
Tuan Sam, yang melihat Nares tengah melihat ke arah istri dan putranya pun berbicara, "anda sangat beruntung memiliki istri yang masih muda," ucapnya.
"Terima kasih," ucap Nares, ia pun melihat ke arah tuan Sam.
"Sepertinya istri ku, sangat menyukai istrimu. Mari kita menemui mereka, sekalian saya ingin memperkenalkan putra tunggal saya."
"Jadi bocah itu anak dari tuan Sam." Batin Nares.
"Mari ... "
"Ah ... Ya, mari." Nares dan tuan Sam pun pergi ke meja yang dimana Zoya dan nyonya Sam, beserta Erik berada.
"Apa yang kalian bicarakan, sepertinya asik sekali?" tanya tuan Sam, ketika sudah berada di tempat sang istri berada.
"Daddy, tidak ada. Mari silahkan duduk," jawab nyonya Sam, ia pun mempersilahkan suaminya dan Nares untuk duduk.
Tuan Sam dan Nares pun duduk, dengan Nares duduk di samping Zoya, sementara tuan Sam duduk di antara istri dan anaknya.
"Oh ya, tuan Nares. Perkenalkan ini adalah putra tunggal kami, Erik." Nyonya Sam pun memperkenalkan Erik pada Nares.
"Erik."
"Nares."
Setelah berkenalan mereka pun duduk kembali, dan mereka berlima pun mulai berbincang bersama.
Karena terlalu asik berbincang, sampai mereka tidak menyadari bahwa hari semakin larut.
"Maaf, sepertinya kita harus pulang," ucapnya seraya melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Kenapa langsung pulang, ini masih jam sepuluh malam," ujar tuan Sam.
"Maaf. Tapi besok istriku harus pergi kuliah."
"Ah, kau benar-benar suami yang pengertian," ucap nyonya Sam.
Dan Nares pun hanya menanggapinya dengan senyuman, begitupun dengan Zoya.
"Baiklah kalau begitu, saya ucapkan terima kasih karena sudah datang," ucap tuan Sam seraya bangkit dari duduknya, dan diikuti oleh mereka.
"Sama-sama. Saya juga berterima kasih karena anda sudah berkenan mengundang saya ke acara spesial anda ini," ujar Nares, seraya bersalaman dengan tuan Sam, nyonya Sam, dan juga Erik.
Begitupun dengan Zoya, setelah bersalaman Nares dan Zoya pun pergi dari pesta itu dan pulang ke apartemen mereka.
Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Nares pun tiba. Ia membuka seat belt, dan melihat ke arah samping yang dimana istrinya itu berada.
Yang ternyata istri kecilnya itu kini tengah tertidur, mungkin karena Nares terlalu fokus pada kemudinya, ia tak menyadari bahwa Zoya tertidur di mobil.
Nares pun keluar dari mobilnya, dan mulai melangkah ke pintu samping yang dimana Zoya tertidur.
Nares pun membuka pintu mobil, dan membuka seat belt yang digunakan Zoya, setelah itu ia pun menggendong Zoya ala bridal style.
Setelah menutup kembali pintu mobilnya, ia pun bergegas untuk masuk kedalam apartemen.
__ADS_1
Ting. Pintu lift terbuka, ia pun segera masuk kedalam unit apartemennya.
Setelah berada di dalam unit apartemennya, Nares kemudian membawa Zoya masuk kedalam kamar mereka.
Di sana ia mulai membaringkan Zoya di atas ranjang, setelah membaringkan Zoya, Nares pun membuka jas yang ia pakai, lalu mulai mengambil baju tidurnya, dan masuk kedalam kamar mandi.
Setelah itu ia pun keluar dari kamar mandi, dengan wajahnya yang sudah segar.
Di sana ia melihat ke arah Zoya, "pasti dia tidak nyaman memakai gaun disaat tidur, tapi bagaimana caranya."
Nares pun mencoba untuk membangunkan Zoya namun hasilnya nihil, sepertinya istri kecilnya itu sudah terbuai dalam mimpi, sehingga ia tidak terusik.
