
Setelah masuk kedalam ruangannya, Nares melihat pamannya sudah berada di ruangannya.
"Assalamu'alaikum, paman," ucapnya ketika sudah berada di ruangannya.
"Wa'alaikum salam," jawab sang paman yang tengah duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Ada apa paman? Apa ada hal sesuatu yang penting?" tanya Nares, ketika ia sudah duduk di sofa yang berhadapan dengan sang paman.
"Tidak ada. Hanya saja, tadi paman dapat undangan dari salah satu kolega mu, untuk hadir di acaranya. Kamu bisa hadir, kan. Masalahnya paman tidak bisa hadir, karena istri paman, bibi mu sedang sakit," jawabnya.
"Iya paman, Nares bisa. Dan Nares turut prihatin semoga bibi cepat sembuh, memangnya bibi sakit apa?"
"Hanya demam biasa," jawab sang paman.
"Tapi di tamu undangan itu, kamu harus bawa pasangan. Itu sebabnya paman tidak bisa hadir," ujar sang paman lagi.
"In syaa Allah, Nares akan hadir bersama istri Nares."
"Sebaiknya seperti itu, agar kolega-kolega kamu tau istri kamu, dan tidak penasaran lagi," ucap paman dengan bercanda.
"Iya paman."
"Yasudah kalau begitu, paman ke ruangan paman dulu." Nares pun hanya mengangguk, dan sang paman itu pun pergi ke ruangannya, yakni ruangan Co-CEO.
Sementara Nares, ia bingung. Siapa yang akan di bawa ke pesta nanti, Nares pun menghela nafas, kemudian ia sandarkan tubuhnya di sofa, seraya memijit pangkal hidungnya.
"Siapa ya kira-kira. Zahra, sepertinya dia tidak mau, tau sendiri dia orangnya pemalu, apalagi dia belum pernah datang kemari, dia hanya datang ke kantor pengacara ku saja," monolognya.
Yea, Zahra memang tidak pernah datang ke perusahaan milik keluarga Nares, pernah waktu itu Nares mengajaknya, namun ia bersikeras tidak mau ikut.
Ia beralasan tidak pantas, padahal Nares sudah menjelaskan bahwa Zahra pantas jadi istrinya dan pantas untuk datang ke perusahaan milik keluarganya.
Jadi sebab itu pula, orang-orang yang bekerja di kantor tidak ada yang tau sosok istri dari seorang pengacara sekaligus CEO di perusahan mereka bekerja.
Ditambah lagi pernikahan Nares dan Zahra hanya di hadiri oleh keluarga, saudara, dan teman dekat.
"Coba nanti aku akan bicarakan, siapa tau nanti dia mau," monolognya lagi.
Nares pun beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya ke meja kerja, siapa tau ada berkas yang harus ia tanda tangani.
Dan benar saja, di atas meja sudah ada beberapa file berkas kerja yang harus ia tanda tangani.
°°°
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Nares pun pulang. Namun sebelum pulang ke apartemennya, ia berencana untuk pulang ke rumahnya menemui istri pertamanya, Zahra.
__ADS_1
Karena ia ingin membahas mengenai undangan pesta dari salah satu koleganya. Nares berharap Zahra mau datang ke pesta bersamanya.
Bukan maksud Nares tidak mengaggap Zoya, tapi menurutnya Zahra lah yang pantas mendampingi dirinya, karena Zahra sudah menemani dirinya selama satu tahun ini.
Tapi jika Zahra tidak ingin pergi, maka ia pun akan mengajak Zoya, karena mau bagaimana pun Zoya adalah istrinya juga.
Setelah mengirim pesan kepada istri keduanya itu, Nares pun menjalankan mobilnya menuju rumahnya.
Tak lama ia pun sampai di rumah, dan ia pun langsung masuk kedalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Wa'alaikum salam," jawab Zahra.
"Loh mas, kamu kesini ada apa?" tanyanya setelah menyalim punggung tangan suaminya.
"Ada yang ingin mas bicarakan sama kamu," jawab Nares, setelah mencium kening sang istri.
