Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 24


__ADS_3

Dengan perlahan, dan menyelimutinya sampai batas perut Zoya, setelah itu ia pun keluar dari kamar, dan menuju ke arah balkon yang ada di apartemennya.


"Huh." Nares pun menghela nafasnya, awalnya ia ingin bertemu dengan Zoya untuk menyelesaikan hubungan antara dirinya dan Zoya.


Namun pada saat ia melihat Zoya sedang ditarik secara paksa oleh pamannya, membuat dirinya tidak tega, jika membiarkan Zoya sendiri.


Besar kemungkinan pamannya itu akan terus mengganggu Zoya, sampai tujuannya tercapai.


Padahal jika mau, ia hanya tinggal mengucapkan kata talak kepada istri kecilnya itu, ditambah lagi Zoya pun menginginkan hubungan ini selesai.


Namun hatinya menolak untuk mengakhiri hubungan yang terjadi tanpa sengaja ini, mungkin memang inilah takdir dirinya untuk memiliki seorang dua istri, meski ia sendiri tidak mau.


Dan ia pun akan mulai mencoba untuk menerima kehadiran Zoya didalam hidupnya, dan mencoba untuk tetap mengikuti arus, sampai kapan hubungan dirinya dan Zoya bertahan, ataukah memang hubungannya dengan Zoya bertahan untuk selamanya.


Setelah menghabiskan waktu di balkon, Nares pun masuk kedalam, ia pun ikut mengantuk, alhasil ia memilih tidur di ruang tv dibandingkan di kamarnya bersama Zoya.


Waktu pun sudah menunjukkan pukul 16:00 wib, Nares pun terbangun dari tidurnya, ia pun duduk di sofa, sambil mengumpulkan kembali nyawanya setelah tidur.


Setelah nyawanya terkumpul, ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, ia ingin melihat istri kecilnya itu, apakah sudah bangun atau masih terlelap dari tidurnya.


Sekaligus ia ingin menjalankan sholat ashar, Nares pun membuka pintu kamarnya, dan dilihatnya istri kecilnya itu masih terlelap dari tidurnya, ingin membangunkan tapi takut mengganggu, jika tidak dibangunkan akan menjadi dosa untuknya karena tidak menyuruh istrinya itu untuk menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


Matahari pun sudah tenggelam yang menandakan hari sudah berganti, selesai mandi dan melaksanakan sholat Maghrib, Nares pergi ke balkon yang ada di kamar.


Ia melihat langit yang sudah gelap, yang ditaburi oleh banyaknya bintang, kemudian ia merogoh kantong celana dan mengambil ponselnya. Setelah itu ia mulai mengirimkan chat kepada istri pertamanya, Zahra.


^^^Me.^^^


^^^Assalamu'alaikum, sayang maaf. Mas tidak bisa pulang malam ini, ada banyak sekali pekerjaan, kemungkinan mas akan tidur di apartemen.^^^


Humairah ku ❤️


Wa'alaikum salam, begitu ya mas. Yasudah tak apa, yang semangat kerjanya mas😚☺️

__ADS_1


Mendapatkan balasan dari istrinya itu membuat Nares tersenyum, istrinya itu memang baik, Zahra selalu membuat dirinya bangga karena telah memiliki nya.


Namun detik kemudian, perlahan senyuman itupun sirna, Nares pun menghela nafasnya.


"Maafkan mas, Zahra. Karena telah membohongi mu," lirihnya, kemudian ia masuk kedalam kamarnya.


Didalam kamar, ia melihat Zoya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya.


Nares pun lagi-lagi menghela nafasnya, sungguh ia sangat menyesal telah masuk kedalam kamar, andai saja ia tetap berada di balkon, mungkin ia tak akan pernah melihat pemandangan seperti ini.


Yang dimana istri kecilnya itu, hanya memakai handuk, dan mencepol rambutnya sehingga memperlihatkan leher jenjang putihnya.


