Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 85


__ADS_3

Drret, drret, drret.


Ponsel Nares pun berdering. Nares pun mengambil ponsel miliknya di atas nakas, ia melihat siapa yang menelponnya.


Yang ternyata adalah istrinya yang menghubunginya dengan video call, ia pun langsung menekan tombol berwarna hijau itu.


Terlihat lah wajah cantik istrinya, yang ia duga berada di kamar hotel.


"Assalamu'alaikum," ucap Nares setelah menerima panggilan video itu.


"Wa'alaikum salam, mas. Dimana Zahwa?" tanya Zahra dari sebrang, dan Nares pun langsung menggeser ponselnya ke arah sang putri yang masih tengkurap itu.


Mereka berdua pun berbincang banyak hal.


Karena perbedaan waktu sekitar 5 jam antara Jakarta, Indonesia. Dan juga Kairo, Mesir.


Terlebih lagi, Zahwa yang sudah mengantuk pun mengakhiri sambungan video antara Nares dan Zahra.


"Sayang, mas tutup teleponnya ya. Sepertinya Zahwa sudah mengantuk," ucap Nares.


"Iya mas, apa susunya sudah dipanaskan?" tanya Zahra.


Karena sebelum berangkat ke Mesir, Zahra sudah terlebih dahulu memompa ASI nya untuk sang putri tercinta, selama dia berada di Mesir.


"Sudah sayang, tadi sudah di panaskan sama bibi."


"Yasudah kalau begitu, assalamu'alaikum mas selamat malam."


"Wa'alaikum salam."


Tut.


Panggilan video itu pun berakhir.


Setelah itu Nares pun menggendong putrinya, karena putrinya itu sudah merengek.


Nares pun keluar dari kamarnya, seraya menggendong anaknya dan membawa botol susu milik putrinya itu.


Ia berencana akan tidur di kamar Zoya dengan putrinya. Nares masih tetep bersikap adil, ia masih membagi waktu, meski kini Zahra tidak ada, tapi ia tetap akan tidur di kamarnya jika waktunya bersama dengan Zahra.


Begitupun sebaliknya, ia akan tidur di kamar tamu yang Zoya tempati, jika waktunya bersama dengan Zoya, sama seperti malam ini.


Di dalam kamar, Zoya yang hendak tidur pun ia mengurungkan niatnya, lantaran ia mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


Zoya pun berdiri dari duduknya, dan ia melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Ceklek.


Saat pintu terbuka, ia dapat melihat suaminya itu yang tengah menggendong Zahwa, putri dari suaminya dan istri pertama suaminya itu.


"Kakak," ucap Zoya dengan pelan, karena ia tak mau mengganggu Zahwa yang sudah tidur.

__ADS_1


"Apa aku boleh masuk?" tanyanya.


"Tentu."


Zoya pun mempersilahkan suaminya itu masuk kedalam kamarnya, Sementara Nares, setelah ia masuk kedalam kamarnya, ia membaringkan putrinya di atas ranjang.


"Aku akan pergi ke kamarku sebentar, jadi tolong jaga dia jika bangun," ucap Nares, setelah meletakkan putrinya di tengah ranjang.


"Tentu saja, aku sudah menganggap Zahwa putriku, aku akan jaga dia."


"Terima kasih."


Setelah mengucapkan hal itu, Nares keluar sebentar. Sementara Zoya, ia memilih duduk di sisi ranjang.


Ia menatap Zahwa yang tidur dengan tenang, tak lama suaminya itu sudah kembali, dengan membawa beberapa popok dan juga satu botol susu yang tidak ada isinya, karena takut jika nantinya Zahwa terbangun dan menangis, maka Nares akan memberikan botol kosong itu sementara.


"Kakak tidak seharusnya tidur disini, aku tidak masalah jika tidur sendiri. Kasihan Zahwa dan juga kakak pasti akan repot bolak balik ka kamar kakak dan juga aku," ucap Zoya, karena ia tahu bahwa suaminya itu pasti akan tetep tidur di kamarnya, karena hari ini memang Nares yang tinggal bersama dengan Zoya.


"Tak apa, bukankah hari ini memang aku bersama denganmu."


