
"Mas kamu mau kemana?" tanya Zahra, yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi.
"Maaf, mas harus menjemput Zoya sekarang. Katanya dia sedang berada dalam masalah," jawab Nares.
"Astagfirullah, yasudah kalau begitu cepat lah mas. Aku takut terjadi sesuatu terhadapnya," ucap Zahra, dan Nares pun segera keluar dari kamar.
"Nares kamu mau kemana?" tanya sang mamah, yang melihat Nares turun dari tangga dengan tergesa-gesa.
"Mah maaf, aku gak ada waktu. Aku harus pergi," jawabnya.
"Tapi ... " Belum sempat sang mamah melanjutkan perkataannya, Nares sudah berlari ke arah luar.
Mamah Anggun pun hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah putra bungsunya itu.
°°°
Didalam mobil, Nares tak henti-hentinya mengkhawatirkan Zoya.
Ia memukul setirnya, karena terjebak macet, ditambah lagi hujan pun turun dengan deras.
"Akkhh sial!!" Nares pun memukul setir mobilnya.
Tak lama jalan pun mulai merenggang, ia menggunakan kecepatan yang cukup tinggi.
Tak lama ia pun sampai di kampus Zoya, ia pun langsung turun dari mobilnya dan mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan istri kecilnya itu.
Tak lama ia pun melihat Zoya yang tengah berdiri di dekat pohon, Nares pun langsung berlari kearahnya.
"Zoya." Panggilnya, setelah berada di hadapan Zoya.
"Kakak," lirih Zoya yang tak dapat di dengar oleh Nares, karena ia tak bisa berucap, lantaran ia sudah kedinginan.
Nares pun langsung memeluk sang istri.
"Ayo kita pulang," ucap Nares, setelah melepaskan pelukannya.
Nares pun membawa Zoya kedalam mobilnya, di sana ia juga memakaikan seat belt. Setelah memakaikan seat belt, Nares pun langsung menancapkan gas dan pergi dari kampus itu.
"Apa yang terjadi? Dan dimana kedua temanmu itu?" tanya Nares, ketika mobil mereka sudah membelah jalan.
"Aku tidak apa, mereka sudah pulang. Kasihan jika mereka harus menunggu ku, mereka sudah diminta untuk pulang oleh kedua orang tua mereka," jawab Zoya dengan pelan.
"Kamu dingin?" tanya Nares, karena ia melihat Zoya yang tengah menggigil kedinginan, dan Zoya pun hanya mengangguk.
"Astaga, kamu yang sabar ya?!" Nares pun mematikan AC yang ada di mobilnya.
__ADS_1
Ia pun kembali fokus pada kemudinya.
"Astaga apa yang terjadi." Rutuknya.
"Maaf pak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nares pada salah satu orang, yang kebetulan sedang lewat.
"Di sana, ada pohon tumbang, akibat badai," jawab orang itu.
"Jadi tidak bisa lewat?' tanyanya lagi.
"Tidak. Jika mau, anda harus putar balik," jawab bapak-bapak tadi.
"Yasudah kalau begitu, terima kasih," ucap Nares, dan bapak-bapak itu pun hanya mengangguk.
Nares pun kembali menutup jendela mobilnya. Kemudian, ia melirik ke arah samping, yang dimana Zoya kini tengah duduk dengan keadaan yang masih sama, menggigil.
Mau tak mau, sementara Nares membawa Zoya ke salah satu hotel, untung saja, di sana ada hotel yang dekat dengan kampus tempat Zoya belajar.
Karena jika ia melanjutkan perjalanan ke arah tadi, ia tidak bisa lantaran jalanan tadi terjadi pohon tumbang.
Dan jika dia putar balik, maka ia akan membutuhkan waktu yang lama, agar sampai ke apartemen, maupun ke rumah kedua orang tuanya.
Jadi sebab itu ia membawa Zoya ke sebuah hotel.
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Nares pun sampai di hotel, setelah memakirkan mobilnya, Nares pun langsung turun dari mobilnya.
