
"Lepaskan saya!!!" Paman Robert terus saja memberontak.
"Jangan lupa, datang ke kantor polisi dan bawa pengacara kita. Agar aku cepat bebas!!" teriak paman Robert pada istrinya itu, ketika ia hendak dimasukkan kedalam mobilnya.
°°°
Disisi lain, kini Jeffry dan Nares sudah berada di kantor polisi.
Awalnya Nares menolak untuk ikut ke kantor polisi ketika sang kakak menemuinya di unit apartemennya.
Lantaran ia harus menjaga Zoya, yang masih saja ketakutan.
Namun Jeffry terus saja memaksa, alhasil ia pun meminta Zahra untuk menemani Zoya sementara.
Itung-itung, jika ada kehadiran Zahra dan Zahwa putrinya, bisa membuat Zoya melupakan kejadian yang menimpanya waktu pagi tadi.
Terlebih lagi Zoya sangat suka dengan anak kecil, jadi sebab itulah Nares meminta istri pertamanya itu membawa Zahwa sekalian ke apartemen.
Tak lama mobil yang mereka tumpangi pun sampai di kantor polisi.
Nares dan Jeffry pun masuk kedalam, di sana ternyata sudah ada istri dan anak Robert. Yang tengah berbincang dengannya itu.
Nares dan Jeffry pun tak memperdulikan mereka, mereka berdua pun langsung masuk kedalam ruangan kepala pemimpin polisi itu.
Di sana mereka sudah disambut oleh komandan dan juga satu orang yang menangani kasus yang menimpa istrinya Nares, yakni Zoya.
"Selamat siang," sapa komandan tersebut.
"Siang." Nares dan Jeffry pun membalas jabatan tangan dari pemimpin kepolisian itu.
"Saya ucapkan terima kasih sudah mau menangkap para penjahat yang sudah mencelakai istri saya," ucap Nares.
Kini mereka tengah duduk berhadapan dan hanya dihalangi oleh meja saja.
"Sudah menjadi kewajiban kita sebagai aparat kepolisian untuk memberantas kejahatan yang terjadi dilingkungan masyarakat."
"Oh ya, saya ingin memberikan beberapa bukti, agar pria yang bernama Robert itu mendapatkan hukuman yang setimpal dari perbuatan yang dia lakukan," ucap Nares seraya memberikan amplop coklat yang berukuran besar.
Di sana terdapat beberapa bukti atas kecurangan Robert selama ini, dan juga beberapa kejahatan yang dilakukan oleh Robert.
Termasuk tentang kematian dari Daddy dan mamahnya Zoya. Ya, Robert lah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa keluarga Zoya, sehingga Daddy, mamah, beserta adiknya meninggal akibat kecelakaan tersebut.
"Baik. Saya ucapkan terima kasih, dan saya pastikan, pria itu akan mendapatkan hukuman sesuai dengan kejahatan yang ia perbuat," ujar kepala polisi itu, setelah melihat berkas-berkas tentang kejahatan Robert selama ini.
__ADS_1
°°°
Di ruang penjenguk-an. Robert beserta istri dan anaknya, kini mereka tengah berbincang.
Robert marah kepada istrinya itu, kenapa ia tak datang bersama seorang pengacara.
"Kenapa kamu tidak membawa seorang pengacara?" tanyanya.
"Bagaimana aku membawa seorang pengacara, sementara aku tak punya uang untuk menyewanya," jawab sang istri.
"Apa maksudmu. Bukankah kita memiliki tabungan?"
"Tabungan itu, untuk menyewa kontrakan untuk diriku dan juga Soraya."
"Apa!! Tapi untuk apa kau menyewa kontrakan? Bukankah kita memiliki rumah?"
"Ya itu dulu, tapi tidak lagi. Apa kau tau? Barusan aku didatangi oleh pihak bank, mereka bilang bahwa rumah itu akan disita. Karena kamu sudah menunggak tidak membayar hutang-hutang mu," jawabnya dengan kesal.
"Apa!!!" pekik Robert.
