
"Aku sedang memasak nasi goreng, untuk kita sarapan," jawab Nares, melihat ke arah Zoya sebentar, lalu ia kembali ke masakannya.
"Begitu. Boleh aku bantu?"
"Tidak usah, sebentar lagi selesai kok. Kamu duduk saja," ucap Nares.
Dan Zoya pun duduk di kursi makan.
Nares pun menyelesaikan masakannya, ia pun menuangkannya di atas piring. Kemudian ia membawa dua piring tersebut ke meja makan, yang dimana Zoya tengah duduk.
"Selamat makan," ucapnya setelah menaruh piring Zoya dan dirinya di atas meja, kemudian ia duduk di kursi dihadapan Zoya.
"Wah, pasti enak. Harumnya aja udah enak banget," ujar zoya.
"Pasti enak doang, siapa dulu yang masak," ucap Nares dengan bangga.
"Iya-iya, kakak memang the best." Zoya pun mengacungkan dua ibu jarinya, setelah itu ia makan nasi goreng buatan suaminya itu.
Mereka pun makan bersama.
°°°
Dikediaman keluarga Syahputra.
Kini Zahra tengah berada di balkon kamar Nares, ia berniat untuk menghubungi suaminya itu, karena rindu.
Meski semalam ia sudah melakukan video call dengan suaminya, sementara Zahwa putrinya, sedang bermain dengan Oma, opa nya.
"Halo assalamu'alaikum," ucap Zahra setelah sambungan teleponnya terhubung.
" ... "
"Mas kapan pulang?"
" ... "
"Iya mas, aku dan Zahwa sudah rindu sama kamu."
" ... "
"Gombal, kapan pulang."
" ... "
"Baik kalau begitu, aku tunggu kamu."
" ... "
"Wa'alaikum salam."
Setelah selesai bertelepon dengan suaminya, ia pun turun untuk menyusul putrinya itu yang tengah bermain dengan Oma, opa nya.
°°°
__ADS_1
Di lain tempat, kini Nares dan Zoya tengah menuju ke swalayan. Di sela-sela menyetirnya, ponsel Nares berdering, menandakan ada yang menelepon.
Ia pun mengeluarkan ponselnya di saku celana, kemudian ia mengklik tombol warna hijau, setelah tau siapa yang menghubunginya.
" ... "
"Wa'alaikum salam," jawab Nares.
" ... "
"Memangnya kenapa? Kamu rindu ya, sama mas," ucap Nares, sambil terkekeh.
" ... "
"Jangan rindu, rindu itu berat biar aku saja."
" ... "
"Hahaha, besok sayang. Besok mas pulang, kamu tenang aja."
" ... "
"Iya. Yasudah, mas tutup teleponnya ya? Soalnya mas lagi nyetir nih, assalamu'alaikum."
" ... . "
Tut. Panggilan itu pun terputus, Nares kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"Siapa? Mba Zahra ya?" tanya Zoya, yang sejak tadi diam mendengarkan percakapan antara suaminya dan juga istri pertama dari suaminya itu.
Tak lama, mobil yang dikendarai oleh Nares sampai di parkiran swalayan.
Setelah memakirkan mobil, keduanya pun turun dari mobil tersebut dan masuk kedalam.
Didalam, Nares mengambil alih troli belanjaan, ia mendorong troli belanjaan tersebut di belakang zoya, sementara Zoya berjalan di depannya.
"Mas kamu mau apa? Daging, ayam, atau ikan?" tanya Zoya, kali ini mereka sedang berada di tempat olahan daging, ayam, ikan, dan juga seafood.
"Seterah kamu aja," jawabnya.
Dan Zoya pun memilih yang ia inginkan, ia memilih daging, daging ayam, ikan tuna, dan beberapa olahan seafood.
Setelah memilih beberapa olahan daging, Zoya pun berjalan ke arah tempat sayuran, Nares pun hanya mengikuti sang istri kecil pergi kemana.
Di sana Zoya memilih, beberapa sayuran, seperti jagung, wortel, dan beberapa sayuran hijau.
