Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 62


__ADS_3

Nares kemudian beranjak dari tidurannya, ia kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil air minum karena merasa haus.


Tak lama Nares mendengar suara pintu yang sedang di buka.


Setelah meletakan gelasnya di meja makan, Nares pun melangkahkan kakinya ke ruang tamu, di sana ia melihat Zoya yang baru saja tiba.


"Kakak ada apa?" tanya Zoya, ketika melihat suaminya itu sudah berada di hadapannya.


"Ada yang ingin aku sampaikan, duduklah," jawab Nares, Zoya pun duduk di sofa, dan di susul Nares yang duduk di sebelahnya.


"Begini. Yang kamu lihat tadi di cafe itu tidak benar, dia hanya klien ku saja," ucapnya.


Dan hal itu berhasil membuat Zoya tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha." Zoya pun tertawa, seraya memukul Nares. Itulah Zoya, jika ia sedang tertawa maka ia akan memukul orang yang berada di sampingnya.


"Kenapa kamu tertawa?" Nares pun bingung dengan istrinya itu, ia berniat menjelaskan agar tidak terjadi salah paham, malah istrinya itu mentertawakan dirinya.


"Ya, habisnya kakak lucu," jawabnya masih dengan tawa dan juga memukul Nares.


"Lucu? Maksud mu?"


"Huh. Iya lucu, untuk apa kakak menjelaskan hal itu, lagian aku tau kok. Kakak tidak mungkin punya wanita lain, ya meskipun tadi aku sempat kesal dan cemburu, melihat wanita tadi yang terus saja mencari cara agar kakak tergoda olehnya," jelas Zoya, ketika ia sudah berhasil menetralkan dan menghentikan tawanya.


"Ck. Kalau begitu aku tidak akan menjelaskannya padamu," ucap dingin Nares.


"Kakak marah? Cie, kakak marah." Bukannya meminta maaf, Zoya justru malah meledek suaminya itu, seraya mencolek dagu suaminya.


"Oh, jadi kau ingin bermain-main denganku? Baiklah akan ku ladeni kau." Nares pun mulai menggelitik pinggang Zoya, dan hal itu berhasil membuat Zoya berbaring di atas sofa.


"Mm, rasakan ini!!" Nares pun langsung menggellitik pinggang istrinya itu.


"Hahahaha, ampun kak," ucap Zoya, ia sudah tidak tahan dengan rasa geli di pinggangnya.


"Apa, aku tidak dengar?" Nares pun terus menggelitik pinggang Zoya, sampai ia tak sengaja jatuh di atas Zoya karena kurang menjaga keseimbangan.


Keduanya sama-sama saling tatap dengan begitu dalam, sampai akhirnya Nares beranjak dari tempatnya, lalu ia mulai menggendong Zoya menuju kamar mereka.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 wib.


Setelah bercinta dengan suaminya, dan berakhir pada saat waktu menuju Maghrib.

__ADS_1


Dan setelah menyelesaikan ibadah nya bersama dengan suaminya itu, kini Zoya tengah rebahan di ranjangnya, dengan hanya memakai tangtop dan juga celana hotpants.


Sementara suaminya, kini masih berada didalam kamar mandi, lantaran tadi Nares terkena tepung pada saat ia ingin mengambil sesuatu di rak atas, namun sayangnya ia menyenggol tempat tepung, yang dimana tutupnya itu tidak tertutup rapat, dan alhasil semua tepungnya tumpah mengenai kepala dan tubuhnya.


Dan karena itu pula ia harus mandi untuk kedua kalinya.


Cklek. Pintu kamar mandi pun terbuka dan menampilkan Nares, yang sudah memakai pakaian lengkapnya.


Nares pun berjalan ke arah Zoya, seraya menggulung lengan bajunya.


"Kaka mau pulang sekarang?" tanya Zoya, ketika Nares duduk di sampingnya.


"Iya."


"Yasudah, hati-hati," ucap Zoya seraya menyalim punggung tangan suaminya itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Nares, setelah ia mengacak rambut istrinya itu, itulah yang sering dilakukan oleh Nares, ketika Zoya menyalim punggung tangannya.


