Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 23


__ADS_3

"Zoya sudah pulang ko bi, dia lagi ada di kamarnya," jawab Nares ramah.


"Oh, yaudah kalau begitu bibi pamit pulang dulu. Kebetulan bibi sudah masak makan siang buat non Zoya, mungkin nanti sore bibi datang lagi kesini."


"Iya bi, terima kasih ya."


"Sama-sama, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Bi Siti pun pergi dari apartemen, dan tinggallah Nares seorang diri.


Sudah satu jam ia menunggu Zoya diruang tv, namun sampai sekarang tidak ada tanda-tanda Zoya keluar dari kamarnya.


Nares pun beranjak dari posisi duduknya, ia pun berniat ingin menemui istri kecilnya itu dikamar.


Setelah berada di depan kamar, Nares pun mencoba mengetuk pintu kamar, namun dalam hitungan ketiga, tidak ada tanda-tanda Zoya membuka pintu, jangankan membukakan pintu, menjawab sahutan darinya pun tidak.


Lama-lama Nares pun merasa kesal, ia pun membuka pintu kamar, tidak perduli didalam sana Zoya sedang apa.


Disaat ia sudah membuka pintu dan masuk kedalam, ia melihat istri kecilnya itu tengah rebahan, sambil memainkan ponselnya, dan juga seperti tengah mendengarkan lagu, terbukti ia tengah memakai handset ditelinga nya.


Pantas saja sejak tadi ia ketuk dan juga memanggil namanya tak kunjung di balas oleh Zoya, ternyata ia tengah asik mendengarkan lagu diponsel nya.


Nares pun berdecak, kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah Zoya yang tengah asik rebahan sambil mendengarkan musik.


Setelah berada di sampingnya, Nares pun melepaskan salah satu handset yang tengah dipakai Zoya ditelinga nya.


Zoya pun terkejut apa yang dilakukan oleh Nares, ia pun cemberut lantaran kesal terhadap suami sirinya itu, yang sudah mengganggu kesenangan yang dilakukan oleh dirinya.


"Kakak apa-apaan sih, ganggu aja," kesal Zoya, seraya melepaskan handset yang ia pakai.


"Lagian aku tungguin kamu di ruang tv gak muncul-muncul juga, terus juga tadi aku ketuk pintu dan memanggil namamu gak pernah ada sahutan."


"Memangnya ada apa? Sampai kakak menungguku segala, bukannya kakak langsung pergi ya, setelah mengantarkan aku atau ketika urusan denganku selesai," sindirnya.


"Huh, ada yang ingin aku sampaikan kepada mu, tapi sebelum itu, lebih baik kita makan dulu. Kebetulan tadi bi Siti sudah memasak."


"Kakak saja, aku tidak lapar," ucap Zoya, namun suara keroncongan berhasil membuat wajah Zoya seketika memerah karena malu.

__ADS_1


"Ya. Memang bibirmu berkata tidak lapar, tapi lain halnya dengan bunyi yang ada di perutmu itu."


"Cepat bangun, atau aku tarik kamu," ancam Nares, dan Zoya pun mau tak mau mengikuti Nares dari belakang, meski mulutnya tak hentinya berkomat-kamit layaknya seseorang yang membaca mantra.


Disini keduanya tengah duduk saling berhadapan di meja makan, di depan mereka terdapat beberapa menu makan siang yang tadi bi Siti buat.


"Makanlah," ucap Nares, menyuruh sang istri untuk makan.


Dan Zoya pun mengambil makanan untuk dirinya sendiri, begitu pula dengan Nares yang mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Biasanya ia akan diambilkan oleh istri pertamanya Zahra, namun kali ini mengambilnya sendiri, karena saat ini ia sedang bersama dengan istri keduanya.


Apalagi istrinya itu masih remaja, belum terlalu mengerti tugas seorang istri, ditambah istri kecilnya itu seperti sedang kesal.


Jika saja perutnya tidak meronta untuk diberikan makanan, Nares memilih untuk tidak makan, bukan tidak menghargai atau apa, hanya saja ia tak banyak waktu untuk tetap tinggal di sana.


Hening, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang sedang beradu dengan piring.


"Maaf," ucap Nares, disela-sela makannya.


"Untuk?"


"Memangnya apa yang kakak perbuat, sehingga kakak minta maaf padaku?" tanya Zoya.


"Banyak. Salah satunya, aku tidak bisa bersikap adil padamu, dan juga sering mengabaikan mu," jawab Nares.


