
Tak terasa sudah lima Minggu Zoya meninggalkan Nares.
Dan lima Minggu pula, Nares tidak mencoba untuk mencari dimana Zoya berada.
Meski dirinya sudah menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan istri keduanya itu, dan dari hasil orang yang menyelidiki dimana keberadaan Zoya.
Nares pun akhirnya tau dimana istri kecilnya itu berada, ia tahu bahwa saat ini Zoya tengah berada di Los Angeles- Amerika.
Namun ia masih belum mau menemui istrinya itu, saat ini ia masih memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ia bertemu kembali dengan Zoya.
Apakah ia tetap akan mempertahankan Zoya? Atau melepaskan? Entahlah.
Namun yang bisa ia lakukan saat ini adalah hanya memastikan bahwa keadaan istrinya itu baik-baik saja.
Oleh karena itu, Nares menyuruh seseorang untuk mengawasi dan memantau Zoya dari jarak jauh, dari orang itu pula ia tahu bahwa keadaan istrinya itu baik-baik saja.
Bahwa Nares juga tau bahwa Zoya saat ini sudah bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe yang ada di sana.
Pada saat ia melamun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan cukup keras.
"Ck." Nares pun berdecak setelah melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya dengan membuka pintu cukup keras itu.
"Bang, lu kaya gak di ajarin sopan santun aja sama mamah papah," ucap Nares dengan dingin pada sang kakak.
"Hehehe sorry." Jeffry pun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian ia duduk di kursi yang berada di hadapan Nares, dan hanya terhalang meja saja.
"Mau apa?" tanya Nares.
"Cih. Oh ya, ngomong-ngomong lu gak nyari istri muda lu?" Bukannya menjawab pertanyaan dari adiknya itu, Jeffry justru malah balik bertanya.
"Gua udah nyuruh orang buat cari Zoya," jawab Nares tenang.
Dan Jeffry pun hanya manggut-manggut.
"Terus lu kesini mau apa?" tanya Nares lagi.
"Gua kesini cuman mau bilang itu doang sih," jawabnya tanpa rasa bersalah.
Dan hal itu berhasil membuat Nares melotot, ia tak habis pikir dengan kakaknya ini. Bisa-bisanya dia datang kesini hanya untuk bertanya hal itu saja, seperti tidak ada lain waktu saja, pikir Nares.
°°°
Malam harinya, di keluarga Syahputra kini tengah berkumpul bersama. Dengan para anak mereka dan juga menantu, serta cucu mereka.
__ADS_1
Disela-sela mereka makan malam bersama, tiba-tiba Nares merasakan tidak enak di perutnya.
Perutnya merasa mual, ia pun bergegas pergi ke kamar mandi yang letaknya berada di dapur.
Zahra pun membantu Nares dengan memijit tengkuk leher Nares bagian belakang.
Di sana Nares mengeluarkan isi yang ada di dalam perutnya di wastafel, setelah mengeluarkan isi dalam perutnya, Nares merasa lebih baik walaupun sebenarnya dia meras lemah.
"Minum lah." Zahra pun memberikan air segelas air minum setelah mereka keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana, sudah lebih baik?" tanyanya setelah suaminya itu meminum air.
"Ya. Walaupun aku merasa lemah," jawabnya.
"Lebih baik mas istirahat saja."
Zahra punbantu Nares untuk naik ke atas lantai dua, yang dimana kamar Nares berada.
Namun Nares mengurungkan niatnya, karena ia ingin mengobrol bersama keluarganya di ruang keluarga.
Zahra pun tidak masalah, mereka berdua pun pergi ke ruang keluarga yang dimana semua keluarga berkumpul.
"Ada apa denganmu, nak?" tanya mamah Anggun merasa khawatir dengan putra bungsunya itu.
Mendengar jawaban dari Nares, semua orang saling pandang, seakan mereka tengah memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Nares, setelah melihat semua orang yang ada di ruangan itu diam dan saling melirik satu sama lain.