"Zoya," panggilnya sekali lagi, seraya menggoyangkan lengan Zoya.
"Huffstt." Nares pun melepaskan gaun yang melekat di tubuh istrinya itu, ia pun harus menahan nafas, karena melihat tubuh polos istrinya.
Buru-buru ia memakaikan baju tidur ke Zoya, sementara Zoya ia sama sekali tidak terusik apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Kau ini seperti kerbau tidak terusik sama sekali," monolognya, seraya melihat Zoya yang sudah lengkap dengan pakaian tidurnya.
Setelah itu ia pun mulai menyusul Zoya dalam dunia mimpi.
°°°
Pagi harinya, Zoya pun terbangun dari tidurnya.
"Pagi," sapa Nares, yang tengah menggulung lengan kemejanya.
Zoya pun melihat ke arah dirinya. Ia terkejut, seingat dirinya, ia tertidur di dalam mobil dan masih mengenakan gaun.
"Kenapa?" tanya Nares, melihat istrinya itu seperti orang bingung.
"Ti- tidak, em ... Apa kakak yang menggantikan pakaianku?" tanya Zoya.
"Iya."
"Apa! Tapi kenapa?"
"Kenapa? Memangnya kenapa?"
"Ti- tidak apa-apa, aku hanya malu," cicitnya.
Mendengar cicitan dari Zoya membuat tersenyum, dan ingin menggoda istrinya itu. "Memangnya kenapa harus malu? Bukankah aku sudah melihat semuanya, bahkan merasakannya?"
Dan hal itu berhasil membuat pipi Zoya memerah, ia pun menutup wajahnya dengan selimut.
"Hahaha, Zoy. Kau lucu sekali." Nares pun mendekati Zoya yang tengah bersembunyi di dalam selimut.
"Zoy, buka selimutnya," ucap Nares, ia pun berusaha membuka selimut yang menutupi wajah Zoya.
"Tidak mau," ujarnya di dalam selimut.
"Tapi kau harus bersiap-siap kuliah, Zoy."
__ADS_1
"Hari ini aku tidak kuliah."
"Kenapa?"
Zoya pun membuka selimut yang menutupi wajahnya, yang sudah tidak merah lagi, karena malu. "Karena kelasku hari ini di ganti siang hari. Jadi, nanti aku berangkat kuliahnya siang hari," jawab Zoya.
"Oh, aku berangkat ya."
"Iya, hati-hati kak," ucapnya, Zoya pun menyalim punggung tangan suaminya, dan dibalas seperti biasa oleh Nares, yaitu mengelus pucuk kepalanya.
"Iya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah Nares pergi, Zoya pun kembali tidur.
°°°
Siang harinya, di kantor Nares bekerja sebagai seorang pengacara.
Pada saat selesai menelepon dengan istri keduanya itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
Tok, tok, tok.
"Masuk." Nares pun menyuruh seseorang itu untuk masuk kedalam ruangannya.
Cklek. Pintu pun terbuka, "assalamu'alaikum," ucap seorang tersebut, yang tak lain ialah Zahra.
"Wa'alaikum salam, sayang kamu kesini."
"Iya mas, aku mau mengantarkan makan siang untukmu," ucap Zahra, setelah menyalim punggung tangan suaminya.
"Yasudah, lebih baik kita duduk di sofa." Nares pun menuntun istrinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan pribadinya.
Mereka pun duduk berdampingan, Zahra pun mulai membuka kotak makan siang yang ia bawa, lalu menaruh isinya dalam piring, kemudian ia berikan kepada suaminya itu.
"Terima kasih," ucap Nares, pada istrinya, seraya mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk.
Mereka pun makan bersama.
"Oh ya, dimana Zahwa?" tanya Nares di sela-sela ia makan.
"Zahwa bersama dengan Robi mas. Tadi kebetulan aku bertemu dengannya di depan," jawabnya.
"Oh."
***
Jangan lupa like, komen, vote dan, gift🙏
Selamat membaca 💞
Terimakasih.
__ADS_1