
Nares pun mengambil pakaian untuk ia pakai ke kantor, setelah itu ia keluar dari kamar.
Dan menuju ke ruang kerjanya, untuk mengganti pakaiannya didalam ruang kerjanya.
Setelah rapi dengan setelan kerjanya, sama seperti sebelumnya, yakni kemeja dengan lengan yang digulung sampai siku, dan juga celana bahan panjang, serta sepatu sneaker nya, itulah gaya pakaian yang kerap Nares pakai ketika sedang bekerja.
Setelah itu, Nares pun pergi ke kamarnya, untuk berpamitan pada Zoya.
Tok, tok, tok. Nares mengetuk pintu yang terbuka lebar.
"Kakak, ada apa?" tanya Zoya.
"Tidak. Aku hanya ingin berpamitan, aku pergi bekerja dulu, tapi kakak masih khawatir dengan mu. Kamu yakin gak pa-pa, kakak tinggal kerja?" tanya Nares memastikan.
"Gak pa-pa kak. Lagian ada temanku ini," jawabnya.
"Yasudah kalau begitu, kakak pamit ya," ucapnya. Zoya pun menyalim punggung tangan suaminya, dan dibalas oleh Nares dengan mencium kening Zoya.
Setelah itu Nares pun keluar dari kamarnya, dan tinggallah Zoya dan kedua temannya.
"Huuaahh Zoya. Lu tau gak?" tanya Dila yang tiba-tiba.
"Apa!" ujar Zoya dengan bingung, dengan salah satu temannya itu yang tiba-tiba nangis.
"Gua habis putus sama pacar gua kemarin," ucap Dila.
"Hah. Kok bisa?"
"Ya biasalah," jawab Dila.
"Kalian tuh emang teman sejati ya! Baru juga Ratna putus sama pacarnya, eh sekarang giliran lu juga putus sama pacar lu," ujar Zoya.
"Entahlah gua juga bingung, kenapa bisa barengan gitu. Apa karena gua temenan ama nih bocah, mangkannya gua ikut-ikutan kaya dia," canda Dila.
"Maksud lu? Lu nyalahin gua gitu? Lu putus sama pacar lu gara-gara temenan ama gua gitu?" tanya Ratna.
"Bercanda doang kok beb, jangan serius-serius amat lah," jawab Dila.
"Lagian lu. Lagian yang bikin lu putus sama pacar lu itu. Gara-gara diri lu sendiri, udah tau punya pacar posesif, masih aja mengagumi pria lain," sindir Ratna pada temannya itu.
"Hey, lagian gua itu gak ada rasa suka sama kak Erik, hanya sebatas rasa kagum doang." Balas Dila tak mau kalah.
"Tapi kalau kak Erik suka sama kamu, gimana?" tanya Zoya tiba-tiba, dan disetujui oleh Ratna.
__ADS_1
"Ya, kalau kak Erik nya suka sama aku. Ya, apa boleh buat," jawab Dila.
"Tapi dia tidak menyukaiku, malahan aku yakin kak Erik menyukai dirimu Zoya," ucap Dila, sekaligus melirik temannya itu yang tengah duduk dengan bersandar di kepala ranjang.
"Aku? Tidak mungkin." Zoya pun menunjuk dirinya sendiri.
"Cih, memangnya lu gak merasa bahwa tatapan kak Erik itu beda saat menatap lu Zoya!"
"Tapi gua setuju dengan ucapan Dila, kalau kak Erik itu punya rasa terhadap lu." Kali ini Ratna ikut menimpal.
"Tapi tidak mungkin lah guys, kak Erik sendiri sudah tau kalau aku sudah memiliki seorang suami," ujar Zoya.
"Iya, tapi hati siapa tau."
"Gua rasa, kalau lu pisah sama suami lu yang tampan itu. Pasti kak Erik bakal maju buat deketin lu, gak perduli setatus lu janda atau bukan," ucap Dila lagi.
"Gua setuju," ujar Ratna.