Dirasa telah cukup membeli kebutuhan pokok untuk makan, mereka pun menuju kasir untuk membayar belanjaan yang mereka beli.
Selesai membayar, keduanya keluar dari toko itu dan menuju ke parkiran.
Di dalam mobil, setelah menaruh semua belanjaan ke dalam bagasi, Nares bertanya. "Kita makan siang dulu ya? Kau ingin makan di mana?"
"Seterah kakak saja," jawab Zoya.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu, lebih baik kita makan di apartemen saja. Nanti biar aku yang masak, ya?"
"Seterah."
"Kamu ini kenapa sih?"
"Aku gak pa-pa," jawab Zoya, dan Nares pun hanya menghela nafas.
Tak lama keduanya pun sampai di apartemen, Zoya pun langsung turun dari mobil dan berjalan lebih dulu, sementara Nares ia membawa semua belanjaannya di dalam bagasi mobil.
Setelah mengambil semua belanjaannya, kemudian Nares menutup kembali bagasi.
Dan ia pun menyusul istri kecilnya itu yang sudah jalan terlebih dahulu.
Didalam apartemen, setelah menaruh semua belanjaan di tempat yang seharusnya, Nares pun mulai memasak.
Ia kini sudah memakai celemek, dan siap bertempur dengan semua bahan makanan yang akan ia masak.
Sementara Zoya, entah kemana dia.
Satu jam, akhirnya Nares menyelesaikan masakannya. Setelah menaruh makanan yang ia masak di atas meja makan, ia pun melepaskan celemek yang melekat ditubuhnya.
Kemudian ia pergi ke kamar, siapa tau istri kecilnya itu sedang berada di sana.
Benar dugaannya, Zoya berada di dalam kamarnya, yang kini tengah duduk di atas ranjang, dengan mata yang menatap ke arah jendela besar, yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi.
"Kenapa melamun? Ada yang kamu pikirkan?" tanya Nares, setelah duduk di hadapan Zoya, dengan nada bicara yang lembut, tak seperti dulu yang berbicara dengan nada yang dingin dan datar.
Zoya pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu bohong, pasti ada sesuatu yang mengganjal di hatimu ... katakan ada apa?" tanya Nares lagi, kali ini sambil menggenggam tangan Zoya.
Dan lagi-lagi Zoya hanya diam, dan Nares pun hanya bisa menghela nafasnya. Menghadapi istri kecilnya ini butuh ekstra kesabaran, karena Nares tahu istrinya ini masih muda, dan ia cenderung labil dalam segala hal.
"Apa aku punya salah? Jika ia katakan, apa salahku? Jangan diam saja?" Nares pun masih setia bertanya dengan lembut.
Tiba-tiba Zoya menangis, dan hal itu membuat Nares tak mengerti, kenapa istri kecilnya itu tiba-tiba menangis.
"Hey ... hey, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Nares pun membawa Zoya kedalam pelukannya, ditepuknya perlahan punggung sang istri yang bergetar karena nangis.
"Apa karena aku, kamu menangis?" tanyanya lagi, masih setia menepuk punggung Zoya secara pelan, dan sesekali ia memberikan kecupan di ubun-ubun sang istri.
"Kakak tidak salah, aku yang salah kerena terbawa perasaan," jawabnya dengan terbata-bata akibat menangis.
"Maksud kamu?" tanya Nares, seraya melepaskan pelukannya, di tatapnya mata biru milik Zoya.
Nares pun menghapus air mata yang keluar dari mata indah milik Zoya.
"A- aku, aku cemburu," ucapnya.
"Cemburu?"
"Ya, aku cemburu, terhadap mba Zahra. Ia bisa mendapatkan perhatian dan juga cinta yang besar dari kak Nares. Sedangkan aku hanya dianggap sebagai adik saja oleh kakak, apa aku salah jika cemburu? Dan apa aku salah jika aku meminta kakak perhatian padaku bukan sebagai adik melainkan sebagai suami?"
__ADS_1
"Aku tidak perduli kakak belum cinta terhadap ku. Tapi yang jelas, aku ingin kakak memberikan perhatian terhadap ku layaknya seorang suami pada istrinya."