
Hingga tiba saat Zoya melihat seorang penjual rujak, namun Zoya takut untuk bilang pada Nares, bahwa ia sangat ingin menginginkan rujak tersebut.
Zoya pun hanya bisa menelan air liurnya, dan memfokuskan diri menghadap ke arah depan.
Nares yang melihat istrinya itu seperti tengah menginginkan sesuatu, ia pun bertanya dengan nada dingin nya.
"Ada apa? Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Nares, sesekali ia menoleh ke arah Zoya yang duduk di sampingnya, dan kembali fokus ke depan.
"Mm ... "
"Katakan Zoy."
"Sebenarnya aku ... Aku menginginkan rujak yang di jual oleh penjual tadi," ucapnya dengan pelan.
Mendengar hal itu, membuat Nares memutar kembali mobilnya, karena saat ini ia sudah hampir jauh dengan penjual rujak tadi.
"Kak," ucap Zoya, melihat suaminya itu membelokkan mobilnya.
"Ada apa?" tanyanya tanpa melihat ke arah Zoya.
"Tidak."
Tak lama mereka pun sampai di penjual rujak tadi yang berada di gerobak.
Dan pada saat Zoya ingin turun, namun ia urungkan niatnya. Lantaran Zoya melihat suaminya itu sudah turun terlebih dahulu, dan menyebrangi jalanan.
Zoya dapat melihat di arah sebrang sana, Nares tengah membelikannya rujak buah, dan ia pun melihat suaminya itu sudah kembali.
"Ini," ucap Nares, ketika ia sudah masuk kedalam mobil, dan menyerahkan satu bungkus rujak buah pada Zoya.
"Terima kasih, kak," ujar Zoya seraya menerima bungkusan rujak itu.
"Hm," dehem Nares.
Nares pun kembali melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Zoya ia langsung memakan rujak buah itu.
"Mmmm enak, apa kakak mau?" tawar Zoya.
"Tidak."
"Baiklah." Zoya pun kembali memakan rujak itu.
...***...
Waktu pun berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah memasuki usia sembilan usia kandungan Zoya.
Sementara Zahwa kini sudah berusia 11 bulan.
__ADS_1
Yang dimana dalam satu bulan lagi, usia Zahwa menginjak satu tahun.
Dan selama itu pula, sikap Nares tidak berubah. Hanya saja ia masih memperhatikan kehamilan Zoya.
Dan disini lah mereka berada, di dalam kamar tamu yang berada di rumah kedua tua Nares.
Saat ini Nares tengah duduk dan bersandar di kepala ranjang, dengan laptopnya yang berada di pangkuannya.
Sementara Zoya ia pun sama, tengah duduk bersandar di kepala ranjang, seraya mengelus perutnya yang sudah besar itu.
Dan untuk Zahwa, ia sudah terlelap dalam tidurnya di kasur khusus bayi itu.
Zoya yang merasa ingin membuang air kecilnya pun beranjak dari duduknya, dan di saat ia ingin melangkah, tiba-tiba Nares pun berucap. "Tunggu sebentar," ucapnya.
Nares pun menaruh laptop yang ada di pangkuannya di atas ranjang, ia pun melangkah menghampiri Zoya yang kini masih berdiri di tepi ranjangnya.
"Kau ingin ke kamar mandi, kan?! Biar aku temani." Tanpa banyak tanya, Nares pun langsung memapah Zoya kedalam kamar mandi.
"Terima kasih, kak," ucap Zoya, pada saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi.
"Hm iya. Mm ... Kamu bisa sendiri, kan?! Jika sudah bilang padaku, aku tunggu di luar," ujar Nares.
"Iya kak."
Setelah itu Nares pun pergi keluar kamar mandi, dan ia pun menunggu istrinya itu diluar.
Sementara Zoya ia pun langsung menuntaskan hajatnya.
Pintu kamar mandi pun terbuka.
"Kakak masih disini?" tanya Zoya, karena ia pikir tadinya suaminya itu tidak akan menunggunya, tapi ternyata ia salah.
