Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 45


__ADS_3

"Kakak kemana aja? Bukankah tadi kakak bilang, kakak tidak akan meninggalkan aku?" tanya Zoya.


"Iya maaf. Kakak tadi ada urusan, kan ada mbak Zahra dan Zahwa yang menemani kamu, jadi kamu gak kesepian," jawab Nares, seraya membelai rambut Zoya.


Sementara Zahra ia hanya diam memperhatikan keduanya, sadar diperhatikan oleh istri pertamanya, Nares pun kemudian melepaskan pelukan Zoya.


"Tadi katanya kamu pingin makan, jadi kamu makan ya!" Nares pun mengajak Zoya untuk duduk di ranjang mereka, dan Zoya pun menurut ia duduk di ranjang.


"Kakak suapin aku ya!" Zoya pun penuh harap akan Nares yang menyuapinya.


Nares tak menjawab, ia malah melihat ke arah Zahra, seakan-akan ia berbicara apa yang harus ia lakukan.


"Zoya kamu makan sendiri aja ya! Kalau nggak, kamu bisa disuapin sama Zahra," ucap Nares dengan nada lembut.


"Jadi kakak gak mau suapin aku?" tanya Zoya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Entahlah, semenjak kejadian penculikan itu Zoya semakin manja kepada Nares, dan ia selalu ingin bersama dengan suaminya itu.


Nares pun menghela nafasnya. "Bukan seperti itu. Tapi, sepertinya Zahwa ingin digendong oleh ayahnya. Jadi, maaf aku tak biasa menyuapi dirimu," jawab Nares.


Melihat mata Zoya yang terus berkaca-kaca, membuat Zahra tak tega. Ia pun menyuruh suaminya itu untuk menyuapi madunya, meski hatinya sakit, namun ia tak boleh egois.


"Sebaiknya kamu suapi Zoya mas. Daripada dia tak mau makan, aku dan Zahwa juga mau pulang ke rumah," ucap Zahra.


"Loh kamu mau pulang, kenapa buru-buru?" tanya Nares.


"Iya, tadi ayah telepon. Katanya ia mau mampir sebentar ke rumah," jawab Zahra.


"Ayah ada di Jakarta?"


"Iya mas, ayah baru menghadiri pesta pernikahan anak dari temannya, mangkannya ayah mau mampir ke rumah."


"Yasudah kalau begitu nanti saja bareng, mas juga mau pulang. Gak enak sama ayah, ayah mampir ke rumah, tapi mas gak ada di rumah."


"Tapi ... " Zahra tak lagi melanjutkan perkataannya, ia hanya melirik ke arah Zoya yang sedang membuang muka ke arah babby Zahwa.


Dari hal itu Nares pun tau apa yang ingin diucapkan oleh istri pertamanya itu.


Sekali lagi Nares menghela nafasnya, ia benar-benar bingung, apa yang harus dilakukannya.


Di satu sisi ia ingin menemui ayah mertuanya itu, sebagai bentuk rasa hormat. Tapi disisi lain ia juga harus menjaga Zoya, karena istri keduanya itu tengah mengalami depresi akibat kejadian pagi tadi.


"Tak apa mas, lebih baik kamu tetep di sini. Nanti aku akan bicara pada ayah, kalau kamu tidak bisa menemuinya," ucap Zahra.


"Tapi ... " Belum selesai Nares melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Zoya menyela.

__ADS_1


"Tak masalah kak, jika kakak ingin pergi pulang bersama mbak Zahra. Aku udah gak pa-pa kok," ucap Zoya menyela, sejujurnya ia masih takut jika sendirian.


Namun ketika mendengarkan dan melihat wajah suaminya yang bingung itu, membuat Zoya tak enak hati.


Pastinya Nares merasa bingung, jadi sebab itulah ia menyuruh Nares untuk pulang bersama Zahra dan anak mereka.


"Kamu beneran gak pa-pa?" tanya Nares memastikan.


Zoya pun menganggukkan kepalanya, "iya kak. Aku gak pa-pa," jawabnya.


"Tapi kamu disini sendiri tidak masalah?" tanya Nares lagi.


