Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 75


__ADS_3

"Tapi sepertinya tidak mungkin," ucapnya.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya pak Putra dengan heran, begitupun dengan yang lainnya, merasa heran dengan ucapan yang Nares katakan.


"Jangan bilang kamu belum memberikan nafkah batin?" tanya sang mamah dengan curiga.


"B- bukan seperti itu. Nares memberikan nafkah lahir dan batin kok," jawabnya.


"Lalu kenapa kamu bisa yakin, kalau Zoya gak hamil?"


"K- karena Nares ... Setiap kali Nares memberikan nafkah batin pada Zoya, Nares tidak mengeluarkannya di dalam, t- tapi di luar," jawabnya dengan pelan, dan menundukkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Karena Nares berfikir Zoya masih muda untuk hamil. Dan lagi pula Zahwa masih kecil untuk memiliki seorang adik, dan Nares juga tidak mau kalau Zoya meminum obat penunda kehamilan, Nares takut ada efek sampingnya. Terlebih lagi umur Zoya yang masih delapan belas tahun," jelasnya.


"Tapi bisa jadi lu pernah lupa. Misal, lu lagi enak-enak nya, dan tanpa sadar lu keluarin benih lu di dalem," celetuk Jeffry tanpa filter.


"Mas!!" tegur Vio, sang istri.


"Apa? Masih bicara bener kok, siapa tau Nares lupa."


"Kak lu bisa diam gak?!"


"Mah, pah. Nares pergi ke kamar dulu," ucap Nares pada kedua orang tuanya.


Dan ia pun pergi naik ke kamarnya, di lantai dua, di susul Zahra.


°°°


Los Angeles- Amerika.


Sementara di tanah air Nares tengah berfikir, apakah yang dikatakan kakaknya masuk akal. Apakah ia pernah lupa, pernah menanam benihnya di rahim Zoya?


Lain lagi dengan Zoya, pagi ini ia tengah memastikan sesuatu, apakah dugaannya benar atau salah.


Cklek.


Zoya pun keluar dari kamar mandi yang ada di kamarnya, di sana ternyata sudah ada angel yang menunggu.


"Bagaimana?" tanya Angel.


Zoya pun memberikan sebuah alat yang berbentuk panjang dan tipis. Di lihatnya, di lihatnya alat tersebut menampilkan garis dua.


"Zoya kamu hamil!!!" teriaknya dengan bahagia.


Angel pun langsung memeluk sahabat sekaligus adik baginya.


"Astaga, aku tidak menyangka kamu bakal hamil di usia muda. Selamat ya," ucap Angel setelah melerai pelukannya.

__ADS_1


"Terima kasih kak." Zoya pun tersenyum.


Jujur Zoya bahagia atas kehamilannya, ia tahu saat ini ia masih muda. Namun mau bagaimana lagi, ia sudah lama menginginkan mengandung benih dari orang yang ia cintai.


Ia bersyukur, pada saat ia pergi dari kehidupan Nares, setidaknya ia masih bisa memiliki Nares, meski hanya Nares junior.


Sebenarnya Zoya sudah berkonsultasi pada dokter kandungan sebelum ia pergi, ia sudah menerapkan program hamil, tanpa sepengetahuan dari suaminya.


Zoya hanya takut, jika Nares tahu bahwa ia mengikuti program hamil maka suaminya itu akan melarangnya, dengan alasan ia masih muda.


Sebenarnya sang dokter pun menyarankan agar nanti saja ia hamil, karena di usianya yang masih muda sangat rentan, namun Zoya tetap bersih keras ingin memiliki seorang anak dari Nares.


Dan secara kebetulan juga, pada malam itu ia sedang dalam masa suburnya, ditambah lagi Nares mengeluarkan benihnya di dalam perut Zoya, sehingga memenuhi rahimnya.


"Kak. Maafkan aku, aku telah membawa barang berharga darimu, tanpa bilang padamu. Aku harap kakak tidak marah, karena hanya ini yang aku punya," ucapnya dalam hati. Seraya mengusap perutnya yang masih rata.


