
"Maaf nyonya, saya hanya ingin memberitahu. Bahwa tuan besar, dan tuan muda sudah sampai," ucap pelayan itu.
"Ya, terima kasih. Kamu boleh pergi," ujar mamah Anggun, dan pelayan itu pun pergi dari sana.
"Lebih baik kita pergi menemui semua orang," ucapnya pada sang besan dan juga Zoya.
Mamah Anggun pun pergi, dan diikuti oleh Zoya dari belakang.
Sementara ibu tiri Zahra ia masih diam berdiri, di tempatnya semula.
Dia menatap kedua orang yang sudah pergi masuk kedalam rumah itu dengan wajah kesal.
Seandainya mamah Anggun bukan berasal dari orang kaya, mana mungkin dia mau berbaik hati dengannya.
Semua orang sudah berkumpul, dari para tetangga dan juga para kerabat.
Termasuk dari keluarga Abimanyu pun sudah sampai di rumah sang besan tersebut.
"Kami turut berduka cita nak Nares. Kamu yang tabah," ucap tuan Banyu, pada Nares.
"Terima kasih tuan."
Setelah itu jasad dari Zahra pun kemudian diajikan sebelum di sholat kan, dan dimakamkan.
Setelah me-ngajikan jasad Zahra, kemudian jasad tersebut disholatkan dan dimakamkan.
Pada saat semua orang mengantarkan jasad Zahra di pusara tempat terakhirnya, Zoya beserta Zahwa tidak bisa mengantar ketempat peristirahatan terakhir untuk mendiang Zahra.
Lantaran sang mamah mertua tidak memperbolehkan dirinya untuk ikut ke pemakaman, dikarenakan kondisi dia sedang hamil, sang mamah takut, Zoya akan merasa lelah.
Dan mau tidak mau Zoya pun menurut apa yang diucapkan oleh mertuanya itu.
°°°
Hari berlalu, kini sudah tujuh hari dari peninggalan mendiang Zahra pada sang khalik.
Dan selama itu pula Nares tidak banyak bicara, ia seakan kembali pada Nares waktu remaja, yang memiliki aura dingin melebihi sang kakak.
Dan jika ia ditanya pun, maka ia akan menjawabnya dengan datar, dan hanya seperlunya saja.
Dan nanti malam, mereka akan mengadakan acara tujuh hari peninggalan mendiang Zahra.
Dan dari sinilah, semua orang tahu bahwa sang pengacara muda yang cukup terkenal itu, ternyata memiliki dua seorang istri.
Dan mungkin sudah menjadi kebiasaan, di acara berduka ini, masih saja ada beberapa orang yang membicarakan mengenai Nares memiliki dua orang istri.
__ADS_1
Ingin membungkam mulut julid para tetangga, namun mamah Anggun tidak ingin mencari masalah, yang bisa ia lakukan hanyalah diam, dan memberikan perhatian pada Zoya, agar dia bisa sabar mendengar kejulidan para ibu-ibu rempong itu.
Malam hari pun tiba, kini semua orang telah sampai di kediaman keluarga Syahputra, guna untuk menghadiri acara tahlil, untuk mendiang Zahra, yang ke tujuh.
Dan untungnya, acara ini hanya di hadiri oleh bapak-bapak komplek, dan juga beberapa anak yatim-piatu.
Sehingga membuat kepala mamah Anggun sedikit tenang, karena jika ada ibu-ibu komplek yang suka julid, sudah dapat di pastikan kepalanya akan sakit.
Acara pun dimulai, setelah membaca do'a dan lainnya yang biasa di lakukan untuk acara tahlil, acara tahlil pun selesai.
Dan kini tinggallah mereka, selaku keluarga inti. Yang terdiri dari, nyonya Kayla, tuan Banyu, pak Jamal, beserta istri dan anaknya.
Dan juga Nares, Zoya, serta Vio dan Jeffry. Dan untuk anak-anak, mereka sudah terlebih dahulu masuk kedalam dunia mimpi.
"Zoy, sebaiknya kamu tidur. Tidak baik, jika tidur larut malam, untuk kandungan mu," ucap nyonya Kayla, penuh perhatian.
