Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 46


__ADS_3

"Astagfirullah ibu, Zoya tidak seperti itu," ucap Zahra membela madunya itu, karena memang benar Zoya tidak seperti wanita murahan.


"Kamu ini, kenapa kamu malah membela wanita itu!!!"


"Bu, sudahlah. Lebih baik kita keluar," ucapnya.


Zahra pun keluar dari kamarnya, sementara sang ibu masih didalam sambil menggerutu.


"Dasar anak tidak tahu untung, jika bukan karena mas Jamal aku tak Sudi mengurusi mu," gerutunya.


Ya, sebenarnya ibu Zahra adalah ibu tirinya. Ayah nya Zahra menikah kembali ketika usia Zahra masih berumur dua tahun, sedangkan ibu kandungnya meninggal ketika sang ibu melahirkan dirinya.


"Dasar anak sama ayah sama saja. Bukannya marah jika suami dan mantunya punya wanita lain, ini malah mendukungnya ... Andai saja, anak kandungku seorang perempuan, aku yang akan menikahkan dia dengan Nares, bukannya dia. Dan aku tidak akan biarkan Nares memiliki wanita lain," gerutunya lagi, ia pun pergi keluar dan menyusul putri tirinya itu yang sudah turun terlebih dahulu.


Di lantai bawah, Nares dan pak Jamal sedang berbincang. Tak lama Zahra datang menemui mereka.


"Ayah, apa ayah akan menginap?" tanya Zahra.


"Tidak nak. Ayah dan ibu tidak menginap, kasihan adik kamu, dia ditinggal sendiri di rumah," jawab sang ayah.


"Kenapa tidak sekalian di ajak yah?" Kali ini Nares yang bertanya.


"Kamu tau kan si Riki bagaimana, dia lebih memilih bermain dengan temannya dibandingkan ikut dengan kita," jawabnya.


Dan mereka berdua pun mengangguk, tak lama ibu pun turun dan ikut bergabung dengan mereka.


°°°


Malam hari tiba. Di apartemennya, kini Zoya sendiri, sedari siang ia mencoba untuk memejamkan matanya, namun tak bisa.


Lantaran ia selalu memimpikan kejadian yang ia alami waktu pagi, diculik dan hampir dilecehkan.


Sehingga ia memilih untuk tidak tidur, bukan hanya itu saja. Ia pun merasa takut, takut jika para penculik itu akan datang dan menculiknya kembali.


Sebenarnya Zoya ingin menghubungi Nares, namun niatnya ia urungkan. Ia tak ingin mengganggu suaminya itu dengan ayah dari Zahra.


Tak terasa malam pun semakin larut, namun Zoya masih belum bisa memejamkan matanya.


°°°


Di sisi lain, Nares pun sama, ia tak bisa memejamkan matanya. Ia terus saja membolak-balikan tubuhnya, ia tak bisa tidur, karena memikirkan keadaan istri kecilnya itu.


Ia mencoba untuk tidur, namun tetep saja tidak bisa. Sampai akhirnya Zahra terbangun, karena terganggu dengan yang dilakukan oleh Nares, yakni selalu membolak-balikan tubuhnya ke kanan dan kiri.


"Mas, kamu kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Ah sayang. Maafkan mas, karena mas kamu jadi terganggu, mas gak pa-pa kok. Lebih baik, kamu tidur lagi," jawabnya, seraya mendudukkan dirinya di atas ranjang dan Zahra pun ikut duduk disampingnya.


"Kamu khawatir dengan Zoya?" tanya Zahra lagi.


"Sayang ... " Nares pun melihat ke arah sang istri.


"Jika kamu khawatir temui dia mas."


"Tapi ... "


"Aku gak pa-pa mas, lagian ada bi Darmi yang menginap."


"Kamu yakin?" tanya Nares memastikan.


"Iya mas."


"Yasudah kalau begitu, mas akan menemui Zoya sebentar, dan mas akan kembali, setelah mas sudah memastikan keadaan Zoya."


"Tidak perlu, lebih baik kamu menginap di sana. Lagi pula, aku tidak mau kamu kelelahan, karena harus bolak-balik."


