Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 86


__ADS_3

Nares pun masuk kedalam mobilnya, dan ia pun mulai melajukkan mobilnya.


Sementara Zoya, ia kembali masuk kedalam rumah, setelah melihat mobil suaminya yang tidak lagi terlihat.


...***...


Satu Minggu kemudian.


Sudah satu Minggu, dan besok adalah hari dimana Zahra akan pulang ke tanah air. Ditambah lagi, besok adalah hari ulang tahun Nares yang ke 30thn.


Hari ini, tepat pada pukul 23:30 wib. Nares tengah bervideo call bersama dengan Zahra, istri pertamanya, di kamarnya yang bisa ia tempati dengan istri pertamanya itu.


Karena memang hari ini jadwal dia bersama dengan istri pertamanya itu, meski Zahra masih berada di Kairo, Mesir.


"Assalamu'alaikum, selamat ulang tahun, mas. Selamat bertambah usia, terima kasih sudah menjadi suami yang baik, dan juga ayah yang baik untukku dan Zahwa. Maaf, aku tidak bisa mengucapkan selamat ulang tahun padamu secara langsung, dan maaf aku belum kasih kamu hadiah, mas. Do'a ku, semoga kamu bahagia, dan sehat selalu," ujar Zahra di sebrang sana.


"Wa'alaikum salam, terima kasih atas ucapan dan do'a nya. Seharusnya mas yang harus berterima kasih padamu, karena sudah menjadi istri yang baik, dan Solehah. Kamu tidak perlu memberikan mas hadiah, dengan kamu pulang ke tanah air dengan selamat itu sudah dari cukup untuk mas, sayang."


"Oh ya, apa Zahwa sudah tidur?" tanya Zahra.


"Sudah, lihat lah dia sudah tidur dengan nyenyak," jawabnya, seraya memperlihatkan putri mereka yang tengah terlelap dalam tidurnya di atas ranjang.


"Dia tidak merepotkan kamu kan, mas?" tanya Zahra lagi.


"Tentu saja tidak, dia anak yang baik, sama seperti ibunya."


"Syukurlah. Aku takut Zahwa merepotkan kamu dengan semua orang."


"Tidak sayang. Justru mas lebih senang direpotkan oleh anak mas sendiri."


Mereka berdua pun berbincang bersama. Sampai tiba, Zahra harus mematikan sambungan Vido call itu, karena ia sudah ditunggu oleh temannya yang akan menghadiri pesta dari gurunya dulu.


"Mm ... Mas, maaf ya. Aku harus tutup teleponnya dahulu, karena temanku sudah menunggu."


"Iya tak apa sayang, kamu hati-hati ya. Ingat besok, jika sudah sampai di bandara langsung hubungi mas ya."


"Iya mas, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Tut.


Panggilan video itu pun terputus, Nares pun menaruh ponselnya di atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya.


Dan ia pun mulai merebahkan tubuhnya, namun belum juga ia merebahkan tubuhnya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.

__ADS_1


Tok, tok, tok.


"Siapa ya," monolog nya.


Nares pun beranjak dari rebahan nya, ia pun melangkah menuju pintu, guna membuka pintu kamarnya.


"Suprise!!!" teriak Zoya, namun masih dengan nada pelan, karena ia tidak ingin menganggu Zahwa dan semua orang yang tengah tidur itu.


Sementara Nares, ia terkejut, lantaran pada saat ia membuka pintu, ia sudah mendapatkan kejutan dari istri keduanya itu dengan membawa birthday cake, menggunakan kedua tangannya.


"Astaga, seharusnya kamu tidak usah kasih aku suprise, Zoy." Nares pun berucap dengan senyum manisnya.


"Apa kakak tidak suka?" tanyanya dengan nada murung.


"Tidak, aku justru senang. Terima kasih ya," jawabnya masih dengan senyumnya yang menghiasi bibirnya, seraya mengacak rambut Zoya.


"Benar," ucapnya dengan mata berbinar.


"Tentu."


"Kalau begitu, tiup lilinnya."


Dan Nares pun meniup lilin yang ada di birthday cake itu.


