
"Ya Allah, kenapa engkau menguji hamba tiada habisnya," lirih Nares, seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang menopang di pahanya.
"Istighfar nak, ini semua takdir. Kamu harus sabar," ucap mamah Anggun, meski ia pun tak bisa membendung kesedihan, tapi ia tidak pernah menyalahkan takdir yang menimpa keluarganya.
"Astagfirullah," gumam Nares, ia pun tersadar bahwa ia tidak boleh menyalahkan takdir, mungkin ini teguran yang Tuhan kasih padanya.
"Oh ya nak, kamu sudah menghubungi papah mu? Soalnya ponsel mamah mati, baterai nya habis," ucap mamah Anggun, sekaligus bertanya pada putra bungsunya itu.
"Belum mah. Yasudah, Nares hubungi papah dulu ya," jawab Nares.
"Iya nak."
Nares pun pergi untuk menghubungi papahnya itu, memberitahukan bahwa istrinya itu kini tengah mengalami kecelakaan, dan kini tengah di tangani.
"Mah biar aku gendong Zahwa," ucap Nares, ketika ia selesai menghubungi papahnya itu, dan melihat bahwa putri pertamanya sudah bangun dari tidurnya.
"Tidak apa sayang, biar mamah saja."
"Tapi mah, pasti mamah lelah karena terus menggendong Zahwa."
"Tidak mamah tidak lelah."
"Baiklah kalau begitu."
"Sus tunggu," ujar Nares, pada suster yang membawa bayi kembar Nares.
"Iya ada apa tuan?" tanyanya.
"Mm ... Begini, jenis kelamin anak-anak saya apa ya, sus?" jawab Nares, sekaligus bertanya, karena ia lupa tidak bertanya mengenai jenis kelamin bayi kembarnya tadi.
Dan suster itu pun tersenyum. "Anak pertama anda seorang laki-laki, dan begitupun dengan anak kedua anda, dan untuk anak ketiga anda perempuan."
Mendengar hal itu membuat Nares bahagia, ia tidak menyangka, ia akan dianugerahi empat anak, apalagi dua anak laki-laki dan dua anak perempuan.
Yang dimana anak pertama berasal dari mendiang istri pertamanya, dan yang ketiga anak kembarnya berasal dari istri keduanya.
"Terima kasih sus."
"Sama-sama tuan. Dan, mari ikut saya ke ruangan, anda belum meng-azani bayi anda, bukan."
"Jadi saya bisa melihat bayi saya?"
"Tentu saja tuan, mari."
Suster dan Nares pun pergi ke ruangan yang dimana bayi kembar Nares sedang di rawat, di sana hanya ada mamah Anggun dan juga Zahwa, yang masih setia duduk di kursi yang berada di luar ruangan operasi.
Tak lama Nares pun kembali ke sana, setelah selesai meng-azani bayi kembarnya.
"Keluarga pasien," ujar seorang dokter pria yang masih muda, yang baru saja keluar dari ruang operasi.
Karena di dalam sana, butuh beberapa dokter untuk melakukan operasi terhadap Zoya, antara lain ialah dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis bedah.
"Saya dok."
"Anda ... "
"Saya suaminya dok," ucap Nares, dan dokter muda itu pun mengangguk.
"Apa ada keluarga kandung dari pasien? Misal kedua orang tuanya, dan juga saudaranya?" tanya dokter itu.
__ADS_1
"Kedua orang tuanya sudah lama meninggal dok, dan untuk saudaranya, dia tidak memiliki saudara," jawab Nares dengan lesu.
"Apa terjadi sesuatu terhadap istri saya, dok?" tanya Nares.
"Begini pak, istri bapak mengalami pendarahan yang cukup hebat di bagian kepalanya. Beliau harus segera melakukan transfusi darah, agar nyawanya bisa tertolong, karena istri anda kekurangan darah, apalagi istri anda memiliki darah yang cukup langka ... Dan di rumah sakit itu sudah tidak memiliki stok darah yang sama dengan Sitti anda, karena stok tadi sudah di pakai pada saat istri anda melakukan operasi sesar," jelasnya.
