
Disisi lain pula, sudah dua jam Nares menunggu Zoya, namun tidak ada pertanda bahwa Zoya akan pulang ke rumahnya.
"Tuan bagaimana kita kembali nanti malam saja?" Saran Jo.
Nares tak menjawab, ia hanya mengangguk saja.
Baru saja Jo ingin menyalakan mesin mobilnya, tapi Nares melihat sebuah taxi yang berhenti tepat di depan rumah Zoya.
"Bukankah itu Zoya?" tanya Nares, setelah melihat Zoya yang baru saja turun dari taxi.
"Benar tuan, itu nona Zoya," jawab Jo.
Tak banyak tanya, Nares pun langsung keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya menuju rumah Zoya.
Zoya yang kini tengah mengambil kunci rumahnya yang ada di saku Hoodie nya, tanpa sadar bahwa di belakangnya kini suaminya tengah berdiri.
Nares yang masih berdiri di belakang istri kecilnya itu, membuat ia tak bisa berkata-kata.
Jika boleh jujur, Nares sendiri merasa rindu dengan kemanjaan Zoya pada dirinya.
"Zoya," panggil Nares, pada saat Zoya hendak membuka pintu rumahnya.
Deg.
Mendengar suara yang selama ini ia rindukan, membuat jantung Zoya berdetak dengan kencang.
Zoya pun berbalik untuk memastikan apakah yang memanggil namanya benar-benar suaminya, atau hanya halusinasi saja.
Pada saat Zoya berbalik, ia hanya bisa mematung, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, karena ia benar-benar terkejut dengan keberadaan seseorang yang selama ini rindukan.
Ingin sekali Zoya memeluk tubuh kekar suaminya itu, namun sebisa mungkin ia urungkan.
"Kakak. Kakak disini?" tanya Zoya.
"Ya, aku kesini ingin membahas sesuatu denganmu," jawab Nares, dengan nada dingin, sama seperti awal Zoya bertemu dengan dirinya.
"Silahkan masuk." Zoya pun mempersilahkan Nares masuk kedalam rumahnya.
Setelah keduanya berada di dalam rumah, Nares pun duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Sementara Zoya, menaruh belanjanya di dapur.
Sejujurnya hari ini Zoya meras tidak enak badan, biasanya ia hanya mengalami mual di pagi hari saja.
Tapi kali ini entah mengapa ia merasa lelah, dan juga merasa pusing, apa karena tadi ia berjalan kaki ketika pergi ke supermarket?
Setelah merasa lebih baik, ia pun membawa air putih dingin untuk suaminya yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Maaf kak, hanya ada air putih," ucapnya seraya menaruh satu gelas air putih untuk Nares.
"Tak apa."
__ADS_1
"Apa yang ingin kakak bahas denganku?" tanya Zoya, setelah ia duduk di sofa tunggal yang letaknya berada di samping sofa yang Nares duduki.
"Mm ... Begini. Tapi sebelum itu, aku ... Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," jawab Nares.
"Apa?"
"Apa kamu merasa tidak ada hal yang berbeda di dalam diri mu, misal kamu mengalami mual di pagi hari atau tiba-tiba menginginkan sesuatu?" tanya Nares.
"Maksud kakak?" Zoya pun bertanya balik, karena ia belum paham apa yang sedang ditanyakan oleh suaminya itu.
"Huh. Begini, apa kamu sedang hamil?" tanya Nares to the poin.
Deg.
Jantung Zoya kembali berdetak kencang, apa yang harus ia katakan. Apakah ia akan berbicara jujur, bahwa benar sekarang dirinya tengah mengandung anak dari suaminya itu? Atau berbohong? Karena Zoya takut jika Nares kecewa padanya.
Karena Zoya tau, Nares masih belum mau memiliki seorang anak lagi, karena Zahwa putri suaminya dari istri pertama suaminya itu masih sangat kecil.
"Zoya," panggil Nares, karena istrinya itu malah bengong.
"A- ah ya."
"Jawab, apa kamu sedang hamil?"
