
Halo 👋
Selamat pagi guys ... Bagaimana kabar kalian? Semoga sehat selalu 🤗
Aku cuman mau bilang, klo aku menggunakan tokoh Zoya itu sebagai pemeran utama, begitupun dengan Nares.
Karena itu di setiap cerita yg aku bikin lebih banyak tentang pemeran utama ... Jadi, aku berharap mohon di maklumi 🙏
Thank you 😘
Love you all ❤️
Selamat membaca guys😚🌹
...***...
Zoya pun berpikir, apa yang harus ia lakukan setelah liburan semesternya berakhir. Haruskah ia kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliahnya? Ataukah ia harus rela mengubur impiannya kembali? Entahlah.
Memikirkan hal itu, berhasil membuat mood Zoya berantakan. Ia pun mengakhiri drama yang ia tonton, padahal belum selesai, setelah itu ia pun menutup laptopnya.
Yaps. Hanya laptop dan juga ponsel pemberian dari Nares yang ia bawa, selebihnya ia tinggalkan di apartemen.
Tak ingin terus terlarut dalam pikirannya, Zoya pun memutuskan untuk tidur.
°°°
Indonesia.
Setelah makan siang dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya, Nares dan Zahra pun memutuskan untuk pulang, lantaran sang putri sudah mengantuk.
Di rumahnya, setelah menidurkan putrinya, Zahra pun turun menghampiri suaminya yang tengah duduk di teras depan rumah.
Tak lupa ia membawa satu cangkir kopi, dan juga satu piring kue.
"Kopi nya, mas." Zahra pun memberikan kopi ke suaminya dan menaruh satu piring kue ke atas meja.
Di sana ia pun ikut duduk di kursi samping suaminya, yang hanya terhalang meja.
"Mas, kamu belum menjawab pertanyaan ku. Dimana Zoya?" tanya Zahra.
Nares pun menghela nafasnya dalam-dalam, lalu ia buang dengan pelan. "Huh. Zoya ... Zoya pergi," jawab Nares dengan pelan.
"Apa? Tapi pergi kemana?"
"Entah."
"Jadi kamu tidak tahu kemana perginya Zoya?" tanya Zahra, dan Nares pun mengangguk.
"Astaga!! Apa yang kamu lakukan, mas."
__ADS_1
"Kamu khawatir?" tanya Nares.
"Tentu saja aku khawatir," jawab Zahra.
"Aku bingung terbuat apa hati kamu itu, sampai kamu khawatir terhadap istri kedua dari suamimu. Mungkin kalau orang lain ada di posisi mu, maka dia akan senang karena sudah tidak ada penghalang lagi bagi rumah tangganya, tapi justru kamu malah khawatir terhadap madumu itu."
"Lalu menurut mas, aku harus senang seperti orang lain? Aku tidak sejahat itu, iya aku akui aku marah dan cemburu setiap kali mas bersama Zoya. Tapi aku selalu tekankan bahwa ini ... Ini adalah takdir yang harus aku hadapi."
Nares pun memegang tangan Zahra, dikecupnya pugung tangan itu, seraya berucap. "Terima kasih ... Terima kasih, karena telah sabar selama ini."
"Iya mas. Lalu apa mas tidak ada niatan untuk mencari dimana keberadaan Zoya?"
"Untuk sekarang ini tidak."
"Kenapa?"
"Zoya sendiri yang meminta untuk pergi," jawab Nares, seraya menyerahkan surat dari Zoya kepada istri pertamanya itu.
Zahra pun menerima surat itu dan membacanya. Setelah membaca surat dari Zoya, Zahra hanya diam.
Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, senang atau sedih. Senang, karena dengan begitu rumah tangganya akan seperti dahulu lagi sebelum Zoya datang di kehidupan rumah tangganya.
Ataukah harus sedih, karena bagaimanapun Zoya adalah madunya, istri dari suaminya, apalagi Zoya adalah anak yatim piatu, terlebih lagi dia sudah menganggap nya sebagai adiknya sendiri. Meski terkadang Zahra merasa cemburu dengan kehadiran Zoya.