"Heh, akhirnya kakak sadar juga. Mempunyai seorang istri lainnya juga, aku pikir kakak lupa," sarkas nya, dengan menampilkan senyum sinis nya.


"Ya, aku tau salah. Jadi sebab itu aku meminta maaf."


"Hm." Zoya pun hanya berdehem, melihat hal itu Nares pun hanya menghela nafasnya.


"Kak, tolong ceraikan aku," ucap Zoya, setelah mereka selesai makan.


Dan hal itu berhasil membuat Nares tersedak ketika meminum air.


"Uuhhkk." Nares pun batuk akibat tersedak air yang ia minum, dan Zoya hanya menatap nya dengan datar tanpa khawatir.


"Apa maksudmu?" tanya Nares, setelah tidak batuk lagi.

__ADS_1


"Aku bilang tolong lepaskan aku dari hubungan yang tidak jelas ini," jawab Zoya.


"Maksudmu tidak jelas, dimana nya yang tidak jelas?"


"Apa kakak tidak sadar, dengan kakak tidak memperdulikan aku dan juga tidak pernah mengaggap kehadiran diriku, sudah membuktikan hubungan yang kita jalani memang tidak jelas, walaupun pernikahan di antara kita jelas adanya."


"Hanya itu? Bukankah tadi aku sudah meminta maaf? Aku tau aku salah, tapi tidak seharusnya kamu berpikir seperti itu, Zoya!" ucap Nares penuh penekanan.


"Hanya itu? Hanya itu kakak bilang? Kakak tidak tau perasaan aku bagaimana, jadi sebab itulah kakak bilang hanya itu." Zoya pun berbicara penuh penekanan, ditambah ia masih kesal akibat ulah dari pamannya itu.


"Lalu aku harus apa Zoya! Aku sudah memberikan kamu nafkah, lalu apa lagi yang kau inginkan?" Nares pun ikut geram.


"Kakak pikir aku cewek matre? Aku tidak butuh uang dari kakak, yang aku butuhkan hanya kehadiran kakak itu saja, apa salahnya."


"Aku tau kakak sudah memberikan semua kebutuhan ku, bahkan kakak sudah membiayai kuliahku, dan kakak sudah menolong ku dari pamanku, dan aku ucapkan terima kasih untuk semua itu ... Tapi yang aku butuhkan bukan uang ataupun yang lainnya, yang aku butuhkan hanyalah sebuah bahu seseorang untuk aku bersandar ketika aku sedang letih atau sedih." Zoya pun berteriak, ketika ia meluapkan yang selama ini yang ada didalam hatinya.


"Dan teman untuk ku bercerita setiap malam, dan seseorang yang bisa ku ajak pergi ke suatu tempat, dan itu tidak bisa dilakukan oleh seorang teman saja, karena setiap orang pasti memiliki waktu mereka masing-masing, lain halnya dengan seorang yang dekat dengan kita, seorang suami misalnya," lirihnya kemudian.


Mendengar teriakkan dan ucapan yang dilontarkan oleh istri kecilnya itu, membuat Nares memejamkan matanya.


Ia akui ia salah dalam hal ini, yang mengabaikan istri keduanya itu, padahal ia tahu Zoya masih remaja yang labil.


Tapi bagaimana lagi, ia belum siap untuk menerima semua takdir yang menimpa dirinya, ditambah lagi ia tak pernah mencintai Zoya, ataupun mencoba untuk menerimanya dihatinya.


Ia pun beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Zoya yang tengah menangis sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


Setelah berada di hadapannya, Nares pun langsung membawa Zoya kedalam dekapannya.


Ia memeluk Zoya yang masih duduk di kursinya, sementara ia berdiri.


"Maaf," ucap Nares, seraya mengelus punggung Zoya.


Mendengar hal itu, membuat Zoya semakin erat memeluk pinggang Nares, dan menggelamkan wajahnya ke perut Nares.


Sekian lama mereka diam, sampai akhirnya Nares suara dengkuran halus dari Zoya.


Ia yakin Zoya kini tertidur, setelah menangis sesenggukan, perlahan ia pun melepaskan pelukannya dan menggendong Zoya secara perlahan, dengan gendongan ala bridal style.


Nares pun melangkahkan kakinya ke kamar yang Zoya tempati, setelah berada di dalam kamar, kemudian ia merebahkan Zoya di ranjang.

__ADS_1


__ADS_2