Didalam lobby, Nares segera memesan kamar untuk dirinya dan juga Zoya, di bagian resepsionis.
"Permisi," ucapnya, setelah berada di depan meja resepsionis.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu orang yang menjaga meja resepsionis.
"Malam, saya ingin memesan satu kamar. Untuk malam ini saja," jawab Nares.
"Baik, mau kamar yang mana?"
"Kamar VIP saja."
"Baik, tunggu sebentar," ucapnya.
Tak lama orang tersebut memberikan key card kepada Nares.
"Tuan ini kuncinya, nomor kamar anda berada di lantai 25, dengan nomor 3071," ucapnya seraya memberikan key card tadi.
"Baik terima kasih." Nares pun menerima key card, dan berjalan ke arah lift.
__ADS_1
Setelah masuk kedalam lift, Nares pun memencet tombol 25 lantai kamarnya.
Ting. Pintu lift pun terbuka, segera ia keluar dan melangkahkan kakinya mencari nomor kamarnya.
Setelah menemukan kamarnya, ia pun menempelkan key card tadi ke pintu, dan pintu pun otomatis terbuka.
Setelah pintu terbuka, ia pun segera masuk kedalam. Setelah menutup pintu, kemudian Nares meletakkan Zoya ke atas ranjang yang cukup besar.
Di sana Nares bingung, haruskah ia melepaskan seluruh pakaian yang Zoya pakai, atau meminta bantuan kepada room servis wanita untuk membantunya melepaskan pakaian istrinya itu.
"Astaga apa yang harus aku lakukan. Jika tidak dibuka, maka dia akan masuk angin," ujarnya pada diri sendiri.
"Baiklah aku bisa. Lagian dia halal untukmu res," ujarnya lagi pada diri sendiri.
Perlahan Nares pun mulai membuka pakaian yang istrinya pakai, dengan hati-hati ia membukanya.
Glek. Nares pun menelan salivanya dengan susah, akibat melihat tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai benang pun.
Buru-buru ia menyelimutinya dengan selimut sampai atas dada.
Setelah berhasil menyelimuti tubuh istrinya, akhirnya Nares bisa bernapas lega.
Namun kelegaan Nares tak sampai disitu saja, ia melihat istrinya itu yang masih menggigil kedinginan, ia pun mematikan AC yang ada di kamar hotel itu.
Namun usahanya sia-sia, Zoya masih saja menggigil kedinginan, Nares pun mencoba menggosok kan tangannya ke tangan Zoya, bukan hanya itu, ia juga menggosok telapak kaki Zoya, guna menghilangkan rasa dingin di tubuh Zoya.
"Ya Allah, kamu dingin sekali, wajahmu juga pucat," ucap Nares melihat wajah istrinya itu yang pucat, sambil menggosok telapak kaki Zoya.
Tak ada perubahan, Nares pun menyelimuti kembali kaki sang istri, lalu ia duduk di samping sang istri.
"Astaga apa yang harus aku lakukan," ucapnya seraya mengelus wajah pucat nan dingin Zoya.
"Dingin," lirih Zoya.
"Haruskah," ujar Nares, setelah lama berpikir.
"Tak apa Nares, dia istrimu ini," gumamnya pada diri sendiri.
Nares pun membuka pakaiannya, dan hanya menyisakan celana boxer-nya saja.
Setelah itu, ia pun naik keranjang, dan tidur di samping Zoya. Kemudian ia memeluk tubuh Zoya yang dingin, kali ini ia melakukan metode skin to skin.
Nares pun membelai punggung mulus Zoya, sebisa mungkin ia menahan hasratnya. Terlebih lagi dua buah kenyal milik Zoya menempel pada dada bidang polos dirinya.
Dan hal itu berhasil membangunkan yang dibawah sana.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa menahannya, Nares," lirihnya.
Nares pun mencoba untuk memejamkan matanya, namun tetap saja tak bisa.