Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 33


__ADS_3

Dengan menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Nares sampai di tempat tujuan, yakni pantai.


Di sana keadaannya cukup ramai, karena memang hari itu adalah hari weekend yang dimana semua orang pasti akan pergi jalan-jalan, dan tidak sedikit mereka akan pergi jalan-jalan ke pantai.


Zoya pun sangat senang ketika mereka sudah sampai di pantai.


"Ayo kak, kita pergi ke sana," ajak Zoya pada Nares.


"Sebaiknya kita makan dulu," ucap Nares, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul jam dua belas siang.


Mau tak mau Zoya pun menurut, mereka pun pergi ke restoran yang ada di pantai itu. Nares dan Zoya memilih duduk di kursi yang menghadap ke arah laut.


Di sana mereka memesan makanan seafood dan juga jus alpukat.


Selesai makan, Zoya pun langsung berlari menuju bibir pantai. Sementara Nares, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri kecilnya itu.


Ia pun menyusul Zoya yang tengah asik bermain air di bibir pantai.


"Kau senang?" tanya Nares, setelah berada di sisi Zoya.


"Tentu saja," jawabnya yang masih asik bermain air itu.


"Kita ke sana yuk," ajak Nares ke arah pantai yang lumayan sepi tidak ada orang.


"Buat apa, di sana tidak ada siapa-siapa, kakak ingin mojok ya?" tanyanya, seraya matanya memicing curiga.


Tak. Nares pun menyentil kening Zoya. "Jangan berpikir negatif Mulu," ujarnya.


"Hehehe maaf."


Nares pun menggandeng tangan Zoya dan menariknya ke arah yang sepi.


"Nah disini kan enak, tidak banyak orang," ujarnya ketika sudah berada ditempat itu.


"Kenapa kakak lebih suka tempat yang sepi?" tanya Zoya, kini mereka tengah duduk di pasir, seraya melihat ke arah laut yang luas.


"Sejujurnya aku tidak suka keramaian, aku lebih suka tempat yang sepi dan sunyi," jawabnya, dan Zoya pun hanya mengangguk.


Zoya pun berdiri dari duduknya, lalu ia melangkahkan kakinya ke arah air laut, di sana ia memainkan air, sesekali ia berhadapan dengan ombak, seakan-akan dirinya tengah bertarung dengan ombak itu.

__ADS_1


Nares hanya memperhatikan tingkah Zoya di bibir pantai, ia masih dalam posisinya semula, yakni duduk di pasir seraya menautkan kedua tangannya ke kakinya yang tengah ditekuk itu.


Ia pun tersenyum, sungguh ia bahagia melihat Zoya bahagia. Entah apa yang Nares rasakan selama ini jika berada di dekat Zoya, ia masih belum mencintai Zoya, namun jika boleh jujur, Nares sudah merasa nyaman jika berada di dekat Zoya.


Mungkin Nares sudah menganggap Zoya sebagai adiknya, jadi itulah ia sudah merasa nyaman.


Zoya yang melihat ke arah Nares, tiba-tiba ia mempunyai ide untuk menjahili suaminya itu. Ia pun berjalan ke arah Nares, setelah berada di hadapan Nares, kemudian Zoya menyuruh Nares untuk berdiri.


Nares pun menurut, ia berdiri dari posisi duduknya, setelah Nares berdiri, Zoya menuntun Nares ke tengah pantai.


Kemudian tanpa di duga ia malah mencipratkan air ke Nares, Nares pun tak terima ia hendak mencipratkan kembali, namun Zoya justru berlari untuk menjauh dari Nares.


Nares pun tak tinggal diam, ia pun mengejar Zoya, dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara Zoya dan Nares.


Tak lama Nares pun berhasil menangkap Zoya, Nares menangkap pinggang Zoya dari belakang.


"Kena kau," ujar Nares, setelah berhasil menangkap Zoya.


"Ahhhh ampun," Zoya pun berusaha melepaskan tangan Nares dari pinggangnya.