"Lebih baik kita pergi belanja sayuran, dan makanan," ucap Angel.


"Ayo."


Mereka berdua pun pergi ke Asian mart untuk membeli bahan makanan yang akan mereka masak.


°°°


Indonesia.


Ia teringat waktu malam, sebelum Zoya pergi. Ia dan Zoya menjalankan hubungan suami istri, dan pada saat itu ia benar-benar tidak ingat, apakah ia mengeluarkan nya dari dalam, atau tidak.


Sungguh ia benar-benar pusing memikirkan ini semua.


Sampai tiba pintu pun diketuk, setelah ia memberikan ijin untuk masuk, barulah pintu itu terbuka, dan menampilkan asistennya Roy.


"Maaf tuan, sekarang waktunya untuk pergi ke cafe, untuk membahas mengenai proyek dengan perusahaan xxx, termasuk perusahaan Abimanyu grup," ucap Roy.


"Ah ya aku lupa, baiklah."


Mereka pun keluar dari ruangan itu, dan mulai pergi ke cafe tempat bertemunya dengan koleganya.


Tak lama mereka pun telah sampai di cafe itu, kemudian mereka di antar oleh salah satu pelayan cafe itu ke ruangan VIP, yang dimana di sana Jeffry dan salah satu koleganya berada.


Setelah Nares dan Roy duduk di salah satu kursi, semua orang pun langsung memulai membahas mengenai proyek yang akan mereka lakukan.


Beberapa jam kemudian, mereka telah selesai membahas mengenai proyek mereka.


Setelah kolega dan asisten nya pergi, kini tinggallah kakak beradik, dan juga asisten pribadi mereka.


"Bisa kalian tunggu kami di luar, saya ingin berbicara berdua dengan adik saya," ucap Jeffry pada asisten pribadinya dan juga manatan asisten pribadinya, pada saat ia masih menjalankan bisnis di perusahaan keluarganya.


"Baik tuan." Keduanya pun berbicara dengan kompak, dan juga pergi keluar dari ruangan VIP itu.

__ADS_1


Dan kini tinggallah kedua kakak beradik itu.


"Ada apa?" tanya Nares.


"Mm ... Gini, lu bener gak pernah mengeluarkan benih lu di dalam rahim Zoya?" tanya Jeffry.


"Iya."


"Yakin?"


"Yakin!"


"Ya, siapa tau lu lupa," ucap Jeffry.


"Pernah sih, waktu gua pergi ke Bali. Dan itu bukannya udah lama, dan dua Minggu setelah di Bali dia datang bulan kok."


"Tapi lu bener cuman di Bali aja, siapa tau lu lupa?"


"Gua yakin."


Ya, Nares merasa yakin dengan pikirannya, dia selalu ingat apa yang ia lakukan, meski ia sempat tidak enak hati, dan merasa jahat pada istrinya itu.


"Yasudah, gua hanya takut lu lupa."


Setelah mengatakan itu, keduanya pergi untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


°°°


Pada saat Nares pulang, ternyata di rumahnya dengan Zahra, kedua mertuanya ada di sana.


Setelah menyalim punggung tangan kedua mertuanya, Nares pun ijin untuk ke kamarnya, karena ingin membersihkan dirinya.


Tak lama setelah mandi, ia pun turun kembali untuk menemui mertuanya itu.


Di sana ia melihat ayah mertuanya itu tengah menggendong anaknya, Zahwa.


Pada saat ia akan menemui ayah mertuanya itu, tiba-tiba ibu mertuanya menghentikan langkahnya.


"Nares apa bisa ibu bicara denganmu, hanya berdua?" tanya sang ibu mertua.


"Memangnya ibu mau bicarakan hal apa?" jawab Nares sekaligus balik bertanya.


"Ada, ikut ibu saja."


Nares pun mengikuti langkah ibu mertuanya yang melangkah lebih dulu.


Dan di sinilah mereka sekarang, di taman belakang rumah Nares.


"Ada apa Bu?" tanya Nares setelah mereka berada di taman belakang rumah.

__ADS_1


__ADS_2