"Apa mas yakin tidak mau mencarinya?" tanya Zahra, setelah ia lama diam.
"Entah. Mungkin nanti, kalau untuk sekarang, mas ingin membiarkan Zoya tenang lebih dahulu," jawabnya.
°°°
Di saat ia tengah menaruh menaruh piring yang berisi ayam goreng di atas meja makan, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya dari arah belakang.
Zahra tahu siapa yang melakukannya, siapa lagi kalau bukan Nares, suaminya. Kegiatan itu sudah menjadi rutinitas setiap kali ia menyiapkan makanan atau ketika ia sedang masak.
Pasti suaminya itu akan mengganggunya dengan cara memeluknya dari belakang.
"Pagi," ucap Nares, seraya menghirup leher Zahra yang berbalut dengan jilbab.
"Pagi." Zahra pun membalas sapaan dari sang suami, seraya melihat wajah suaminya.
Cup. Satu kecupan diberikan oleh Nares di bibir manis berwarna pink sang istri.
"Mas," tegur Zahra.
"Hehehe maaf."
Nares pun duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Sementara Zahra. Seperti biasa, ia mengambilkan Nares makanan, setelah mengambilkan Nares makanan, barulah ia mengambil untuk dirinya.
__ADS_1
Mereka berdua pun makan dengan tenang.
°°°
Los Angeles- Amerika.
Tidak terasa waktu begitu cepat sudah tiga hari dia berada di Amerika, tepatnya di Los Angeles- .
Meski jarak antara dirinya dan Nares terbentang jauh antara puluhan kilometer, dan perbedaan waktu antara Jakarta dan Los Angeles- , mencapai 15 jam.
Namun tak mampu mengurai rasa rindu yang dirasakan oleh Zoya kepada suami sirinya itu.
Zoya akui dirinya masih belum bisa melupakan Nares, bahkan ia masih sangat mencintai suaminya itu.
Dan pagi ini, Zoya akan mulai bekerja paruh waktu di salah satu cafe yang ada di sana.
Ya, Zoya memutuskan untuk bekerja, meski hanya paruh waktu. Karena ia tak mungkin berdiam diri, sementara banyak keperluan yang harus ia beli.
Tak mungkin bukan, ia terus meminta bantuan terhadap teman, yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, siapa lagi kalau bukan Angel.
Dan kali ini Zoya pun pergi ke tempat kerja yang sudah di rekomendasikan oleh Angel.
Setelah sampai di tempat kerjanya, Zoya pun langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian seragam khas seorang pelayan kebanyakan.
Setelah itu, ia pun mulai menjalankan tugasnya sebagai pelayan yang mencatat dan mengantarkan pesanan ke meja pengunjung.
Seperti itulah hari-hari yang di lewati Zoya selama tiga hari belakangan ini.
°°°
Indonesia.
Jika di LA pagi hari, lain lagi di Jakarta. Di Jakarta kini waktu sudah menunjukkan malam hari.
Tepat pukul sebelas malam, Nares terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi, namun entah apa yang ia impikan.
Ia melihat ke arah samping, yang dimana istrinya itu terlelap dalam tidurnya dengan damai.
Di pandangnya wajah damai Zahra, lalu ia pun membelai pipi Zahra dengan pelan, dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah apa yang ada di pikiran Nares, sehingga ia melihat istrinya itu dengan tatapan yang begitu dalam, sehingga membuat matanya berkaca-kaca.
"Aku harap mimpi itu tidak benar," lirih Nares.
Ia pun melepaskan tangannya yang membelai pipi Zahra, karena melihat istrinya itu seakan terusik dari tidurnya.
Dilihatnya jam dinding, yang masih menunjukkan pukul sebelas malam.
Padahal baru beberapa menit Nares tidur, namun ia terbangun karena mimpinya.
__ADS_1
Nares pun mencoba untuk tidur kembali, dipeluknya Zahra.