
Jadi sebab itu Nares tidak memiliki waktu bersama Zoya, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama istri pertamanya, ketika pulang bekerja.
Lantaran ada Zahwa diantara mereka, jadi oleh karena itu Nares lebih memilih pulang ke rumahnya bersama Zahra pada saat jam kantor selesai, dibanding ke apartemen.
Bukan tak ingin adil, namun Zahwa putrinya membutuhkan dirinya. Apalagi dua hari yang lalu Zahwa mengalami demam, dan terus saja menangis.
Ia berhenti menangis pada saat Nares menggendongnya, jadi sebab itu Nares lebih banyak menghabiskan waktu bersama Zahra dan putrinya.
Dan malam ini, setelah lembur karena harus mengerjakan beberapa berkas-berkas perusahaan, lantaran sang paman harus pulang ke Jogja, karena ada masalah di sana.
Jadi karena itu pula Nares sering pulang larut malam, karena harus mengerjakan beberapa berkas dari perusahaan keluarganya dan juga beberapa berkas dari kantor pribadinya, sebagai pengacara.
Malam ini tepat pukul dua belas malam, Nares pulang ke apartemennya. Lantaran jarak antara perusahaan dan apartemennya cukup dekat.
Dan jika ia pulang ke rumahnya yang ia tempati bersama Zahra, ia tak sanggup. Karena ia sudah merasa lelah, dengan aktivitas nya.
Cklek. Nares pun membuka pintu kamarnya, dilihatnya sang istri yang masih membaca buku dan belum tidur, dengan Zoya yang memakai baju tidur celana pendek dan juga baju lengan pendek.
"Assalamu'alaikum, Zoy. Kenapa kamu belum tidur?" tanya Nares.
"Wa'alaikum salam. Kakak, mm ... Ini, aku belum bisa tidur, jadinya aku baca buku, siapa tau dengan baca buku aku bisa mengantuk," jawabnya, dan Nares pun hanya ber ' oh ' ria.
"Kakak ingin sesuatu?" tanya Zoya setelah berada di hadapan suaminya itu.
"Teh, boleh. Eh, tapi memangnya kamu bisa?" tanya Nares, setelah melepaskan kemeja yang melekat di tubuhnya.
"Tentu saja bisa, kalau hanya buat teh dan kopi. Kalau masak makanan baru aku belum bisa," jawabnya dengan menampilkan gigi rapinya.
"Yasudah kalau begitu, aku mau mandi dulu."
"Mau aku siapkan air hangatnya?"
"Tak perlu, aku bisa sendiri."
"Baiklah."
Nares pun masuk kedalam kamar mandi, seraya membawa baju tidurnya.
__ADS_1
Sementara Zoya ia pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya itu teh hangat.
Tak lama Nares pun keluar dari kamar mandi, dengan wajah beserta tubuh yang segar, dengan memakai baju tidurnya.
Nares pun duduk seraya menyenderkan kepalanya di sofa.
"Kakak ini tehnya," ucap Zoya, setelah masuk kedalam, ia pun menaruh teh itu di meja didepan Nares.
"Terima kasih," ujarnya, Nares pun menyeruput teh yang istrinya itu bawa.
"Bagaimana?" tanya Zoya, masih setia berdiri di samping Nares.
"Enak, dan juga pas," jawabnya sambil tersenyum.
"Aku pijitin ya, kak. Sepertinya kakak lelah," ucap Zoya melihat Nares yang terus menggerakkan bahunya.
"Boleh."
Setelah mendapatkan persetujuan dari Nares, Zoya pun berdiri ke belakang suaminya, lalu ia mulai memijit bahu sang suami.
"Bagaimana rasanya?" tanya Zoya, kini ia beralih memijit kepala dan juga kening Nares.
"Apa kakak membutuhkan yang lain? Biar lelah dan setres karena pekerjaan kakak hilang," bisik Zoya di telinga sang suami.
"Maksud mu?" tanya Nares karena ia tak mengerti.
Zoya pun duduk di pangkuan sang suami, lalu ia membisikan sesuatu ditelinga Nares.