"Kenapa kakak bertanya seperti itu?"
"Tidak, hanya saja aku ... Aku. Sudah jawab saja pertanyaan ku."
"Kau yakin," ucap Nares memastikan.
"I- iya."
"Huh baiklah."
Nares pun tak lagi bertanya, meski sebenarnya ia masih sangat curiga dengan istrinya itu.
"Baik. Sebenarnya kedatangan aku kesini, untuk memenuhi permintaan kamu. Kamu menulis surat, dan disurat itu kamu bilang, jika kita bertemu Kemabli, maka kamu ingin aku mengakhiri hubungan ini." Nares pun menjeda ucapnya, ia menarik nafas terlebih dahulu, sebelum kembali bicara.
Sementara Zoya ia hanya menundukkan wajahnya, tanpa berani menatap manik mata suaminya.
Apalagi rasa pusing di kepalanya semakin terasa.
"Jadi oleh karena itu ... Mulai sekarang, dengan ini saya Nareswara Syahputra menjatuhkan ta ..." Belum sempat Nares melanjutkan perkataannya tiba-tiba Zoya jatuh pingsan.
Nares pun memegang Zoya, agar ia tak jatuh kelantai.
"Zoya bangun." Nares pun meletakan kepala Zoya di pahanya, kali ini posisi nya sedang duduk di lantai dengan kepala Zoya yang sedang berada di atas pahanya.
"Zoya bangun, Zoy." Nares pun tak henti-hentinya membangunkan sang istri, sesekali ia menepuk pipinya.
__ADS_1
Namun nihil, Zoya tidak bangun.
"Apa yang harus aku lakukan."
Dalam rasa panik yang menyerang, membuat Nares tak bisa berfikir jernih.
Sampai tiba Angel yang baru saja pulang dari kencannya bersama sang kekasih.
"Zoya!!!" Angel pun menghampiri Zoya yang tengah pingsan di pangkuan seseorang yang belum tau siapa.
"Siapa kamu? Dan apa yang kamu lakukan terhadap adik saya hah?!" tanya Angel pada Nares, karena ia baru menyadari bahwa sedari tadi ada orang.
"S- saya tidak melakukan apapun, tiba-tiba Zoya pingsan," jawab Nares.
"Ck. Awas saja kalau terjadi sesuatu terhadapnya." Angel pun melotot ke arah Nares, dan ia mencoba untuk menggendong Zoya.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Nares, melihat wanita yang belum ia tahu namanya itu, ingin menggendong Zoya.
"Aku mau bawa di ke rumah sakit, awas!"
"Tidak biar aku saja."
"Ck. Memangnya kamu siapa?"
"Aku suaminya."
"Hah! Jadi kamu Nares, suaminya Zoya?"
"Iya, darimana kamu tahu namaku?"
"Tentu saja aku tahu, Zoya sering cerita mengenai dirimu, suaminya."
Nares pun tak menanggapi Angel lagi, ia langsung menggendong Zoya ala bridal style, lalu pergi keluar rumah Zoya, diikuti Angel dari belakang.
"Astaga. Aku lupa, mobilku ada di bengkel sedang di servis," ucap Angel, karena ia lupa mobilnya kini sedang di servis di bengkel.
"Lalu bagaimana?" tanya Nares, karena jarak antara rumah Zoya dan rumah sakit cukup jauh.
"Kita telpon taxi saja." Angel pun hendak menghubungi taxi, namun ia urungkan karena Jo yang ternyata masih berada di sana.
"Tuan, naik mobil saya saja," ucap Jo menghampiri mereka.
"Ah, syukurlah kamu masih ada di sini Jo. Cepat buka pintu mobilnya," pinta Nares, dan Jo pun langsung membuka pintu belakang mobil.
Setelah itu Nares pun duduk masuk dan duduk seraya memangku Zoya yang masih pingsan itu.
Sementara di depan, Angel yang duduk di samping Jo yang sedang berkemudi.
"Cepat Jo, kita ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baik tuan."
Jo pun langsung menyalakan mesin mobilnya menuju rumah sakit.