Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 77


__ADS_3

Setelah itu ia pun keluar dari kamarnya, dengan Zahwa yang berada di gendongannya.


Sementara Zahra, ia mulai menyiapkan pakaiannya dan juga putrinya kedalam koper dan juga tas bayi.


Karena ia akan menginap di rumah kedua orang tua Nares, selama suaminya itu berada di luar negri.


Setelah itu Zahra pun turun kebawah, menemui suaminya dan juga putrinya, mereka akan sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke kediaman kedua orang tua Nares.


Selesai sarapan Nares naik ke kamar mereka untuk mengambil koper miliknya dan juga milik istrinya, serta tas bayi yang berisi pakaian dan beberapa keperluan Zahwa, putrinya.


Tak lama mereka pun pergi meninggalkan rumah mereka, dan pergi ke kediaman keluarga Syahputra.


°°°


Malam harinya, kini Nares sudah siap dengan stelan santainya.


Dia kini memakai kaos berlengan pendek berwarna hitam, dipadukan dengan jaket Levis berwana hijau army, dan juga celana jeans, serta sepatu sneaker.


Sungguh penampilan Nares saat ini, bukan seperti seorang yang sebentar lagi akan memasuki usia kepala tiga.


Tapi seperti seorang remaja yang berusia dua puluhan.


Nares pun turun kebawah, yang dimana semua orang sedang menunggunya.


Termasuk Jeffry, ia menyempatkan untuk pergi ke rumahnya terlebih dahulu, sebelum pulang ke mansion Abimanyu yang ia tempati bersama Vio.


"Nares apa kamu yakin tentang keputusan mu?" tanya sang mamah, jujur ia sangat tidak ingin anaknya itu membuat keputusan yang salah.


"In syaa Allah, mah," jawab Nares.


"Tapi bagaimana jika Zoya benar-benar hamil," ujar sang mamah, karena ia tak ingin nantinya Zoya melahirkan tanpa ada yang menemani.


Jika nantinya putranya itu masih kekeh untuk menceraikan Zoya.


"Jika Zoya hamil, Nares pun tidak akan menceraikan dia mah."


"Syukurlah. Mamah hanya tidak ingin, nantinya cucu mamah lahir tanpa seorang ayah. Apalagi pernikahan kalian hanya siri."


"Itu tidak akan terjadi mah."


"Yasudah Nares pergi dulu. Mah, pah, titip istri dan anak Nares ya," ucap Nares, pada kedua orang tuanya.


"Iya kamu jangan khawatir," ujar sang mamah, lain lagi dengan pak Putra ia hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Sayang mas berangkat dulu ya, baik-baik ya." pamitnya pada sang istri.


"Iya mas hati-hati." Zahra pun menyalim punggung tangan suaminya, dan dibalas oleh Nares dengan diciumnya keningnya.


Setelah itu Nares pun menyalim punggung tangan kedua orang tuanya.


Barulah ia pergi ke bandara dengan di antar oleh Jeffry, sang kakak.


"Ayo gua antar ke bandara," ucap Jeffry.


"Gak pa-pa, nanti ka Vio nyariin lu gimana."


"Tenang gua udah bilang sama istri gua, dia bilang gak pa-pa."


"Oh oke. Mah, pah, sayang, Nares pamit. Assalamu'alaikum," ucapnya.


"Wa'alaikum salam," jawab ketiga manusia beda generasi itu.


Nares dan Jeffry pun masuk kedalam mobil Jeffry, dan Jeffry pun mulai menyalakan mesin mobil, setelah itu mobil pun meninggalkan kediaman keluarga Syahputra.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Nares pun sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta.


"Thanks kak, udah mau antar gua," ucapnya pada sang kakak.


"Iya kak, yaudah gua masuk dulu."


Nares pun pergi setelah berpamitan kepada kakaknya itu.


Begitupun dengan Jeffry, dia pun masuk kembali kedalam mobilnya, dan pergi meninggalkan bandara itu, dan pergi pulang ke mansion nya.


