Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 20


__ADS_3

"Oh ya, sebelum ke rumah sakit, kita beli buah tangan dulu, buat jenguk ibu lu," ucap Nares.


"Iya."


Mobil mereka pun melaju dengan kecepatan sedang, akhirnya mobil yang mereka kendarai pun sampai di pekarangan rumah sakit tempat ibu Robi di rawat.


Mereka pun turun dari mobil, setelah memakirkan mobilnya di tempat parkir. Dan menuju ke dalam rumah sakit, dengan Nares membawa dua kantong plastik.


Dengan satu kantong berisi makanan, seperti roti dan susu, dan satunya berisi buah-buahan segar yang tadi mereka beli.


Mereka pun masuk ke ruangan tempat ibu Robi dirawat.


"Assalamu'alaikum," ucap Nares dan Robi, setelah masuk kedalam salah satu ruangan.


"Wa'alaikum salam," jawab ibu Robi dengan lemah.


"Emak, maafkan anakmu ini yang tidak bisa menjagamu sepenuhnya," ucap Robi, seraya memeluk ibunya setelah menyalim.


"Lepaskan, kau ingin emak mu sesak nafas!" bentaknya, seraya memukul punggung sang anak.


Robi pun melepaskan pelukannya, dan Nares pun menyalim punggung tangan ibu dari temannya itu.


"Bagaimana keadaan ibu? Maaf Nares baru menjenguk."


"Tak apa, Alhamdulillah keadaan ibu sudah agak mendingan."

__ADS_1


"Alhamdulillah."


"Oh ya, ini ada sedikit makanan dan buah-buahan untuk ibu," ucapnya, seraya memberikan kantong keresek yang ia bawa tadi, dan di terima oleh ibu dari Robi.


Tak lama pintu pun dibuka dan muncullah ayah dari Robi.


"Assalamu'alaikum, eh ada tamu toh," ucapnya.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka serempak.


"Kamu kemana aja? Gak ada kabarnya?" tanya ayah Robi, sambil menepuk bahu sang anak.


"Maaf, Robi kan sibuk ngumpulin duit buat nikahin neng geulis anaknya pak lurah," jawabanya, seraya memperlihatkan giginya.


"Oh ya, karena udah ada Abah, Robi mau minta ijin buat nganterin Nares ke rumah mertuanya," ujar Nares.


Nares dan Robi pun menyalim kedua orang tua Robi, kemudian ia pun keluar dari rumah sakit itu, dan menuju ke rumah mertua Nares.


Dan tak lama mobil yang dikendarai oleh Robi pun sampai di depan rumah kedua orang tua Zahra, istri dari Nares.


Mereka pun turun dari mobil lalu melangkahkan kakinya ke rumah sederhana namun asri itu.


Tok, tok, tok.


Nares pun mengetuk pintu, dan tak lama pintu pun terbuka, dan muncullah ayah mertuanya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap Nares.


"Wa'alaikum salam," jawab sang ayah mertua.


"Apa kabar ayah?" tanya Nares, setelah menyalim ayah mertuanya itu, dan diikuti oelh Robi juga menyalim ayah dari teman sekampungnya itu.


Ya, Robi dan Zahra adalah teman satu kampung, mereka sedari kecil sudah berteman.


"Alhamdulillah kabar ayah baik. Oh ya, dimana Zahra dan cucu ayah? Kenapa mereka tak itu bersamamu nak?" tanya pak Jamal ayah dari Zahra, sekaligus ayah mertua Nares.


"Zahra dan cucu ayah ada di Jakarta, Nares datang kesini untuk mengantarkan Robi, karena ibunya sedang sakit, dan juga ada yang ingin aku sampaikan sesuatu yang penting."


"Semoga cepat sembuh ya, maafkan bapak karena belum bisa menjenguk ibu mu," ucap pak Jamal pada Robi.


"Tidak pa-pa pak," ujar Robi.


"Yasudah kalau begitu, masuk dulu."


"Robi nunggu diluar aja pak," ucap Robi.


"Yasudah kalau begitu, mari nak Nares silahkan masuk."


"Iya yah."


Dan disinilah kedua pria beda generasi berada, di ruang tamu yang ada di ruang Zahra.

__ADS_1


"Oh ya, dimana ibu yah?" tanya Nares sebelum pada inti ia datang kemari.


"Ibu mertua mu sedang pergi keluar, duduk lah," jawabnya, seraya menyuruh Nares duduk di sofa.


__ADS_2