"Baiklah, kalau begitu mas ijin ke apartemen ya!" ijin Nares, dan Zahra pun mengangguk.


Setelah mencium kening Zahra, Nares pun turun dari ranjangnya dan melangkah mengambil jaket beserta kunci mobilnya, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Dan Zahra hanya melihat suaminya itu keluar dari kamar mereka, jika boleh jujur hatinya sakit, namun ia tak boleh egois.


"Apa kamu akan tetap mencintaiku mas. Atau, cintamu sudah terbagi dengan maduku," lirih Zahra, setelah sang suami sudah menghilang di balik pintu.


°°°


Tak butuh waktu lama, tepat pada pukul jam tiga pagi, Nares sudah sampai di apartemen.


Setelah memakirkan mobilnya, ia bergegas turun dan masuk kedalam lift, guna menuju ke unit apartemennya.


Setelah berada didalam unit apartemennya, ia pun bergegas menuju kamarnya.


Pada saat berada didalam kamar, ia dapat melihat bahwa Zoya yang kini tengah meringkuk di sudut ruangan, seraya menutup telinga nya menggunakan kedua tangannya.


Flashback on.


Dua jam sebelum Nares sampai, Zoya yang mulai memaksa untuk tidur, akhirnya bisa memejamkan matanya.


Namun belum satu menit ia tidur, ia bermimpi tentang penculikan yang menimpa dirinya, bukan hanya itu, ia juga bermimpi ia hendak dilecehkan oleh para penjahat itu.


Zoya pun terbangun dari tidurnya, dan pada saat ia terbangun dari tidurnya. Entah mengapa ia berhalusinasi seakan-akan, para penjahat itu ada di dalam kamarnya, dan hendak melecehkan dia sama seperti waktu kejadian ia diculik.

__ADS_1


"Mau apa kalian kemari?" tanya Zoya dalam halusinasinya.


"Jangan mendekat!!! Atau aku lemparkan kalian dengan vas bunga ini," ucapnya seraya memegang vas bunga berukuran kecil.


Dalam halusinasinya, ia dapat melihat para penjahat itu tengah mentertawakan dirinya. Ia pun melemparkan vas bunga itu, dan bukannya mengenai para penjahat, vas bunga itu justru mengenai tembok.


Karena memang di sana tidak ada siapa-siapa, kecuali dirinya sendiri.


Setelah melemparkan vas bunga ke tembok, Zoya pun berlari menuju sudut ruangan, ia meringkuk ketakutan.


Flashback off.


Mendengar pintu kamar terbuka, dan mendengar langkah kaki yang menuju ke arahnya.


Membuat Zoya semakin memeluk dirinya sendiri.


"Tolong jangan mendekat!!!"


"Tolong jangan melakukan hal itu, ampuni saya, dan lepaskan saya." Zoya pun terus bergumam.


Dan pada saat tubuhnya ditarik, dan dipeluk oleh seorang Zoya memberontak, agar pelukannya terlepas dari tubuhnya.


"Lepaskan aku!!! Jangan menyentuhku!!!" Zoya terus saja memberontak.


"Hey tenang, ini aku. Nares," ucap Nares, masih membekap Zoya dalam pelukannya.


Mendengar suara yang ia kenal, membuat Zoya seketika diam dan tak lagi memberontak.


Zoya pun memberanikan diri untuk melihat ke arah orang yang memeluknya itu. Saat ia melihat siapa yang memeluknya itu, seketika Zoya membalas pelukan dari Nares.


"Kakak aku takut," ucapnya lirih.


"Kamu gak perlu takut, ada aku disini." Nares mencoba untuk menenangkan istri kecilnya itu. Nares pun membelai rambut lurus Zoya dan sesekali mengecup pucuk kepala Zoya.


"Tapi mereka tadi ke sini kak," adu Zoya.


"Siapa yang datang kemari?" tanya Nares, karena ia bingung, pasalnya pada saat ia sampai di apartemen tak ada siapapun, kecuali istrinya dan juga keadaan kamar yang berantakan.


"Para penjahat itu, yang menculik ku. Dan ingin melecehkan ku, kak."


"Tenang lah, tidak ada siapapun disini."


***


Selamat membaca 🌹

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, dan juga gift 🙏


__ADS_2