"Sudahlah. Kami datang kemari, hanya ingin bertanya padamu. Apa kamu masih mempunyai aset-aset ataupun tabungan yang lain?" tanya sang istri.
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab Robert justru malah balik bertanya.
Ya, memang setelah penangkapan Robert. Tak lama, mereka kedatangan dari pihak bank, dan memberitahukan bahwa mereka harus meninggalkan rumah mereka karena rumah tersebut sudah disita.
Lantaran Robert tak melunasi semua hutang-hutang nya, padahal rumah itu bukanlah milik Robert, melainkan milik Daddy angkat Zoya.
Namun karena keserakahan Robert ia bukan hanya mengambil alih seluruh harta Alex, ia juga mengambil rumah milik mendiang kakaknya itu.
Dan bukannya mengelola perusahaan dengan baik, Robert malah bermain curang, ia kerap kali menggelapkan dana perusahaan, dan ia kerap kali meminjam uang kepada bank.
Alhasil ini lah yang ia tuai sekarang, ia bangkrut ditambah lagi ia harus terkena kasus penculikan karena ulahnya sendiri.
Mendengar hal itu Robert hanya diam, ia tak lagi berbicara apapun, sampai salah satu sipil menyampaikan bahwa waktu menjenguknya telah habis.
Robert pun kembali ke sel nya, sementara istrinya dan juga anaknya memilih untuk pulang.
Diluar kantor polisi, mereka tak sengaja berpas-pasan dengan Nares dan Jeffry.
Nares dan Jeffry pun memilih acuh, keduanya segera memasuki mobil mereka dan melakukan mobilnya meninggalkan kantor polisi itu.
Sementara Soraya dan mamahnya, masih menunggu taksi yang akan mereka tumpangi. Setelah mendapatkan taksi, mereka pun masuk kedalam taksi.
__ADS_1
Untuk sementara waktu mereka akan menginap di hotel terlebih dahulu, untung saja tabungan mereka ini cukup untuk menyewa hotel meski bukan hotel bintang lima.
"Mah. Apa salah satu pria tadi suaminya Zoya?" tanya Soraya kepada mamahnya.
"Mana mamah tau, mamah belum pernah bertemu dengan suami dari anak sialan itu," jawab sang mamah.
°°°
Di apartemen Nares dan Zoya.
Kondisi Zoya saat ini masih tetep sama, ia masih saja ketakutan jika seorang diri.
Beruntung ada Zahra dan putrinya Zahra dan Nares, yaitu Zahwa. Yang menemani Zoya di apartemen, meski Zoya masih enggan untuk keluar dari kamarnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Nares ketika ia sudah berada di dalam unit apartemennya.
"Wa'alaikum salam," jawab Zahra, yang baru saja dari dapur. Ditangannya ia sedang memegang nampan berisi makanan dan juga satu gelas air minum.
"Mas, kamu sudah pulang? Maaf, aku tak bisa menyalim tangan kamu mas."
"Tak apa, itu buat siapa?" tanya Nares.
"Oh ini buat Zoya, tadi dia sudah mau minta makan. Soalnya dari tadi dia belum mau makan, jadi karena dia yang minta, aku masakin dia makan," jawabnya.
"Oh. Yasudah, kalau begitu ayo kita ke kamar," ajak Nares.
Mereka pun masuk kedalam kamar, di sana mereka dapat melihat Zoya yang kini tengah mengajak babby Zahwa bermain, sesekali Zoya pun tersenyum.
Melihat hal itu membuat Nares lega, pasalnya Zoya tak lagi diam dan bengong.
"Assalamu'alaikum," ucapan Nares mengehentikan kegiatan Zoya yang tengah mengajak babby Zahwa bermain.
"Wa'alaikum salam, kakak ... Kakak sudah pulang," ujarnya, ia pun segera turun dari ranjangnya dan memeluk Nares dengan kuat.
Mendapatkan pelukan dari Zoya secara tiba-tiba, hampir membuat tubuh Nares nyaris jatuh.
Namun untungnya ia bisa menahan tubuhnya sendiri.
***
Selamat membaca 🌷
Terimakasih 🙏
__ADS_1