Ketika ia melihat Zoya tengah membantu untuk membereskan sisa-sisa makanan tadi.
"Tapi ... "
"Tidak ada tapi, istirahatlah."
"Nares antar kan istrimu untuk ke kamar, tidak baik jika istrimu tidur terlalu larut malam," ucap nyonya Kayla lagi, pada Nares ketika ia melihat Nares melintas di hadapannya dan Zoya.
Nares pun berhenti dan menatap ke arah ibu mertua kakaknya itu dan juga istri keduanya.
"Antar istrimu masuk kedalam kamar."
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Zoya dengan halus.
"Tak apa ayo," ucap Nares dengan nada datar dan dingin.
"Sudah sana." Nyonya Kayla pun menyuruh Zoya untuk pergi bersama dengan Nares.
Zoya pun menurut, ia mengikuti suaminya itu yang sudah lebih dahulu jalan di depannya.
"Astaga," gumam nyonya Kayla, seraya geleng-geleng kepalanya, melihat sikap Nares pada semua orang.
Ia pun kembali melanjutkan kegiatannya tadi yang sempat tertunda.
"Terima kasih, kak," ucap Zoya, ketika ia sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Hm ya."
Mendengar ucapan dari suaminya itu, membuat Zoya sedih. Ia ingin sekali sikap suaminya itu kembali ke semula, tidak seperti awal ia bertemu dengannya.
__ADS_1
"Yasudah, aku masuk kedalam," ucap Zoya lagi, dengan pelan.
"Hm." Nares pun kembali berdeham.
Tanpa menunggu Zoya masuk kedalam kamar, Nares pun sudah pergi dari sana.
Melihat suaminya itu pergi, membuat Zoya menghela nafasnya, lalu ia buang dengan pelan.
Kemudian ia pun masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintu dan menguncinya.
Di dalam sana, Zoya menangis melihat sikap cuek suaminya pada dirinya.
"Apa benar ini salahku, gara-gara aku masuk kedalam kehidupan rumah tangga kak Nares, dan mendiang mbak Zahra, mbak Zahra pergi meninggalkan kita semua. Jika memang ia, kenapa dulu kakak tidak menceraikan aku saja, dan mengapa kakak terus mempertahankan aku," lirih Zoya, dengan suara yang dibarengi dengan air mata yang turun ke pipinya.
Setelah cukup lama menangis, kemudian ia pun tidur, dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya.
°°°
Di dalam kamar Nares, tak jauh beda dari Zoya, ia pun menangis.
Yang membedakan hanyalah, jika Zoya menangis karena sikap acuh suaminya, sementara Nares ia menangis karena merindukan sosok orang yang sangat ia cintai.
"Kenapa? Kenapa kamu meninggalkan mas begitu cepat Ara," lirihnya, seraya melihat foto dirinya bersama mendiang istri pertamanya itu.
Dibekap nya bingkai foto itu dalam dekapannya, kemudian ia menghapus air matanya.
Nares pun melihat ke arah samping, yang dimana putrinya itu yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Kemudian Nares, menaruh bingkai foto dirinya dan mendiang istrinya itu di atas nakas.
Setelah itu, ia pun mendekat ke arah putrinya yang sedang tidur itu.
Setelah berada di dekat putrinya yang tidur di tengah ranjang, Nares pun mencium kening putrinya itu dengan lama.
"Maafkan ayah, maaf," ucapnya dengan lirih.
Setelah itu, ia pun mencoba untuk memejamkan matanya.
°°°
Keesokan paginya, Nares pun sudah mulai bekerja kembali.
Awalnya ia enggan untuk masuk bekerja, tapi setelah dipikir-pikir lagi. Jika ia terus berada di rumah, maka sudah dapat di pastikan ia akan terus teringat dengan sosok mendiang istri pertamanya itu.
Jadi, sebab itu ia memutuskan untuk kembali bekerja.
__ADS_1
"Pagi semua," sapa Nares, seperti biasa dengan mimik wajahnya yang datar.
"Pagi." ...