Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 59


__ADS_3

"Kenapa kamu sangat nakal sekali, hm?" tanya Nares, ia pun menarik Zoya sehingga tubuh Zoya menubruk tubuhnya.


"Nakal terhadap suami sendiri, tidak masalah, bukan."


Setelah mengatakan hal itu, Zoya pun mendorong Nares hingga terbaring di atas ranjang.


Setelah melihat suaminya terbaring terlentang di atas ranjang, Zoya pun melangkah seraya membuka tali rambut yang mengikat rambutnya, agar rambutnya terurai.


Setelah itu ia pun naik ke atas ranjang, dan merangkak naik ke tubuh suaminya itu.


"Malam ini kamu akan menjadi milik ku, kak." Bisik Zoya di telinga Nares, dan ia pun menjilat kuping suaminya itu.


Setelah itu terjadi lah malam panas di antara keduanya, dengan pencahayaan yang terdapat dari lilin aroma, dan juga rembulan yang bersinar di malam hari.


°°°


Sinar matahari pun menerobos pada jendela kamar yang di tempati oleh sepasang suami istri itu.


Semalam setelah mereka bercinta, mereka memutuskan untuk mandi bersama, dan setelah waktu ibadah tiba, mereka pun menjalankan ibadah berdua, selesai beribadah, keduanya memutuskan untuk tidur kembali.


Karena mereka masih lelah dengan aktivitas yang mereka lakukan semalam.


Dan barulah mereka terbangun dari tidurnya pada saat pukul dua belas siang.


Nares pun terbangun dari tidurnya, pada saat ia membuka mata, hal pertama kali yang ia lihat adalah wajah polos istrinya.


Nares pun mengamati wajah cantik Zoya, ia pun menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah istrinya itu.


Ditatapnya, kemudian ia pun mengelus pipi Zoya, dan kemudian jari itu turun ke bibir ranum Zoya.


Bibir yang memberikan rasa manis, perlahan Nares pun mendekatkan wajahnya, ia ingin mengecup bibir manis itu.


Namun belum sempat ia menempelkan bibirnya ke bibir Zoya, tiba-tiba Zoya mengeluh.


"Euuughh," lenguhan nya.


Buru-buru Nares menjauhkan wajahnya dari wajah Zoya, sebelum Zoya benar-benar tersadar dari tidurnya.


Tak lama, Zoya pun membuka matanya, dilihatnya suaminya itu yang sudah terlebih dahulu bangun.


"Pagi," ucap Zoya dengan serak.


"Pagi." Nares pun membalas ucapan Zoya.


"Mandi geh, habis itu kita makan siang," ujar Nares seraya bangkit dari tidurnya, dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang.

__ADS_1


Zoya pun ikut duduk, dan bersandar di dada bidang suaminya yang dibiarkan bertelanjang dada.


Ya, subuh tadi setelah melakukan ibadah, Nares membuka baju Koko dan sengaja tidak memakai baju kembali dan hanya memakai celana boxer-nya saja.


"Zoy, aku suruh kamu mandi. Bukan bermanja-manja begini," ucapnya, namun tetap membiarkan istrinya itu bersandar di dada bidangnya, sesekali ia pun mengelus rambut coklat Zoya.


"Mau mandi bareng?" Tawar Zoya, seraya mendongkang ke arah Nares.


"No."


"Why? Takut tergoda?" tanyanya seraya menarik turunkan alisnya.


Tak. Nares pun menjitak kening Zoya. "Kamu masih kecil kenapa mempunyai pemikiran seperti itu? Dan darimana kamu tahu cara menggoda yang kamu lakukan semalam?" tanya Nares beruntun.


Dan hal itu membuat Zoya cemberut, karena keningnya di jitak oleh Nares.


"Aku itu udah besar tahu, umurku sudah 18thn," jawabnya.


"18thn menurutku masih kecil, Zoy. Lagian, dimana Zoya yang polos aku kenal," ujar Nares.


"Sudah sana cepat mandi."


"Tidak mau. Kakak duluan saja, aku masih ingin tidur." Zoya pun kembali merebahkan dirinya di atas ranjang.