"Jadi saya harap anda bisa membantu kami untuk mencari pendonor darah yang sama dengan istri anda, sebelum semuanya terlambat," jelasnya lagi.
Mendengar hal itu membuat Nares dan mamah Anggun syok, bagaimana caranya mereka menemukan pendonor darah yang cocok untuk Zoya.
"Apa di rumah sakit lain, atau di bank darah tidak memiliki stok darah yang sama dengan istri saya, dok?"
"Sayangnya tidak, kami sudah menghubungi beberapa rumah sakit, dan juga bank darah, namun hasilnya tetap sama, tidak ada satupun stok darah yang sama dengan istri anda," jawabnya.
"Apa! Lalu bagaimana dengan istri saya," ujar Nares, ia tak kuasa menahan tangisnya.
"Yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdo'a, supaya terjadi keajaiban yang menghampiri istri anda, kalau begitu saya permisi. Jika sudah ada pendonor nya maka hubungi kami." Dokter itu pun pergi meninggalkan Nares dan mamah Anggun yang tengah bersedih itu.
"Mah bagaimana ini, aku tidak mau kehilangan istriku lagi," ucap Nares, seraya duduk bersimpuh di lantai.
"Yang sabar sayang, kita berdo'a saja, semoga semuanya baik-baik saja."
"Nares sebenarnya apa yang terjadi, kenapa bisa Zoya kecelakaan?" tanya pak Putra dengan khawatir, sudah cukup putra bungsunya kehilangan istri pertamanya, namun kali ini ia berharap menantu keduanya itu tidak kenapa-kenapa.
Namun pada saat mendengarkan penjelasan dari sang istri, yakni mamah Anggun. Pak Putra pun merasa syok, begitupun dengan Jeffry dan Vio.
Keduanya memutuskan untuk ikut dengan sang papah, awalnya tadi, Jeffry dan Vio memang pergi ke rumah keluarga Jeffry, namun pada saat mereka sampai di rumah kedua orang tua Jeffry, mereka melihat sang papah yang keluar dengan tergesa-gesa.
Setelah sang papah menceritakan semuanya, tanpa banyak tanya, Jeffry pun langsung melakukan mobilnya menuju rumah sakit.
Setelah mamah Anggun menceritakan semuanya, Jeffry dan pak Putra pun langsung menghubungi orang-orang untuk membantu mencarikan mereka donor darah yang sama dengan Zoya, begitupun dengan Vio, dia meminta sang Daddy untuk membantu keluarga suaminya itu.
Dan sang mamah pun memberikan cucunya itu untuk digendong oleh menantu pertamanya itu.
Sementara Nares, ia masih dalam posisi yang sama, yakni duduk di lantai dengan tatapan yang kosong.
Kali ini dia benar-benar menyesal, karena tidak pernah membuka hatinya sedikit pun pada istri keduanya itu.
Dan pada saat ia mulai menyadari, bahwa ia pun memiliki perasaan cinta terhadap istrinya itu, justru ia menjadi orang yang pengecut tidak bisa berterus terang kepada istrinya itu, bahwa ia sudah mulai mencintai Zoya.
Dan dia malah bersikap dingin pada istrinya itu, dia menggurti dirinya sendiri, bahwa ia pria yang bodoh.
Setelah beberapa jam, tidak ada perubahan. Tidak ada satu orang pun yang mengabari bahwa ada pendonor darah yang cocok, semuanya mengatakan bahwa tidak ada golongan darah yang sama dengan Zoya.
Sampai tiba saatnya, seorang perawat keluar dari ruang operasi dan berlari menuju ruang pribadi dokter.
"Dokter apa terjadi sesuatu dengan istri saya?" tanya Nares, ia memaksa untuk berdiri, meski kakinya masih lemah.
"Anda tenang, saya akan memeriksa nya. Apa sudah ada pendonor yang cocok untuk pasien?" tanya dokter itu.