"Tidak masalah."


"Yasudah, ayo kita masuk." Nares pun mengajak Zoya untuk masuk kedalam kamarnya.


"Mm ... Tidak usah kak, aku mau balik ke kamar," tolak Zoya.


"Zoy, ini sudah larut malam. Ditambah lagi, tidak baik kamu harus turun tangga sendirian."


"Baiklah kalau kakak maksa."


Setelah itu Zoya pun masuk kedalam kamarnya, ini baru pertama kali Zoya melihat kamar suaminya itu.


Kamar yang cukup luas, dengan dinding bercat abu-abu.


"Wah kamar kakak luas juga ya," ujar Zoya, saat ia masuk kedalam kamar suaminya untuk pertama kali.


Lain halnya dengan Nares, ia begitu terkejut istrinya itu berujar seperti itu. Ia pikir istrinya itu sudah tau isi dalam kamar pribadinya.


"Kamu belum pernah masuk kedalam kamarku ini?" tanya Nares, dan Zoya pun menggeleng tanda ia belum pernah masuk kedalam kamar pribadi suaminya.


"Huffstt, kanapa?"

__ADS_1


"Ya, karena tidak enak. Ini kan kamar kakak dan juga kamar Mbak Zahra, tidak enak jika aku masuk kedalam kamar kalian," jawab Zoya.


Nares pun menghela nafasnya, mendengar jawaban dari istrinya itu, kemudian ia pun memegang kedua bahu Zoya.


"Zoy, jika aku berada di rumah bersama Zahra. Kamu bisa masuk kedalam kamar ini, jika kamu mau, aku tidak masalah sama sekali," ucapnya seraya melihat mata biru istrinya itu.


"Mm ... Baiklah, lain kali kalau aku ingin ke kamar kakak, maka aku akan kemari."


"Yasudah, lebih baik kita tidur. Tidak baik, kamu tidur terlalu malam begini," ucap Nares.


Ia pun menyuruh Zoya untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size, yang dimana ditengah-tengah nya ada Zahwa yang tengah tidur itu.


Zoya pun mendudukkan tubuhnya, sebelum ia merebahkan tubuhnya, terlebih dahulu mencium kening Zahwa.


"Selamat malam, my princess," bisik Zoya, di telinga Zahwa.


Dan hal itu membuat tidur Zahwa sedikit terusik, lantaran telinga nya yang gatal, akibat bisikan dari Zoya.


Melihat putri sambungnya kegelian, membuat Zoya terkekeh.


Sementara Nares, ia hanya tersenyum melihat interaksi yang dilakukan oleh istrinya dengan anaknya, meski anaknya itu tengah tertidur pulas.


Setelah itu, Zoya pun merebahkan tubuhnya dibantu oleh suaminya, lantaran meski di usia kandungan nya yang masih empat bulan, sudah membuat Zoya kelelahan dan kesusahan menjalankan aktifitasnya.


Sementara Nares ia pun menarik selimut sampai batas dada Zoya, dan tak lupa ia mencium kening dan perut Zoya yang membuncit.


"Selamat malam," ucapnya, ia pun kemudian merebahkan tubuhnya di bagian sisi yang lainnya.


Mereka bertiga pun tidur dengan tenang.


°°°


Pagi harinya, setelah selesai sarapan bersama. Seperti biasa, setiap weekend, kegiatan yang dilakukan oleh keluarga Syahputra ialah berkumpul bersama di ruang keluarga.


Di sana mereka berkumpul, sambil menonton televisi, dan berbincang bersama.


Disini lah mereka, papah, mamah, dan Zoya, serta Zahwa, sedang berkumpul di ruang keluarga, seraya menonton televisi.


Dengan Zahwa yang berada di dekapan sang Oma.


Sementara Nares, ia masih berada di kamarnya, entah apa yang ia lakukan, sehingga ia belum ikut berkumpul dengan semua orang.


Pagi ini, mereka di kejutkan dengan berita yang sedang ditayangkan di televisi.


Di televisi itu diberitakan ...

__ADS_1


__ADS_2