Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 67


__ADS_3

"Zoya," panggil Nares, pada sang istri yang tengah menyenderkan kepalanya di dada bidangnya.


"Iya kak."


"Em ... Besok aku mau mengajak kamu ke pesta undangan salah satu kolega ku, kamu bisa, kan?" tanya Nares.


Zoya pun beranjak dari posisinya. "Memangnya mbak Zahra kenapa? Kenapa bukan mbak Zahra saja? Bukankah dia lebih pantas datang ke pesta sama kakak? Sementara aku kan, hanya istri kedua. Jadi yang berhak datang sama kakak, ialah mbak Zahra." Pertanyaan beruntun dilayangkan oleh Zoya terhadap suaminya itu.


"Zahra tidak bisa. Jadi, sebab itu aku mengajak kamu," jawab Nares.


"Memangnya harus dengan pasangan?" tanya Zoya lagi, dan Nares pun mengangguk.


"Huffstt, baiklah. Aku mau," ucapnya.


"Terima kasih." Nares pun kembali memegang kepala Zoya untuk kembali bersandar di dada bidang miliknya, seraya memeluk istri kecilnya itu.


°°°


Keesokan paginya, kini Nares dan Zoya sudah siap dengan style-nya masing-masing.


Zoya dengan style kampusnya, sementara Nares seperti biasa dengan style kantor ala dirinya.


Keduanya keluar kamar, dan menuju ke dapur. Yang dimana ternyata sudah ada beberapa makanan di atas meja makan, yang di masak oleh bi Siti.


"Pagi bi," ucap keduanya.


"Pagi ... "


Melihat kedua majikannya sudah duduk di kursi meja makan, bi Siti pun ijin pamit keluar sebentar.


Sepeninggalan bi Siti, Nares dan Zoya pun mulai sarapan.


°°°


Malam harinya, kini Nares tengah menunggu istrinya itu bersiap-siap.


Cklek. Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Zoya yang cantik, dengan balutan gaun berwarna hitam tanpa lengan, dengan panjang sampai bawah, dan ada sedikit ekor di bagian belakangnya. Yang melekat ditubuhnya, sehingga menampilkan lekuk tubuhnya.


Gaun yang digunakan Zoya adalah gaun pemberian dari Nares. Yea, sebelum pulang tadi, Nares sempat mampir sebentar di toko butik, untuk membelikan Zoya gaun.


Nares yang melihat itu pun terkesima, dengan kecantikan istri kecilnya.

__ADS_1


"Ayo," ajak Nares, seraya memberikan tangannya untuk Zoya genggam.


Zoya pun menerima tangan suaminya, dan mereka pun pergi dari apartemen dengan tangan yang saling bertautan.


Mereka pun masuk kedalam mobil, dan Nares pun mulai melajukkan mobilnya membelah jalanan.


Tak butuh waktu lama, Nares dan Zoya pun sampai di sebuah hotel, tempat diadakannya acara, lebih tepatnya, di ballroom hotel.


Lagi-lagi Nares pun memegang tangan Zoya, namun pada saat mereka sampai di tempat, di adakan-nya acara, Nares mulai merangkul pinggang istrinya dengan posesif.


Lantaran banyak sekali para pria yang melihat ke arah istrinya.


"Halo tuan Nares, senang berjumpa denganmu. Saya pikir anda tidak akan datang ke pesta ini," sapa salah satu rekan kerja Nares, yang seusia dengannya, namun sering di katakan playboy.


"Senang bertemu dengan anda juga, tuan Romi." Nares pun membalas sapaan dengan rekannya yang bernama Romi.


"Siapa dia? Apa dia istrimu?" tanya Romi, setelah melepaskan tangannya yang semula bersalaman dengan Nares.


"Iya dia istriku," jawabnya seraya mengeratkan pelukannya, setelah melihat gelagat Romi yang tidak biasa, apalagi matanya yang terus memindai Zoya dari atas, bawah.


Dan hal itu pun membuat Zoya merasa tidak nyaman, karena selalu di perhatikan seperti itu.