Ditambah kaki jenjang dan pahanya yang sedikit terekspos, sungguh Nares adalah pria normal. Namun sebisa mungkin ia menahannya.


"Apa kamu tidak bisa membawa sekalian baju mu, kedalam kamar mandi?" tanya Nares.


Mendengar hal itu, seketika Zoya yang tengah mengambil bajunya di dalam lemari terhenti. Kemudian ia melihat ke arah Nares dengan alis beradu.


"Memangnya kenapa? Lagian mana ku tahu kalau kakak ternya masih ada disini, biasanya juga kakak langsung pergi."


Mendengar jawaban dari Zoya, membuat Nares bungkam seketika, apa yang diucapkannya itu memang benar, toh ia adalah suami Zoya.


Jadi mau berpenampilan bagaimana pun atau bahkan bertelanjang sekalipun, halal bagi Nares, karena Zoya adalah istrinya.


Setelah mengatakan itu Zoya pun masuk kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


Sementara Nares ia memilih untuk duduk di ranjang, seraya menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang, sambil memainkan ponselnya.


Tak lama pintu kamar mandi pun kembali terbuka, menampilkan sosok Zoya yang kini sudah berpakaian rapi.


Ia memakai celana jeans panjang berwarna hitam, dengan robekan di bagian dengkulnya, dan memakai pakaian sejenis tangtop yang bagian dadanya berenda dan sedikit memperlihatkan belahan dadanya, dengan warna senada.


Zoya pun berjalan ke arah meja rias yang ada di dekat lemari pakaiannya. Apa yang dilakukannya tak lepas dari dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan penampilannya.

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Nares. Ya, sejak Zoya keluar dari kamar mandi, Nares tak henti-hentinya memperhatikan penampilan Zoya malam ini, jujur ia mengagumi penampilan Zoya.


Di penglihatannya, istri kecilnya itu bukan seperti remaja yang berusia 17thn, tapi seperti seorang gadis remaja yang beranjak dewasa.


Ya, Zoya memang memiliki bentuk tubuh tak seperti remaja yang berusia 17thn belakangan.


"Apa kau hanya akan memakai pakaian itu?" tanya Nares, yang masih berada di posisinya yang duduk di atas ranjang.


"Ya," jawab Zoya dengan cuek, karena sejujurnya ia masih sangat kesal dengan pamannya itu.


Zoya memang seperti itu, jika ia kesal atau marah butuh waktu untuk membujuknya agar tidak marah atau kesal kembali.


"Lebih baik tidak jadi pergi," ucap Nares, dan seketika membuat Zoya menghentikan aktivitas nya yang tengah memoleskan makeup ke wajahnya.


"Apa? Lalu untuk apa kakak tadi memintaku untuk berpakaian rapi, jika tidak jadi pergi." Zoya pun semakin kesal.


Ya, mereka memang hendak pergi ke mall. Sebenarnya Nares yang mengajak Zoya pergi untuk jalan-jalan, karena ia ingin menebus kesalahan yang ia buat, sekaligus sebagai tanda permintaan maafnya pada istri kecilnya itu.


"Ya, itu seterah dirimu. Jika kamu tetap ingin pergi, makan gunakan pakaian yang sedikit sopan, jika tidak. Yasudah lebih baik tidak jadi pergi," ujar Nares.


"Tapi ini sudah cukup sopan," bela Zoya.


"Iya, tapi bajumu tidak."


"Yasudah gampang, aku akan pakai kardigan untuk luarannya."


Setelah selesai memakai makeup, Zoya pun mengambil kardigan rajut di lemarinya berwarna coksu, dan memakinya.


Lalu ia menghampiri suaminya itu, yang masih duduk di ranjangnya.


"Ayo buruan, nanti keburu malam," ucapnya dengan wajah cemberut.


Nares yang melihat itu pun tersenyum samar, ternyata istrinya itu lucu juga jika sedang cemberut.

__ADS_1


"Iya-iya." Nares pun beranjak dari duduk kemudian melangkahkan kakinya, keluar menyusul Zoya.


__ADS_2