
Setelah sampai di ruang tv, mereka pun duduk bersama di sofa panjang yang ada di ruangan itu.
"Ada apa ka?" tanya Zoya, ketika mereka sudah duduk di sofa.
"Ini." Nares pun memberikan ponsel yang ia beli kepada Zoya.
"Apa ini?" tanya Zoya, setelah menerima ponsel pemberian Nares.
"Itu ponsel untukmu, agar aku bisa menghubungi dirimu," jawab Nares.
"Terima kasih ka."
"Ya."
"Oh ya, ada satu hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Nares.
"Apa kak."
"Begini, aku hanya ingin bilang. Apakah kamu mau melanjutkan pendidikan mu?" tanya Nares.
Mendengar pertanyaan Nares, membuat Zoya bingung. Sejujurnya ia ingin sekali berkuliah di universitas impiannya, namun apa daya, sekarang dirinya tidak mempunyai uang untuk kuliah.
Melihat Zoya yang diam saja, membuat Nares kesal karena ia tak banyak waktu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir masalah biaya, aku yang akan membayarnya," ucap Nares, dan seketika membuat Zoya menatap ke arahnya.
"Benarkah," dengan sorot mata yang berbinar-binar.
"Ya, jadi jawab saja, apa kau ingin kuliah?" tanyanya lagi, dan kali ini Zoya pun langsung mengangguk kan kepalanya.
"Baik, nanti akan aku daftarkan kamu di salah satu universitas yang ada di kota ini. Tapi sebelum itu, aku ingin tau kau ingin masuk dalam jurusan apa?"
"Aku ingin masuk dalam jurusan desainer, karena waktu kecil aku ingin menjadi seorang designer yang terkenal."
"Baik, nanti akan aku daftarkan."
"Yasudah, ini kartu untuk keperluan dirimu, seterah kau ingin berbelanja apa, tapi aku berharap kau menggunakannya dengan membeli barang yang kamu perlukan," ucap Nares, seraya memberikan sebuah kartu ATM kepada Zoya.
"Apa aku tidak masalah memegang kartu ini, aku takut akan menghilangkan nya," ujar Zoya, setelah menerima kartu yang diberikan oleh Nares.
"Ya kalau begitu jangan sampai hilang!" tekannya.
Dan hal itu membuat Zoya cemberut.
"Sudah jangan cemberut, oh nanti mulai besok ada asisten rumah tangga yang akan membantu dirimu membersihkan apartemen, sekaligus membuatkan mu makanan untuk kau makan," ujarnya.
Nares pun berdiri, dan melangkahkan kakinya ke arah dapur, di sana ia membersihkan kekacauan yang dibuat oleh istri kecilnya.
__ADS_1
"Kak, biarkan aku saja," ucap Zoya setelah melihat suaminya itu membersihkan dapur yang sudah ia buat berantakan.
"Apa kau bisa?" Bukannya mendengar, justru Nares malah bertanya.
Dan seketika membuat Zoya menggelengkan kepalanya, Nares pun melanjutkan pekerjaannya membersihkan dapur, sementara Zoya hanya duduk di kursi makan, seraya melihat suaminya tengah membersihkan dapur, sungguh istri yang Solehah bukan? Wkwkkw.
Setelah selesai membersihkan dapur Nares pun menghampiri Zoya yang duduk di kursi di meja makan.
Ia pun duduk di hadapan Zoya, namun sebelum ia berucap tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada orang yang menghubunginya.
Ia pun mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, kemudian ia melihat siapa yang menghubunginya, yang ternyata adalah istrinya lah yang menghubungi dirinya.
Tak lama ia pun mengklik tombol yang berwarna hijau.
"Halo assalamu'alaikum, ada apa sayang?"
Mendengar kata "sayang" membuat Zoya yakin yang menghubungi Nares adalah istrinya.
"Iya, mas akan pulang secepatnya. Memangnya ada apa sih? Sepertinya istri mas ini gak sabaran banget."
"...."
"Iya-iya, Humairah ku, mas akan pulang sekarang. Yasudah kalau begitu assalamu'alaikum."
__ADS_1
Nares pun mematikan teleponnya, ia tersenyum-senyum sendiri, ia pun tak sabar ingin pulang ke rumahnya dan melihat wajah istrinya, pasti wajah istrinya itu sudah memerah seperti kepiting rebus.