamiku," batin Zoya.


"Zoya, silahkan diambil makanannya," ucap Zahra.


"Ah iya." Zoya pun mengambil makanan untuk dirinya.


Mereka bertiga pun makan bersama, tak ada yang bersuara hanya ada dentingan yang terdengar dari sendok dan piring.


°°°


Setelah membahas mengenai hubungan mereka bertiga, Nares membawa Zoya untuk menemui kedua orangtuanya.


Mau bagaimana ia tak bisa terus menyembunyikan dari kedua orang yang telah melahirkannya itu.


Awalnya Zoya menolak, dengan alasan nanti saja bertemu dengan kedua orang tua suaminya itu.


Namun Nares memaksanya, dan mau tak mau ia pun menuruti permintaan suaminya itu.


Dan disinilah mereka berada, di ruang yang megah berlantai dua.


Mereka berdua pun turun dari mobilnya, kemudian Nares menggandeng tangan istri kecilnya itu. Karena ia tahu istri sirinya itu, saat ini tengah gugup.


"Assalamu'alaikum," ucap Nares, setelah berada di ruang keluarga yang dimana kedua orang tuanya sedang duduk santai di sofa.


"Wa'alaikum salam," jawab kedua orang tua Nares.


"Siapa dia res?" tanya mamah Anggun pada putra bungsunya itu.


"Mamah ini bagaimana, seharusnya di persilahkan duduk dulu, sebelum bertanya." Pak Putra pun bersuara.


"Ah ya. Maaf, mamah lupa. Silahkan duduk," ujar sang mamah.

__ADS_1


Nares dan Zoya pun duduk di sofa dengan berhadapan dengan mamah dan papah nya Nares.


__ADS_2