Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 43


__ADS_3

"Gak usah berterima kasih, sudah kewajiban gua," ucapnya.


"Sebagai kakak lu, lagian gua kan kakak yang baik. Yang selalu melindungi adiknya," ucapnya lagi dengan menaik turunkan alisnya.


"Cih." Nares pun hanya berdecih.


Setelah melihat mobil kakaknya tak terlihat lagi, Nares pun masuk kedalam loby apartemen.


Setelah itu ia masuk kedalam lift dan menekan angka menuju ke unit apartemennya.


Ting. Lift terbuka, Nares pun keluar dari lift dan masuk kedalam unit apartemennya.


Saat sudah berada didalam unitnya, Nares pun membawa Zoya kedalam kamar mereka.


Setelah berada didalam kamar, Nares pun membaringkan tubuh Zoya dan menyelimutinya sampai batas dadanya.


Ia tatap wajah polos Zoya dengan lekat, lalu ia usap pipi Zoya dengan pelan.


Drret, drret.


Ponsel milik Nares berbunyi, kemudian ia mengambil ponselnya di saku celananya.


Yang menghubunginya ialah istrinya, Zahra. Nares pun pergi ke balkon untuk mengangkat telepon dari istri pertamanya itu.


"Halo assalamu'alaikum," ucap Zahra diseberang sana.


"Wa'alaikum salam. Sayang maafkan mas, mas tidak sempat menghubungi mu. Dan maaf, sepertinya mas tidak pulang dulu."


"Apa terjadi sesuatu mas?"


"Ya, Zoya baru saja mengalami penculikan. Jadi sebab itu, mas minta ijin padamu untuk menginap di sini, dan tidak pulang untuk sementara waktu."


"Inalillahi, lalu bagaimana keadaan Zoya mas?"


"Zoya masih syok atas kejadian menimpa dirinya. Kamu, mengijinkan mas untuk menginap disini, kan?"


"Semoga keadaannya cepat membaik ya mas. Tentu mas, tentu aku mengijinkan mu untuk menginap, ini sudah menjadi kewajiban mu sebagai suaminya. Menjaganya ketika sedang sakit."


"Alhamdulillah, terima kasih sayang."


"Kamu gak harus berterima kasih mas, ini memang sudah menjadi keharusan ku, untuk siap membagi dirimu dengannya," ucap Zahra lirih.


"Maafkan mas, sayang."


"Tak apa."


"Oh ya, bagaimana dengan ..."


Perkataan Nares terpotong setelah mendengar Zoya berteriak.


Didalam kamar, Zoya yang kini tengah bermimpi kejadian yang ia alami, berteriak ketakutan.


"Tidak, jangan lakukan itu. Lepaskan aku," Zoya pun berngigou dalam tidurnya.


"Tidakkkk!!!" teriaknya, dan seketika ia terbangun dari tidurnya.


Nares pun langsung masuk kedalam dan melihat Zoya yang kini sedang ketakutan.


"Sayang aku tutup dulu teleponnya ya."


"Iya mas."

__ADS_1


Tut. Nares pun mematikan teleponnya, dan menghampiri Zoya yang tengah memeluk dirinya sendiri.


"Hey kenapa?" tanya Nares, setelah duduk di sisi Zoya.


"Kakak." Zoya pun langsung memeluk Nares, dan ia menangis dalam pelukan suaminya itu.


"Hey tenang, ada aku disini," ucapnya, seraya membelai rambut Zoya dengan penuh kasih sayang.


"Kak, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku takut," lirih Zoya.


"Ya, aku tidak akan meninggalkan kamu."


°°°


Dikediaman Jeffry dan Vio.


Di rumahnya, setelah mengantar adiknya ke apartemen nya itu.


Jeffry pun tak lagi pergi ke kantor, ia langsung pulang ke rumahnya bersama sang istri, yakni Violleta.


Kini ia tengah duduk santai di ruang tv, bersama kedua anak kembarnya, yang masih berusia lima bulan.


Ya, Jeffry disuruh untuk menjaga kedua anaknya itu, oleh istrinya.


Tak lama Vio pun datang, sambil membawa satu cangkir kopi untuk suaminya itu.