"Oh ya silahkan ... Tapi ngomong-ngomong, istrimu cantik juga, masih muda lagi," ucapnya.


Nares tak menanggapi, ia dan Zoya pun pergi ke tuan rumah yang mengadakan pesta, yakni tuan Sam.


"Selamat malam tuan Sam. Selamat, anniversry pernikahan anda dan istri," ucap Nares ketika dia dan Zoya sudah berada di hadapan tuan Sam.


Nares pun mengulurkan tangannya, "terima kasih. Anda sudah mau datang ke pesta saya ini, tuan Nares." Tuan Sam, pun membalas uluran tangan Nares.


"Apakah ini istri anda tuan?" tanya istri dari tuan Sam.


"Benar nyonya, ini istri saya. Perkenalkan dia Zoya," jawab Nares.


"Zoya," ucap Zoya, seraya bersalaman dengan tuan Sam dan istrinya.


Tuan Sam dan istrinya pun membalas salaman Zoya.


"Wow, sepertinya istri anda ini masih sangat muda ya? Dia pun sangat cantik," pujinya.


"Anda bisa saja nyonya, anda pun sangat cantik nyonya," ucap Zoya.

__ADS_1


"Terima kasih. Oh ya, mari ikut denganku, kita bisa berbincang-bincang sambil makan." Istri dari tuan Sam pun mengajak Zoya berbincang di salah satu meja, dan meninggalkan para suami mereka.


Sementara Nares dan tuan Sam, mereka lebih memilih membahas mengenai bisnis mereka.


"Andai saja kamu belum menikah, pasti aku sudah menjodohkan mu dengan putraku," ucap nyonya Sam, setelah mereka duduk di salah satu kursi.


"Terima kasih nyonya, tapi sepertinya anda terlalu berlebihan. Saya hanya wanita biasa, mana pantas menjadi menantu anda."


"Loh apanya yang tidak pantas, kamu pantas loh. Saya ini bukan seperti mertua yang ada di novel-novel, yang suka mencari menantu harus setara dengan keluarga kami, justru saya lebih suka wanita yang sederhana. Dan saya tidak membedakan status sosial," jelasnya, dan Zoya pun hanya tersenyum sebagai tanda menghargai.


"Mom, sorry aku telat," ucap seorang pria yang menghampiri nyonya Sam, dan ia memeluk nyonya Sam dari belakang.


"Tak apa, kau pasti sibuk mengurus himpunan mu," ujarnya.


"Mommy memang sangat tahu."


"Tentu saja. Mommy kan, memang mommy mu ... "


"Oh ya, kenalkan ini adalah salah satu istri dari rekan kerjanya Daddy," ujar nyonya Sam, memperkenalkan Zoya dengan putra nya.


Pria itu pun berbalik dan menghadap ke arah Zoya, yang memang posisi dia tadi membelakangi Zoya.


"Zoya!" Pria itu pun terkejut lantaran sosok yang ingin dikenalkan oleh Mommy nya ternyata ialah orang yang ia suka.


Ya, pria itu adalah Erik. Begitupun dengan Zoya, ia terkejut lantaran putra dara nyonya Sam ialah Erik, senior nya di kampus, pantas saja tadi ia mendengar suara yang tidak asing.


"Kak Erik."


"Kalian sudah saling kenal?" tanya nyonya Sam.


"Dia juniornya Erik di kampus, mom," jawab Erik.


"Oh astaga, jadi kalian satu kampus?" tanyanya lagi.


"Benar nyonya." Kali ini Zoya yang menjawab.


Erik pun duduk di samping Mommy nya, di sebrang sana masih di tempat yang sama seperti sebelumnya, Nares melihat ke arah tempat dimana istrinya berada.


Di situ ia melihat, Erik yang sedang duduk bersama dengan nyonya Sam dan juga istrinya, Nares dapat melihat mereka seperti akrab, mereka berbincang, sekaligus tertawa bersama.


Tuan Sam, yang melihat Nares tengah melihat ke arah istri dan putranya pun berbicara, "anda sangat beruntung memiliki istri yang masih muda," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2