"Hm." Nares pun langsung membantu Zoya, karena di usia yang sudah memasuki sembilan bulan itu, Zoya mudah sekali kelelahan.
Nares pun membaringkan Zoya atas ranjangnya, kemudian ia memakaikan selimut untuk istrinya itu sampai batas dada.
"Tidurlah," ucapnya seraya mengelus perut Zoya, lalu menciumnya.
Dan Zoya pun hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
Zoya pun mulai memejamkan matanya lalu ia tidur, sementara Nares ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Maafkan aku," lirih Nares, yang melihat istrinya itu yang sudah tertidur di sampingnya.
Sebenarnya Nares pun tidak ingin bersikap dingin terhadap Zoya, namun ia tidak harus bersikap seperti apa.
Jika bisa dibilang, sejujurnya dalam waktu yang cukup lama ia bersama dengan Zoya, ditambah Zoya yang selalu sabar dengan sikap dinginnya, membuat Nares merasakan ada sedikit dihatinya untuk sang istri kecilnya itu.
__ADS_1
Namun Nares tidak berani berkata jujur pada istri kecilnya itu.
°°°
Pagi harinya, Zoya dan mamah Anggun kini tengah berada di taman yang berada di komplek perumahan itu.
Kini keduanya tengah duduk di kursi yang berada di taman, dengan Zahwa yang berada di stroller baby.
Setelah dirasa sudah cukup puas mereka di taman, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan, mamah Anggun pun mengangkat teleponnya yang berdering, yang menghubunginya ialah sang suami.
Di sana mamah Anggun tidak menyadari bahwa pegangan tangannya, yang sedang memegang stroller baby itu terlepas.
Sehingga membuat storller baby yang di dalamnya terdapat Zahwa yang tengah tertidur itu menggelinding.
Ditambah jalanan mereka lalu adalah tanjakan, sehingga memudahkan stroller baby itu menggelinding ke bawah, sampai ke jalan raya.
Zoya yang melihat itu pun langsung mengejarnya, walaupun ia kesusahan untuk berlari, namun tidak mematahkan tekadnya untuk menyelamatkan anak sambungnya itu.
Zoya pun akhirnya bisa menggapai stroller itu, kemudian ia menekan tombol yang ada di roda, agar roda tersebut tidak lagi jalan.
Zoya pun terengah-engah, karena berlari ditambah keadaannya yang tengah hamil besar itu.
Setelah menetralkan nafasnya, Zoya yang hendak pergi, karena posisinya itu kini tengah berada di tengah-tengah jalan raya, dan untung saja, hari ini tidak ada kendaraan yang berlalu lalang, namun hal tak terduga menghampirinya.
Tiba-tiba ada sebuah mobil sedan yang melaju kencang kearahnya.
Zoya yang tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menggeser stroller baby, yang ditempati Zahwa ke samping.
Namun tidak dengan dirinya, dan dalam hitungan detik, mobil itu pun berhasil menabrak Zoya dengan kencang.
Brak.
Tubuh Zoya pun terkapar di jalanan yang beraspal dengan noda darah yang keluar di kepala dan juga pangkal pahanya.
Mendengar suara orang yang tertabrak, membuat orang-orang yang berlalu lalang di sana menghentikan langkahnya, dan melihat ke sumber suara, begitupun dengan mamah Anggun.
Dan betapa terkejutnya dia melihat menantunya itu yang sedang terbaring di jalanan yang beraspal, dengan darah yang mengalir.
Sedangkan ia melihat cucu pertamanya selamat, di sana ia melihat tidak terjadi apa-apa pada stroller baby nya.
"Zoya!!!" teriak mamah Anggun, ia pun berlari menuju menantunya yang sudah tak sadarkan diri.
"Tolong panggilkan ambulans segera!!!" teriaknya pada orang-orang yang melihat kecelakaan itu.
Salah satu orang yang melihat terjadinya kecelakaan itu pun langsung menghubungi ambulans.
__ADS_1
***
πππππ