"Tidak ada apa-apa, nak," jawab sang mamah.
"Mm ... Res. Lu bilang, kalau lu ngalamin mual, apalagi setiap pagi benar?!" tanya Jeffry.
"Hm ya, memangnya kenapa?"
"Apa lu kalau mencium aroma apa gitu, seperti makanan atau parfum juga lu suka mual juga, walaupun bau yang lu suka?" Jeffry pun kembali bertanya.
"Kok lu tahu, kalau gua suka mual kalau mencium bau-bau, padahal yang gua suka," jawab Nares.
"Fix lu terkena kehamilan simpatik atau sindrom couvade."
"Maksudnya?" tanya Nares lagi.
Mendengar hal itu membuat Jeffry menepuk jidatnya, karena adiknya itu masih tidak mengerti.
__ADS_1
Sementara yang lainnya, hanya diam melihat kedua kakak beradik itu.
"Maksud gua, lu sama kaya gua waktu dulu. Dulu saat Vio hamil anak pertama gua, yaitu Erlangga. Gua yang mengalami gejala ngidamnya ... " Jeffry pun menjeda ucapnya.
"Jadi intinya ... Istri lu lagi hamil dan lu yang mengalami fase ngidamnya!!" ucap Jeffry dengan greget.
Mendengar penjelasan dari kakaknya itu membuat Nares menoleh ke arah istrinya yang sedang duduk di samping dirinya. "Kamu hamil, sayang?" tanya Nares.
"T- tidak. Aku, tidak hamil. Bukannya mas tau kalau aku sekarang lagi datang bulan," jawab Zahra.
"Ah ya, aku lupa," ujar Nares.
"Jika bukan Zahra yang hamil, berarti istri muda mu yang hamil," celetuk Jeffry.
"Maksud kakak?" tanya Nares.
"Astagfirullah Nares!!! Baru lima Minggu Zoya pergi dari hidupmu, tapi kamu sudah melupakan dia?! Ingat Nares, dia masih istrimu. Kamu belum menceraikannya," jawab Jeffry dengan kesal, entah kenapa sikap Nares menjadi lemot begini.
"Maksud kakak mu apa res?" tanya papah Putra dengan menatap tajam ke arah putra bungsunya itu.
Mendapatkan tatapan tajam dari sang papah, membuat Nares menundukkan kepalanya, karena ia tak berani menatap mata tajam sang papah, yang seakan akan menusuk dirinya.
"Z- Zoya, dia ... Dia. Memilih untuk pergi dari Nares pah," jawabnya, masih dengan posisi sama, menundukkan kepalanya.
"Apa?!" Bukan hanya pak Putra saja yang terkejut, mamah Anggun pun tak kalah terkejut.
"Kapan?"
Seketika Nares pun mendongkang melihat ke arah papahnya.
"Lima Minggu lalu," jawabnya pelan.
"Lalu selama lima Minggu kamu tidak melakukan apapun?" tanya pak Putra lagi, masih dengan nada dingin.
"Nares hanya ingin memberikan waktu untuk Zoya sendiri pah. Zoya sendiri yang ingin mengakhiri hubungan ini. Lagi pula, Nares sudah mengirim seseorang untuk mengawasi keadaan Zoya, ya walaupun hanya dari jauh," jelasnya.
"Nares, bukan maksud papah ikut campur dengan rumah tanggamu. Tapi papah hanya ingin mengingatkan kamu tentang kewajiban kamu sebagai seorang suami, jika memang ini yang di inginkan Zoya, maka lepaskanlah dia nak," ujar pak Putra, kali ini bukan dengan nada dingin, dia berbicara dengan lembut.
"Hal itu masih Nares pikirkan pah."
"Lalu apa yang dikatakan oleh kakak mu itu benar? Bahwa Zoya sedang hamil?"
"Nares belum tahu."
__ADS_1