"Apa?"
"Tapi sebelum itu, mas mau mandi dan sholat dulu, boleh."
"Boleh mas. Yaudah, kalau gitu aku siapin air untuk mandi dan juga baju kamu."
Mereka berdua pun masuk kedalam kamar mereka.
"Oh ya, dimana Zahwa?" tanya Nares disela-sela mereka menaiki tangga menuju lantai dua.
"Zahwa ada di taman belakang sama bi Darmi, mas," jawab Zahra.
Dan Nares pun hanya ber 'oh-ria' seraya mengangguk.
Setelah mereka sampai di kamar mereka, Zahra pun langsung membantu suaminya membuka pakaiannya.
Setelah itu Nares pun langsung masuk kedalam kamar mandi, hanya menggunakan celana boxer-nya saja.
Sementara Zahra, ia lebih memilih untuk turun kebawah, setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Beberapa menit kemudian, Nares pun selesai mandi, kemudian ia memakai pakaian yang sudah istrinya itu siapkan.
Setelah itu, ia pun menyusul istrinya.
Dan disini lah mereka berada di taman belakang, dengan satu cangkir kopi dan satu piring kue, yang menemani obrolan mereka.
Sementara putri mereka masih bersama dengan bi Darmi.
__ADS_1
"Mas bilang ada yang ingin dibicarakan denganku, apa?" tanya Zahra, setelah beberapa saat keheningan.
"Mas cuman mau bilang. Kamu bisa tidak, besok malam ikut mas untuk menghadiri undangan pesta dari salah satu kolega mas di perusahaan," jawab Nares.
"Mm ... Kenapa bukan Zoya saja, mas."
"Sayang, mas tau Zoya pun sama istri mas. Tapi kamu adalah istri pertama mas, kamu yang lebih dulu menemani mas, jadi sebab itu mas bertanya padamu lebih dulu. Kamu bisa tidak ikut sama mas, lagi pula ... Mas berharap kamu ikut, supaya kolega-kolega dan beberapa teman mas tau kalau kamu istri mas," jelasnya.
"Tapi kamu tau kan, mas. Kalau aku kurang nyaman jika menghadiri pesta seperti itu, jadi lebih baik, mas ajak Zoya saja," ujarnya.
"Kamu yakin? Kamu tidak akan menyesal, mas bawa Zoya ke pesta dan nantinya beberapa rekan kerja mas dalam bisnis cuman tau kalau Zoya adalah istri mas?" tanyanya, karena sejujurnya Nares kecewa terhadap istrinya itu selalu menolak ajakannya setiap kali ia mengajak ke acara yang menyangkut perusahaan.
"Tak apa mas. Lagipula aku tidak perlu pengakuan dari mereka, yang jelas aku memang istrimu," jawabnya.
"Huffstt, yasudah jika kamu memang tidak mau. Mm ... Sebaiknya aku pulang ke apartemen," ucapnya.
Nares pun berdiri dari duduknya, begitupun dengan Zahra, ia pun ikut berdiri.
"Apa mas marah?" tanya Zahra, karena ia tak enak hati karena selalu menolak ajakan suaminya itu untuk pergi ke setiap acara perusahaan milik keluarga suaminya itu.
"Tidak," jawab Nares seraya tersenyum.
Mereka berdua pun melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
Setelah bermain sebentar dengan putrinya, Nares pun pergi ke apartemennya bersama dengan Zoya.
°°°
Di apartemen.
Kini hari pun sudah malam, dan waktu sudah menunjukkan pukul 21:00 wib.
Seperti biasa, setelah menyelesaikan pekerjaan kampus nya, Zoya menonton serial drama kesukaannya.
Kali ini ia menonton di ruang tv, bersama dengan suaminya, Nares.
"Zoya," panggil Nares, pada sang istri yang tengah menyenderkan kepalanya di dada bidangnya.
"Iya kak."
***
Jangan lupa like, komen, vote, dan gift 🙏
Thank you 😘
__ADS_1