Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 76


__ADS_3

"Ada apa Bu?" tanya Nares setelah mereka berada di taman belakang rumah.


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Maksud ibu?"


"Ibu berharap kamu menceraikan istri keduamu itu. Untuk apa kamu masih mempertahankan dia, dia saja sudah pergi meninggalkan kamu," jawab sang ibu dengan nada ketusnya.


"Tapi ... "


Belum sempat Nares melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Zahra datang, dan bilang bahwa ayahnya memanggil ibunya itu.


"Maaf mengganggu pembicaraan kalian, ibu ayah memanggil ibu," ucap Zahra.


"Oh ya." Setelah mengatakan itu, ibu pun masuk kedalam rumah untuk menemui suaminya itu.


"Apa yang kalian bicarakan, mas?" tanya Zahra.


"Tidak ada, hanya menanyakan kabar saja," jawabnya dengan bohong.


"Oh."


"Yasudah sebaiknya kita masuk kedalam."


Nares dan Zahra pun menyusul ibu mereka yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.


°°°


Malam harinya, kini Zahra tengah duduk di atas ranjangnya, seraya melamun.


Ia memikirkan ucapan dari ibu tirinya itu, ibu tirinya mengatakan, ia harus menyuruh suaminya untuk menceraikan Zoya.


Apakah dia sanggup? Entahlah.


Jika bisa dibilang, ia pun sedikit merasa takut. Apalagi pada saat ia tengah berkumpul dengan kakak iparnya dan juga mertuanya, di rumah kedua orang tua Nares, ia mendengar penjelasan dari kakak iparnya, Jeffry.


Yang bilang, bahwasanya suaminya itu kini tengah mengalami kehamilan simpatik.


Jujur Zahra merasa takut, jika seandainya benar Zoya kini tengah hamil anak dari suaminya, maka suaminya itu akan lebih fokus dengan kehamilan Zoya, dibanding dirinya.


Namun pemikiran itu ia tepis jauh-jauh, ia tidak boleh egois, jika memang benar Zoya hamil, maka ia harus bahagia, mau bagaimana pun anak yang dikandung oleh madunya adalah anak dari suaminya.


Apalagi ia sendiri, yang menyuruh suaminya itu untuk tidak menceraikan Zoya.


Dan Zahra yakin, Nares tidak akan bersikap tidak adil pada dirinya, meski kelak Zoya hamil anak dari suaminya.


Tak ingin terus berfikiran negatif, Zahra pun tidur terlebih dahulu, tanpa menunggu sang suami yang kini masih diruang kerjanya.

__ADS_1


°°°


Tak jauh beda dari Zahra, Nares pun tengah memikirkan apa yang harus ia lakukan.


Saat ini ia tengah duduk di atas kursi kerjanya. Setelah lama berfikir, Nares memutuskan untuk pergi ke LA, menemui istri keduanya itu.


Dan ia berfikir, akan mengabulkan permintaan dari Zoya, untuk menceraikannya.


Jahat? Ya, Nares akui dirinya jahat, karena telah menyakiti hati istri kecilnya itu.


Tapi mau bagaimana lagi, Zoya yang menginginkan nya, tapi ia melupakan sesuatu yakini, kebenaran tentang Zoya. Apakah istrinya itu kini tengah mengandung anaknya, atau tidak?


Yang jelas Nares akan mengurungkan niatnya untuk menceraikan Zoya, jika memang benar Zoya tengah mengandung anaknya.


Mau bagaimana pun, Nares tak ingin anaknya kelak lahir tanpa dirinya, dan ia tak mau Zoya menjalankan masa kehamilannya seorang diri, tanpa ada dirinya, di sisi Zoya.


Ia pun menghubungi Roy, untuk meminta bantuan mencarikan tiket pesawat ke Los Angeles- Amerika serikat.


Asisten kakaknya itu memang sangat bisa diandalkan, dan juga sangat serba bisa.


"Halo, Roy. Maaf aku mengganggu mu malam-malam begini," ucap Nares, ketika sambungan telepon terhubung.


"Tak apa tuan, apa ada masalah?" tanya Roy, diseberang sana.