"Ini mas kopinya." Vio pun menaruh kopi tersebut di atas meja, dihadapan Jeffry.


"Makasih sayang," ucap Jeffry, dan Vio pun hanya tersenyum manis.


"Dimana Erlangga?" tanya Jeffry, setelah meminum kopi buatan sang istri.


"Dia lagi di rumah opanya. Daddy tadi menghubungiku untuk mengantarkan Er ke mansion, karena Daddy akan mengajak Er untuk bermain golf," jawab Vio, dan Jeffry pun hanya mengangguk.


Drret, drret, drret.


"Halo," ucap Jeffry.


" ... "


"Siang."


" ... "


"Benarkah, kalau begitu saya akan menghubungi adik saya. Sebentar lagi kami akan ke sana."


" ... "


"Ya. Terima kasih, atas bantuannya."


Tut. Jeffry pun mematikan sambungan teleponnya.


"Siapa mas?" tanya Vio.


"Polisi yang menangkap para penjahat yang menculik Zoya. Mereka bilang, mereka sudah menangkap dalang dibalik penculikan ini ..."


"Aku harus ke kantor polisi, kamu tidak pa-pa kan, aku tinggal sendiri," ucap Jeffry.


"Tak apa, lagian ada bi Ijah sama babby sister," jawab Vio.


"Yasudah, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya."

__ADS_1


"Iya mas."


Jeffry pun pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya, ia tak mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Karena menurutnya pakaian yang ia pakai tidak masalah, meski ia hanya memakai baju kaos berwarna putih dan juga celana jens pendek berwarna hitam.


Namun tak mengurangi ketampanannya.


°°°


Dikediaman paman angkat Zoya.


Satu jam sebelum polisi tadi mengabari Jeffry, bahwa pamannya Zoya sudah tertangkap.


Tak lama setelah meringkus para penjahat yang menculik Zoya, para polisi itu pun pergi ke rumah pamannya Zoya.


Waktu itu mereka tengah makan siang bersama, sang paman pun tidak mengetahui bahwa orang suruhannya sudah di tangkap bahkan sudah di masukkan kedalam sel.


Mangkanya saat ini ia masih santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun pada saat menikmati makan siang bersama istri dan anaknya, ia dihampiri oleh salah satu pelayan.


Pelayan itu melaporkan bahwa ada beberapa polisi berada di luar.


"Maaf tuan, saya menganggu," ucap pelayan itu.


"Hm, ada apa?" tanya sang paman.


"Anu, diluar ada polisi yang mencari tuan." Kening sang paman pun berkerut, untuk apa polisi datang kerumahnya.


"Memangnya ada apa sih pah? Kamu punya masalah apa?" tanya sang istri.


"Aku juga tidak tahu," jawabnya dengan geram.


"Yasudah, sebaiknya kita temui mereka saja." Sang paman pun pergi untuk menemui polisi itu, yang sedang menunggunya di luar.


"Selamat siang taun," ucap salah satu polisi, yang diduga adalah ketua.


"Siang, ada apa ya?" tanyanya.


"Maksud kedatangan kami kesini, ingin menangkap anda tuan Robert Alexander. Karena anda diduga sebagai dalang dibalik penculikan nona Zoya Alexander, yakni keponakan anda sendiri," jawab polisi itu.


"Apa!!! Itu tidak benar. Saya tidak melakukan hal itu, ini pasti jebakan saja!" teriak Robert.


"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi, untuk itu anda sebaiknya ikut kami dulu. Tangkap dia," ujarnya, dan meminta salah satu di antara mereka menangkap paman Robert.


"Hey, apa-apaan ini. Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!!" teriaknya.


"Pak, ada apa ini? Kenapa kalian menangkap suami saya?" tanya istri dari paman Robert.


"Suami anda diduga dalang dibalik penculikan nona Zoya, jadi sebab itu kami membawanya ke kantor polisi," jawabnya.


"Apa!! Itu tidak mungkin."


"Maaf kami tidak ada waktu, cepat bawa dia!!" pinta pada bawahnya itu.


"Lepaskan saya!!!" Paman Robert terus saja memberontak.


***


*


Happy reading 💞


Jangan lupa like, komen, vote, dan gift 🙏😘

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2