"Belum dok," jawab Nares lemah.
"Kalau begitu, kalian dan kita semua harus siap menerima apapun yang terjadi nantinya."
Setelah mengucapkan hal itu dokter itu pun masuk kedalam ruang operasi.
Mendengar hal itu, membuat Nares kembali terduduk di lantai.
Tak tega melihat kondisi adiknya seperti itu, Jeffry pun merangkul dan menenangkan sang adik.
__ADS_1
"Zoya kak," lirih Nares.
"Husstt tenanglah, semua akan baik-baik saja," ujarnya memberi pengertian.
"Tapi apa mungkin bisa, sementara tidak ada pendonor yang cocok untuk Zoya," pesimis Nares.
Dan hal itu membuat Jeffry tak bisa berkata lagi.
"Apapun itu, sebaiknya kita berdo'a saja, semoga Zoya cepat sembuh, dan mendapatkan pendonor darah yang sama," ucap sang papah, dan Nares pun mengangguk.
Satu jam sudah, dokter itu pun keluar dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Bagaimana dok?" tanya Nares dengan tidak sabar.
"Maaf, kami sudah melakukan sebisa mungkin. Karena pasien yang kehilangan banyak darah, maka ... Kami mengucapkan turut berduka cita, dan meminta maaf ... Karena kami tidak bisa menyelamatkan pasien," ucapnya dengan pelan.
"Apa!!! Itu tidak mungkin dok! Istri saya tidak mungkin meninggalkan saya, apalagi bayi kami baru lahir!!!" ucap Nares yang terduduk kembali di atas lantai, seraya menjambak rambutnya.
"Ini semua salahku, aku suami yang tidak berguna ... Seharusnya aku bisa melindungi istriku, lagi-lagi aku tidak bisa menjaga istriku. Aku memang pantas tidak disebut sebagai suami yang baik," lirihnya.
"Ini bukan salahmu, ini semua salah mamah. Jika seandainya mamah tidak ceroboh, semua ini pasti tidak akan terjadi," ujar sang mamah, ia pun memeluk putra bungsunya yang menangis.
Sebagai seorang ibu, pastinya tidak tega melihat keadaan putranya yang memperihatinkan, sudah cukup ia melihat Nares yang menderita atas peninggalan istri pertamanya, dan kali ini Nares pun diuji dengan peninggalan istri keduanya.
Sementara yang lain, hanya menatap merasa iba, sang dokter yang menangani Zoya pun pergi undur diri.
Sebenarnya sang dokter pun sudah melakukan hal apapun agar bisa menyelamatkan pasien, meski pun hanya sampai dia mendapatkan pendonor darah yang cocok untuk Zoya.
Namun karena Zoya yang kehilangan begitu banyak darah, dan takdir berkata lain.
Maka tidak akan ada yang bisa melawan dan menentang takdir.
Jika memang Tuhan sudah berkehendak untuk mengambil makhluk ciptaannya untuk kembali padanya, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya.
...~TAMAT~...
***
Alhamdulillah, akhirnya tamat juga๐ค
Menurut kalian, adil gak nih? Hehehe
Maafin aku ya, kalau alurnya tidak sesuai keinginan kalian๐๐
Oh ya, aku cuman pingin tau ... Kalian itu ingin cerita yang ku tulis ini happy ending or sad ending?
Kalau kalian pingin sad ending, maka aku gak akan kasih extra chapter, dan di tamat-in sampai episode ini saja.
Tapi kalau kalian ingin ceritanya happy ending, maka aku akan buat extra chapter.
So ... Kalian mau yang mana, mumpung aku baik nih๐ komen dibawah ya, agar aku tahu kalian mau yang mana.
Dan kalau gak ada yang komen, berarti fix episode nya sampai sini saja ... Sekali lagi maafin author ya, kalau ada yang salah dalam hal apapun ๐๐
Love, love, love, buat kalian semua yang sudah mau membaca karya ku yang remehan ini๐
Love you guys, and thank you guysโค๏ธ๐น
See you again ๐
__ADS_1