Nares pun mendekat pada Zoya yang tengah duduk di atas ranjang itu, ia pun duduk di sisi Zoya.


"Tidurlah," ucapnya, seraya mengelus perut buncit istrinya, yang tengah mengandung anaknya itu.


Zoya pun menurut, ia menidurkan dirinya sendiri.


Sementara Nares, setelah Zoya tidur, ia pun menarik selimutnya sampai batas dada Zoya.


"Selamat malam anak-anak ayah," lirih Nares, seraya mengelus perut Zoya.


Nares pun beranjak dari duduknya, dan melangkah ke bagian samping.


Di sana ia mulai merebahkan tubuhnya, dan mulai memejamkan matanya.


Dan mereka bertiga pun tidur, dengan posisi Zahwa berada di tengah-tengah, antara Nares dan Zoya yang berada di samping, kiri dan kanan.


°°°


Paginya, kini Zoya tengah belajar memakaikan Zahwa baju, di dampingi oleh Nares.


"Yey, selesai!!" teriaknya dengan gembira, tanpa sadar Zoya loncat-loncat, dan hal itu membuat Nares khawatir.


"Zoy, jangan loncat-loncat. Ingat, kamu sedang hamil." Nares pun memperingatkan istrinya itu, bahwa ia tengah mengandung anak mereka.


"Upss, sorry kak. Aku lupa," ucapnya dengan memperhatikan giginya yang rapih dan putih.


"Huffstt, lain kali jangan diulang."


"Siap bos," ujarnya, seraya membentuk tanda hormat.


"Kau ini," ucap Nares, dengan memencet hidung mancung Zoya dengan pelan.

__ADS_1


"Kakak!" ucap Zoya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha, habisnya kamu gemas." Sekali lagi Nares memencet hidung mancung istrinya itu.


"Sudahlah, aku mau siap-siap pergi ke kantor. Jaga Zahwa sebentar ya."


"Iya kak, mau aku siapkan pakaiannya?!"


"Tidak usah, biar aku saja."


"Hm, okay."


Nares pun pergi ke kamar mandi, guna mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya.


Sementara Zoya, ia menggendong Zahwa, dan pergi ke keluar dari kamarnya.


"Pagi mah, pah," sapa Zoya pada kedua mertuanya itu, kini ia sudah berada di ruang makan.


"Pagi sayang. Pagi juga cucu-cucu Oma," ucap mamah Anggun, seraya mencium pipi cucunya dan juga mengusap pelan perut Zoya.


"Duduklah nak, biar bi Inem yang menjaga Zahwa sebentar," ucap sang papah mertua yang tengah duduk di kursinya.


"Bi, bi Inem!" panggil pak Putra.


"Iya tuan," ucap bi Inem.


"Tolong jaga cucuku sebentar."


"Baik tuan, kemari nona."


"Terima kasih ya bi," ucap Zoya, ia pun memberikan Zahwa untuk di gendong oleh BI Inem.


Setelah itu bi Inem pun pergi ke ruang tengah untuk menjaga Zahwa, dan menyuapinya makanan, karena ia sudah diberikan MPASI.


Sementara Zoya ia pun langsung duduk, karena ia tidak bisa lama-lama untuk berdiri.


Tak lama Nares pun datang dan bergabung dengan mereka, mereka pun mulai menikmati sarapan bersama.


"Aku berangkat ya, jaga diri kalian," ucap Nares, pada istrinya itu.


Kini mereka tengah berada di depan rumah, dengan Zoya yang mengantar suaminya itu berangkat kerja.


"Iya kak, iya ayah," ucapnya, seraya mewakili Zahwa yang berada di gendongannya.


"Ayah berangkat dulu sayang, assalamu'alaikum," ujar Nares, seraya mencium kedua pipi chubby putrinya, serta mencium perut Zoya.


"Wa'alaikum salam," jawab Zoya, ia pun menyalami punggung tangan suaminya itu, dan di balas kecupan di kening Zoya.


"Hati-hati mas," ucap Zoya lagi.


"Iya."

__ADS_1


Nares pun masuk ...


__ADS_2