°°°
Pagi harinya, Nares pun bangun dari tidurnya. Ia meraba ke arah samping, tapi ia tidak menemukan Zoya, padahal semalam Zoya tidur di sampingnya, setelah Nares menggagahi istrinya itu.
"Zoy," panggil Nares dengan suara serak khas orang bangun tidur, ia pun duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Kemana dia? Apa dia di dapur?" Monolog nya.
Nares pun mengambil baju yang tergeletak di lantai, karena semalam ia hanya memakai celana panjang tidurnya saja, dan membiarkan tubuh atasnya telanjang.
__ADS_1
Nares pun pergi ke dapur, namun ia tak menemukan keberadaan istrinya itu, ia pun mulai mencari keberadaan Zoya namun nihil tak ada Zoya di manapun.
"Astaga dimana kamu Zoy," ucapnya seraya mengacak rambutnya sendiri.
Nares pun kembali ke kamarnya, di sana ia melihat sepucuk surat yang tergeletak di atas meja belajar Zoya.
Nares pun mengambilnya dan mulai membacanya.
..."Assalamu'alaikum, kak Nares. Jika kakak sudah membaca surat ini, itu berarti aku sudah pergi jauh dari kehidupan kakak dan mbak Zahra. Maaf, gara-gara kehadiran diriku dalam kehidupan rumah tangga kakak dan mbak Zahra, jadi sedikit renggang. Walaupun aku tau, kakak tidak pernah mencintaiku, dan kakak hanya merasa nyaman bersama denganku, tapi aku tetap mencintai kakak. Maaf karena aku telah lancang mencintaimu, kak....
...Dan ya, sampaikan permintaan maaf ku pada mbak Zahra, gara-gara aku, mbak Zahra harus membagi dirimu. Aku tau mbak Zahra pasti merasa cemburu, namun dia menyembunyikan rasa cemburunya, tapi aku dapat mengetahui itu, hanya dari tatapannya saja....
...Aku memang bodoh, karena terus bertahan. Seharusnya sudah dari dulu, aku pergi dari kehidupan kak Nares, agar kak Nares tidak terbebani dengan rasa bersalah, karena tidak bisa bersikap adil....
...Dan jika kita bertemu, pada saat itu aku ingin kau menceraikan ku kak. Dan terima kasih atas bantuan kakak selama ini, aku kembali kan kartu ATM yang pernah Kaka kasih, namun aku minta maaf, karena tidak bisa mengembalikan uang kak Nares yang sudah kak Nares berikan untuk biaya kuliahku. Maaf, karena sudah menjadi duri di rumah tangga kalian."...
^^^Zoya.^^^
Setelah membaca surat itu, wajah Nares tetap sama datar, tak berekspresi. Namun tidak dengan tangganya, yang meremas kuat kertas itu.
Nares pun menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu ia buang perlahan, kemudian ia menaruh surat dari Zoya di tempat semula.
Setelah itu ia pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak lama ia pun keluar dari kamar mandi, yang sudah rapi dengan setelan kerjanya. Nares pun mengambil tas kerja yang ada di sofa, kemudian ia pun keluar dari kamarnya.
Di ruang tamu, ia melihat bi Siti yang baru saja masuk kedalam unit apartemennya.
"Den sudah mau berangkat?" tanya bi Siti.
"Iya bi. Oh ya, saya cuman mau mengatakan, bibi jangan pernah ke sini lagi, kerena ..."
"Loh kenapa den, apa bibi di pecat?"
"Ah bukan seperti itu, hanya ... Zoya pergi, jadi sebab itu bibi tak perlu memasak, bibi hanya perlu membersihkan apartemen setiap seminggu sekali, itu saja." Nares pun mengurungkan niatnya untuk memecat bi Siti, karena merasa tak enak hati.
"Oh begitu, baik den. Tapi ngomong-ngomong non Zoya kenapa pergi?"
__ADS_1
"Tidak pa-pa, yasudah kalau begitu saya berangkat kerja dulu."