"Wa'alaikum salam," jawab Zoya.


Tak lama ia melihat suaminya itu sudah hilang dibalik pintu kamarnya.


°°°


Zahra pun hanya tinggal menunggu Nares pulang, sementara bi Darmi ia sudah pulang ke rumahnya, dan anaknya sudah terlelap dalam tidurnya.


Tak lama ia pun mendengar suara mobil, yang ia yakin itu adalah suara mobil dari suaminya. Zahra pun bergegas pergi keluar untuk menyambut suaminya itu.


Di luar, Zahra pun tersenyum dan langsung menyalim punggung tangan suaminya itu, dan dibalas oleh Nares dengan ciuman di keningnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Nares.


"Wa'alaikum salam," jawab Zahra.


Nares dan Zahra pun sama-sama masuk kedalam rumah, dengan Zahra membawa tas kerja suaminya.


"Oh ya mas. Mau mandi dulu, atau langsung mau makan?" tanya Zahra.


"Mm, langsung makan. Soalnya, aku suka dah mandi di apartemen," jawab Nares.


Zahra pun hanya tersenyum, kemudian mereka pun pergi ke meja makan.

__ADS_1


Setelah berada di sana, Nares pun langsung duduk, dan Zahra pun langsung mengambilkan suaminya itu makan malam.


Setelah itu Zahra pun langsung duduk di samping suaminya, dan mulai mengambil makanan untuk dirinya.


"Kenapa tidak dimakan? Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Zahra, melihat suaminya itu diam dan belum menyentuh makanannya.


"Mm, mas cuman mau, mau ... Maaf. Maaf, tadi habis bertemu klien, mas pergi ke apartemen terlebih dahulu. Karena ada yang ingin mas bicarakan dengan Zoya, jadi sebab itu, mas langsung mandi di sana," jawabnya, sekaligus menjelaskan.


Dan Zahra pun hanya tersenyum, mendengar penjelasan dari suaminya itu.


"Tak apa mas, aku mengerti." Zahra pun berbicara sekaligus memegang punggung tangan suaminya.


"Lebih baik, mas langsung makan," ujarnya.


"Terima kasih, sudah mah mengerti mas," ucapnya, sambil membalas tangan Zahra yang tengah memegang tangannya.


Mereka pun mulai makan bersama.


Setelah selesai makan malam, Nares dan Zahra kini tengah bersiap untuk tidur.


Seperti biasa, jika bersama Zahra, istri pertamanya, Nares selalu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek jika tidur.


Nares pun naik ke atas ranjang menyusul sang istri yang sudah terlebih dahulu berada di tempat tidur mereka, setelah mencium wajah cantk putrinya yang sudah terlelap dalam tidur itu.


Pada saat suaminya sudah berada di sampingnya, atensi Zahra teralihkan oleh tanda merah yang berada di dada bidang sang suami, bukan hanya satu melainkan ada tiga tanda merah.


"Jadi urusan mu dengan Zoya, bikin adik untuk Zahwa?" tanya Zahra dengan senyum manis.


Mendengar pertanyaan itu membuat Nares bingung.


"Maksud mu, mas tidak paham?"


Zahra pun menunjuk ke dada bidang suaminya yang terdapat tanda merah di sana, setelah melihat apa yang di tunjuk oleh istrinya, seketika membuat Nares merasa malu.


Bagaimana bisa ia lupa jika Zoya sering membuat tanda di dada bidangnya, ketika mereka bercinta.


Nares benar-benar merasa malu, dan juga merasa bersalah, ia seakan-akan sudah kegep selingkuh oleh istrinya.


"Maaf," ucapnya, Nares pun turun dan ingin memakai baju untuk ia pakai, namun dihalangi oleh Zahra dengan memegang tangannya.


"Ada apa?" tanyanya melihat tangannya di pegang oleh istrinya.

__ADS_1


***


Selamat membaca 💞


__ADS_2