"Tidak. Tapi bisa kah, kita jangan pakai bahasa formal? Kau tahu, seharusnya aku yang memanggil mu kakak, tapi kau malah tidak mau di panggil kakak," gerutu Nares.


"Ya tetap saja, kau harus memanggil ku Nares, tanpa embel-embel tuan."


"Maaf saya tidak bisa."


"Baiklah jika kau tidak mau, aku yang akan memanggil mu kakak, jika berada di luar kerja."


"Sebaiknya anda jangan melakukan itu, baik katakan apa yang ingin tuan inginkan?"


"Aissss, gara-gara berdebat dengan sebutan, aku jadi lupa, kenapa aku menelpon mu malam-malam begini ... Yasudah, aku hanya ingin bilang, tolong pesankan aku tiket pesawat ke LA."


"Hanya itu?"


"Ya."


"Baik, saya akan pesankan, sekaligus saya akan mengurusi paspor beserta visa, agar tuan bisa langsung pergi, tanpa harus mengurusi yang lainnya. Dan nanti saya akan memberitahukan kepada tuan kapan jadwal penerbangan tuan ke LA.


"Wah, kalau begitu terima kasih. Dan sekali lagi maaf saya menganggu mu malam-malam begini."


"Tak apa tuan, sama-sama. Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya tutup teleponnya."


"Hm, ya."

__ADS_1


Tut.


Setelah sambungan telepon itu terputus, Nares pun keluar dari ruang kerjanya, dan pergi ke kamarnya bersama Zahra, yang letaknya tidak jauh dari sana.


Setelah masuk kedalam kamarnya, ia mendapati istrinya itu yang sudah terlelap dalam tidurnya.


Nares pun masuk kedalam kamar mandi, untuk mencuci muka dan menggosok giginya.


Tak butuh waktu lama, ia pun keluar dari kamar mandi, setelah itu ia pun naik ke atas ranjang, dan mulai merebahkan tubuhnya, lalu memeluk istrinya itu, dan ia pun mulai memejamkan matanya, dan menyusul putri dan istrinya yang sudah lebih dulu memasuki dunia mimpi.


°°°


Besok paginya, Nares tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


Namun sebelum itu, ia akan berbicara pada Zahra mengenai ia akan pergi ke LA, terlebih dahulu.


"Mm ... Sayang."


"Iya mas ada apa?"


"Begini. Lebih baik, kamu menyiapkan pakaian kami dan Zahwa," ucap Nares.


"Memangnya kenapa mas?" tanya Zahra.


"Begini. Nanti malam, aku harus pergi ke LA. Aku akan menemui Zoya, dan aku ... Aku akan menceraikan dia," jawabnya lirih.


"Apa?! Tapi kenapa? Kenapa kamu ingin menceraikan dia, mas?"


"Rasanya aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup menyakiti kalian berdua, aku tahu selama ini Zoya bersabar, karena aku tidak pernah membalas cintanya, dan hanya menganggap dia sebagai adikku saja. Dan aku tau kamu merasa cemburu, dan aku juga tau, kamu juga menginginkan mas untuk cerai dengan Zoya, kan?"


"Tapi kamu tidak berani berbicara sama mas," lanjutnya.


"Mas," ucap Zahra tidak percaya, suaminya itu masih mencintai dirinya, Zahra pikir selama lima bulan terakhir ini, suaminya sudah mulai mencintai Zoya.


Tapi ia salah, ternyata suaminya itu masih sangat mencintai dirinya, dan hanya menganggap Zoya sebagai adiknya, sama seperti dirinya yang sudah menganggap Zoya sebagai adiknya.


Sungguh Zahra tidak percaya.


"Baiklah. Lalu apa mas juga mau aku siapkan pakaian mas dan memasukkannya kedalam koper?"


"Tidak perlu. Sebenarnya mas sudah mengemasi nya semalam, maaf ya, mas gak bilang sama kamu," jawab Nares dengan senyum yang terukir di bibirnya.


"Tak apa mas."


"Yasudah, kalau begitu mas dan Zahwa turun duluan ya."


"Iya mas."

__ADS_1


Nares pun mengambil Zahwa, putrinya. Yang tengah berbaring sambil mengemut ibu jarinya yang kecil.


__ADS_2