Sementara Nares ia lebih memilih mengalah, ia pergi ke kamar mandi.


Zoya pun beranjak dari rebahan nya, dan ia pun masuk kedalam kamar mandi. Sementara Nares, setelah istrinya itu sudah masuk kedalam kamar mandi, ia pun bergegas memakai pakaiannya.


Tak lama, kini keduanya sudah berada di meja makan, mereka makan siang terlebih dahulu, sebelum mereka kembali ke Jakarta.


°°°


Disisi lain, kini Zahra tengah melamun di balkon kamar Nares.


Seperti biasa, jika suaminya itu pergi ke luar kota, maka ia dan putrinya akan tinggal di rumah kedua mertuanya untuk sementara, sampai suaminya itu pulang.


Di saat ia melamun, ia dikejutkan dengan kedatangan ibunya yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya, entah sejak kapan.


"Jika kamu tidak sanggup untuk mempunyai madu, minta saja sama suamimu untuk menceraikan istri keduanya itu," ujar sang ibu.


"Ibu. Sejak kapan ibu kemari?" tanyanya.


"Apa aku tidak boleh datang kemari?" Bukannya menjawab sang ibu justru malah balik bertanya.


"Bukan seperti itu. Hanya saja, kenapa ayah dan ibu tidak mengabari Zahra terlebih dahulu," jawabnya.

__ADS_1


"Lalu dimana ayah?" tanya Zahra.


"Dibawah, sedang mengobrol dengan ayah mertua mu," jawab sang ibu, dengan wajah kasar.


"Apa suamimu belum pulang, dari liburannya? Atau dari bulan madunya bersama istri keduanya?" tanya sang ibu, masih dengan wajah datar.


"Nanti malam mereka akan pulang, tadi mas Nares menghubungi ku," jawab Zahra dengan sopan.


"Ibu pikir suamimu, tidak ingin pulang. Karena masih betah di sana, bersama istri mudanya itu," ucapnya dengan judes.


"Bu, sudahlah. Lagian, jika mas Nares masih ingin di sana, aku tak apa. Lagian ada mamah mertuaku ini yang menjaga aku dan Zahwa."


"Zahra, Zahra. Kamu ini bagaimana sih, bukannya marah, suaminya lebih memilih mengajak istri mudanya itu pergi ke Bali, dibanding mengajak kamu dan anakmu."


"Bu, lagian aku sudah pergi ke sana. Dan juga, baru kali ini, mas Nares mengajak Zoya pergi ke luar kota. Lagi pula, selama ini, mas Nares belum pernah mengajak Zoya pergi kemana pun."


"Sterah lah, bicara kamu tidak ada untungnya. Kamu selalu saja membela mereka." Sang ibu pun pergi dari kamar anak dan mantunya itu, begitupun dengan Zahra ia pergi keluar untuk menemui ayahnya.


Sementara putrinya, tadi sedang bermain dengan Oma nya, di taman belakang.


°°°


Tak terasa, setelah beberapa jam. Akhirnya Nares dan Zoya sampai di Jakarta.


Mereka pun melangkah ke luar bandara, yang ternyata di sana sudah ada Robi yang menunggu.


Ya, Nares meminta teman sekaligus asistennya itu untuk menjemput dirinya dan sang istri.


"Wih, yang habis honeymoon. Kenpa cepet bangat pulangnya," ucapnya ketika, kedua suami istri itu sudah berada di hadapannya.


"Berisik. Lebih baik, bantuin gua masukin nih koper ke bagasi."


"Ya-iya." Robi pun membantu teman sekaligus bosnya itu memasukkan koper ke bagasi mobil.


Setelah memasukkan koper ke bagasi, ketiganya pun masuk kedalam mobil.


Dengan Robi yang duduk di bagian kemudi, sementara Nares dan Zoya, mereka berdua duduk di kursi penumpang yang berada di belakang.


"Dah kaya supir aja gua," ujarnya, setelah mereka berada di dalam mobil.


"Gak usah banyak ngomong bisa?! Lebih baik cepet jalankan mobilnya."


"Baik tuan." Robi pun menjalankan mobilnya.


***

__ADS_1


Terimakasih 🙏🤗


__ADS_2