"Gak masalah kak, nanti aku akan menghubungi bi Siti untuk datang kemari, agar aku gak sendirian," jawabnya.


"Kamu lupa. Bi Siti kan minta ijin untuk pulang ke kampung halamannya, karena adiknya meninggal."


"Ah ya aku lupa heheh ... Tapi aku benar-benar gak masalah kok, kakak pulang aja."


"Beneran?" tanyanya lagi, dan Zoya pun mengangguk.


"Yasudah kalau begitu, aku pulang. Kamu jangan khawatir, besok aku akan kesini lagi, jangan lupa dimakan makanannya."


"Iya mas."


Nares pun mencium kening Zoya, kemudian ia menggendong putrinya itu.


"Iya mbak aku gak pa-pa," jawab Zoya disertai senyuman.


"Yasudah kalau begitu, mbak pamit pulang dulu. Jika ada apa-apa langsung hubungi kita ya."


"Iya mbak."


Setelah berpamitan dengan Zoya, Nares dan Zahra pun keluar dari apartemen yang ditempati Zoya, lalu mereka menuju mobil yang terparkir di basement apartemen.


Setelah peninggalan suaminya dengan istri pertamanya itu, Zoya pun mulai mengambil makanan yang tadi Zahra masak.


Sebenarnya ia tak selera untuk makan, namun karena Zahra memaksa, dan demi menghargai istri pertama suaminya itu yang sudah mau masak untuk dirinya, Zoya pun mau makan masakan Zahra.


Zoya hanya memakan dua suap saja, karena ia benar-benar tidak berselera untuk makan apapun.


Setelah itu ia pun menaruh kembali piring ke nampan yang berada di atas nakas, ia pun mengambil air minum, karena memang ia sangat haus.


Diteguk nya air yang ada di gelas itu sampai habis, Zoya pun kembali menaruh gelas yang sudah kosong itu ke atas nakas.

__ADS_1


Dan ia pun mulai mencoba untuk tidur.


°°°


Disisi lain, kini Nares dan Zahra sudah kembali ke rumah mereka.


Di sana ternyata sudah ada mobil orang tua Zahra.


"Assalamu'alaikum," ucap keduanya, setelah masuk kedalam rumah.


"Wa'alaikum salam," ucap kedua orang tua Zahra, kebetulan keduanya sudah berada di ruang tamu.


"Ayah, ibu, maaf kami baru sampai," ujar Zahra, setelah keduanya menyalim punggung tangan ayah dan ibu Zahra.


"Tak apa, ayah sama ibu juga baru sampai," jawab sang ayah.


"Yasudah, kalau begitu Zahra pamit ke kamar mau menidurkan Zahwa, kebetulan dia tidur," ucap Zahra dengan Zahwa yang berada di gendongannya yang tengah tertidur itu.


"Yasudah ke sana lah, kasihan cucu ayah nantinya."


"Baik yah." Zahra pun pergi ke lantai atas untuk menidurkan anaknya yang tengah tertidur itu.


Sementara Nares lebih memilih untuk berbincang dengan ayah mertuanya itu.


Dan untuk ibu mertuanya, ibu mertuanya itu lebih menyusul Zahra ke kamar.


"Astagfirullah ibu, ngagetin Zahra aja," ujar Zahra, ketika ia sudah menaruh putrinya kedalam box bayi.


Dan ketika ia berbalik, ia dikagetkan oleh ibu tirinya yang sudah berada di dalam kamarnya.


"Ibu ingin bicara denganmu," ucapnya pada anak tirinya itu.


"Ibu ingin bertanya apa?" tanya Zahra.


"Apa benar suamimu mempunyai istri lagi?" tanyanya.


"Iya Bu," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.


"Astaga Zahra, lalu kenapa kamu tidak meminta suamimu untuk menceraikan wanita murahan itu!!"


"Astagfirullah ibu, ibu tidak boleh seperti itu."


"Lalu ibu harus bagaimana, memang benar, kan. Wanita perebut memang pantas di sebut wanita murahan."

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejak nya guys🙏😁


__ADS_2