"Lu itu beruntung Zoy, udah punya suami tampan, terus juga ada yang naksir sama lu juga tampan. Meski masih tampan-an suami lu sih," ucap Dila.
"Tapi gua penasaran sama reaksi Erik, jika tau kalau lu cuman istri kedua. Gimana ya reaksinya?! Pasti dia akan merebut lu dari suami lu," ucapnya lagi.
"Tapi gua juga sependapat sama nih bocah, pasti kak Erik bakal memperjuangkan lu, dan merebut lu dari suami lu. Jika dia tau kalau lu hanya jadi istri kedua," timpal Ratna.
"Udah ah, kalian bicara apa sih."
Awalnya Nares sudah berada di depan pintu, dan hendak keluar. Namun ia teringat, bahwa ia meninggalkan ponselnya di atas nakas, di kamarnya.
Jadi oleh karena itu ia kembali lagi, tapi pada saat diambang pintu, ia tak sengaja mendengar pembicaraan antara istrinya dan juga kedua teman dari istrinya itu.
Di sana juga, ia mendengar, bahwa ada seorang pemuda yang mencintai istrinya, dan entah kenapa ia tak suka mendengarnya.
Kembali ke Nares.
"Maaf mengganggu," ucap Nares.
"Tidak kak, kakak tidak menggangu sama sekali kok," ujar Dila.
Dan Nares pun hanya tersenyum. "Aku ingin mengambil ponselku yang tertinggal," ucapnya.
Nares pun masuk kedalam dan berjalan ke arah nakas yang berada di sebelah ranjangnya.
Setelah mengambil ponselnya ia pun keluar dari kamar.
__ADS_1
"Apa suamimu memang seperti itu. Dingin?" tanya Dila, setelah Nares tak ada lagi di antara mereka.
"Ya, dia memang dingin," jawab Zoya.
"Tapi ke lu nggak, kan?" tanya Ratna.
Dan Zoya pun menggelengkan kepalanya.
"Huffstt syukurlah," ucap Ratna.
°°°
Disisi lain, Nares yang kini tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Kini tengah bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia sangat marah ketika mendengar bahwa ada pria lain yang menyukai istrinya itu.
Nares pun menepikan sementara mobilnya, di pinggir jalan, ia pun mencoba untuk meredam emosi dihatinya.
Setelah emosinya mereda, ia pun kembali melajukan mobilnya.
°°°
Waktu pun sudah menunjukkan sore hari. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nares pun pulang.
Namun sebelum ia pulang ke apartemen, ia terlebih dahulu pulang ke rumahnya bersama Zahra.
Setelah memakirkan mobilnya, Nares pun keluar dan masuk kedalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapnya, ketika sudah berada didalam rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab Zahra, dan ia pun menyalim tangan Nares.
"Mas datang kesini cuman mau bicara sama kamu, Ara," ujarnya.
"Memangnya mau bicara apa mas?" tanya Zahra.
"Sebaiknya kita duduk." Nares pu mengajak Zahra duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Begini. Sebelumnya mas minta maaf, karena mas belum bisa pulang ke rumah. Kamu tau, kan. Keadaan Zoya kurang baik, jadi mas cuman mau minta ijin sama kamu, mas tidak pulang ke sini sampai Zoya benar-benar sembuh. Apa kamu tidak masalah?" tanya Nares, dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan istri pertamanya itu.
"Tidak masalah sama sekali mas. Memang lebih baik kamu menjaganya sampai dia sembuh, aku tidak pa-pa kok mas," jawabnya.
"Tapi mas tidak tega, sama kamu sayang."
__ADS_1
"Ah, mas punya ide. Bagaimana kalau kamu dan Zahwa, ikut tinggal di apartemen?!" Nares pun menyarankan kepada Zahra.
"Tidak mas. Maaf bukannya menolak, hanya saja, lebih baik aku tinggal disini bersama Zahwa," ujarnya, karena ia tak yakin, ia akan sanggup tinggal satu atap bersama madunya itu.