°°°


Setelah menempuh penerbangan yang cukup lama, yakni 20 sampai 23 jam perjalanan, akhirnya Nares telah sampai di kota Los Angeles- Amerika serikat.


Di sana ia pun mulai menghubungi seseorang yang ia tugaskan untuk menjaga Zoya selama di LA ini.


Tak lama menunggu, akhirnya seseorang yang tak lain adalah Jo, orang yang dulu pernah membantu dirinya untuk membebaskan Zoya dari para penjahat yang di tugaskan oleh paman angkatnya Zoya waktu itu.


"Pagi tuan," sapa Jo, setelah berada di hadapan tuannya.


"Pagi." Nares pun membalas sapaan dari Jo.


"Sekarang kita mau kemana? Ke hotel atau ke rumah nona muda? Kebetulan hari ini nona muda saya lihat, beliau tidak pergi bekerja," ucap Jo, sekaligus bertanya.

__ADS_1


"Mm ... Sebaiknya kita pergi ke rumah Zoya, saya ingin langsung menemuinya," jawab Nares setelah lama berfikir.


"Baik, mari." Jo pun membantu Nares untuk memasukkan kopernya ke bagasi mobil.


Setelah itu mereka pun pergi dari bandara itu, dan menuju ke rumah Zoya, dengan Jo yang duduk di kursi kemudi, karena kebetulan dia memiliki SIM. (Aku gak tahu namanya surat ijin mengemudi, di Amerika itu di sebutnya apa. Jadi mohon maaf ya hehehe).


Sementara Nares ia duduk di kursi sampingnya.


Selama di perjalanan, Nares pun mulai menanyakan apa saja yang dilakukan oleh Zoya, dan dengan siapa ia bertemu. Dan tak lupa pula, Nares menanyakan apakah Jo melihat tanda-tanda wanita hamil di diri Zoya.


Dan Jo pun menjawab, bahwa ia tidak menemukan tanda-tanda kehamilan di diri Zoya, tapi ia pernah lihat, bahwa tingkat makan Zoya cukup meningkatkan.


Dia melihat bahwa Zoya sering sekali makan.


Dan Nares pun merasa bingung, bagaimana cara mengetahui bahwa Zoya hamil atau tidak.


Jika ia bilang secara langsung, maka bisa di pastikan, Zoya tak mungkin langsung menjawabnya.


Tak lama, mobil yang dikendarai oleh Jo pun sampai di depan rumah Zoya, namun masih dengan jarak yang cukup jauh, agar Zoya tidak curiga, bahwasanya ia selama ini di awasi.


Di sana Nares melihat suasana rumah Zoya sepi, seperti tidak ada orang yang berada di rumah.


"Kenapa sepi?" tanya Nares, tanpa memalingkan matanya yang masih menatap rumah sederhana bergaya khas Amerika itu istrinya itu.


"Sepertinya Nona sedang pergi ke luar," jawab Jo.


Dan Nares pun hanya mengangguk.


Nares pun lebih memilih menunggu Zoya sampai pulang, meski ia tidak tahu kapan Zoya akan pulang ke rumahnya.


°°°


Disisi lain, Zoya yang kini sudah selesai belanja membeli kebutuhan dapur, dan juga membeli susu khusus ibu hamil dan juga beberapa makanan bergizi, pun memilih untuk pulang.


Biasanya Zoya setiap kali pergi untuk berbelanja atau apapun, pasti akan selalu pergi ke taman seraya memakan es krim.


Tapi entah kenapa kali ini ia ingin segera pulang ke rumahnya, seakan-akan ada sesuatu yang sedang menanti dirinya.


°°°


Disisi lain pula, sudah dua jam Nares menunggu Zoya, namun tidak ada pertanda bahwa Zoya akan pulang ke rumahnya.


"Tuan bagaimana kita kembali nanti malam saja?" Saran Jo.

__ADS_1


__ADS_2