"Tidak mau." Nares pun semakin erat memeluk pinggang Zoya, ia bahkan meletakkan dagunya di bahu Zoya.


Zoya pun tak lagi memberontak, akhirnya mereka berdua menikmati matahari yang mulai tenggelam itu.


Nares pun semakin erat memeluk Zoya, dan Zoya hanya bisa memejamkan matanya seraya memegang tangan Nares yang melingkar di pinggangnya.


Setelah cukup lama keduanya dalam keheningan, Nares pun membalikkan badan Zoya agar menghadap ke arah mereka.


Tangan Nares masih setia memegang pinggang sang istri, sesekali ia merapihkan helai rambut Zoya yang terkena angin itu ke bagian kuping.


Zoya pun memegang wajah Nares dengan kedua tangannya, ia mengusap pipi Nares perlahan, Nares pun memejamkan matanya, karena Zoya yang tengah mengusap kedua pipinya.


Nares pun membuka kembali matanya, setelah Zoya selesai mengelus kedua pipinya.


Pandangan mata mereka pun saling beradu, tangan Zoya yang kini sudah dikalungkan ke leher suaminya, sementara Nares masih setia memeluk pinggang Zoya.


Keduanya saling menatap sampai akhirnya, kedua bibir mereka menempel, dan terjadilah pertukaran saliva antara keduanya.


Setelah cukup lama berciuman, ditambah lagi mereka harus menghirup pasokan oksigen, karena oksigen mereka hampir habis akibat ciuman dari keduanya.

__ADS_1


Mereka berdua saling diam, dengan menyatukan kedua keningnya, sehingga kedua hidung mancung Zoya dan Nares beradu.


Nares pun menghapus bekas ciumannya di bibir Zoya menggunakan ibu jari, sementara Zoya hanya bisa memejamkan matanya.


Cup. Satu kecupan singkat diberikan Nares ke bibir Zoya, setelah ia membersihkan bibir Zoya.


"Kita pulang," ucap Nares setelah menegakkan badannya, namun ia tetap memeluk pinggang ramping sang istri.


"Tapi kita belum berfoto, apalagi aku belum lihat sunset," ujar Zoya.


"Baiklah."


"Terima kasih," ucap Zoya dengan senyum manisnya, dan dibalas anggukan oleh Nares.


"Oh ya, kau bilang ingin berfoto? Sini biar aku foto, kan."


Zoya pun menyerahkan ponselnya ke Nares, kemudian ia berpose cantik dan berpose ala-ala selebgram.


Puas berfoto, Zoya pun mengajak Nares untuk berfoto berdua dengannya, dan dengan senang hati Nares menurutinya.


Mereka pun meminta tolong kepada salah satu pengunjung, yang kebetulan juga sedang berada di dekat mereka.


Mereka berdua pun berpose layaknya sepasang kekasih, setelah puas berfoto, mereka berdua pun kembali duduk di pasir melihat matahari yang sebentar lagi terbenam.


"Kak tolong foto kan aku lagi," pinta Zoya pada Nares, ketika hari sudah senja dan matahari pun sudah mulai menghilang.


"Baik, habis ini kita pulang."


"Oke."


Nares pun memfoto Zoya, yang tengah berdiri menghadap ke arah matahari yang terbenam.


Setelah mengambil foto, mereka pun melangkahkan kakinya menuju parkiran, setelah di parkiran, mereka langsung masuk mobil dan bergegas untuk pulang ke apartemen.


Namun sebelum pulang, Nares singgah terlebih dahulu di sebuah masjid, karena ingin menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim, begitupun dengan Zoya.


°°°


Disisi lain, Zahra yang masih tinggal di rumah kedua orang tua Nares, kini merasa risau.

__ADS_1


Ia merasa bahwa suaminya itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Meskipun sikap Nares terhadap dirinya tak pernah berubah, namun nalurinya sebagai seorang istri merasa bahwa suaminya itu...


__ADS_2