Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 69


__ADS_3

Setelah selesai makan, tak lama Robi pun masuk kedalam ruangan pribadi Nares, sebelum mengetuk tak lupa Robi pun mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf mengganggu, sepertinya Zahwa merasa haus, dia tadi menangis," ucapnya setelah masuk kedalam ruangan.


"Kemari kan." Robi pun menyerahkan Zahwa ke ibunya, setelah Zahwa berada di pelukan Zahra, Robi pun berpamitan untuk keluar.


Setelah Robi keluar dari ruangan pribadi Nares, Zahra pun langsung memberikan ASI pada putrinya itu.


Sementara Nares hanya menatap dua orang yang ia cintai dan sayangi di kursi kerjanya.


"Mas, sebaiknya aku dan Zahwa pulang," ucap Zahra setelah memberikan ASI pada anaknya, dan Zahwa pun tertidur.


"Kenapa cepat sekali."


"Zahwa sudah tidur, mas. Lagian aku takut Zahwa pup atau apa, soalnya aku tidak bawa popoknya."


"Baiklah, mas akan mengantar kalian."


"Apa mas tidak sibuk?" tanya Zahra.


"Tak apa, ayo." Mereka pun keluar dari ruang pribadi Nares.


Di loby, semua orang yang berlalu lalang melihat Nares yang merangkul pinggang Zahra merasa sangat cemburu.


"Astaga, lihatlah mereka sangat romantis," ucap salah satu pegawai di sana.


"Kau benar, aku sangat cemburu. Tapi aku berharap, tidak ada orang ketiga di antara rumah tangga mereka," timpal yang lainnya.


Dan pada saat itu Nares dan Zahra pun mendengar bisikan dari pegawai Nares untuk mereka.


Setelah berada di dalam mobil, Nares pun menghidupkan gas mobilnya, dan ia pun mulai melakukan mobilnya membelah jalan yang di padati oleh kendaraan yang lainnya.


Tak lama mobil yang dikendarai oleh Nares pun sampai di rumah yang mereka tempati.


Mereka pun turun dari mobil.


"Mm, maaf aku harus pergi sekarang," ucap Nares.


"Tak apa mas."


"Yasudah kalau begitu aku pamit. Assalamu'alaikum," Nares pun mencium kening istrinya dan juga mencium pipi putri kecilnya, setelah Zahra menyalim punggung tangannya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, hati-hati mas."


"Iya."


Nares pun masuk kembali ke dalam mobilnya, kemudian ia pun mulai menjalankan mobilnya.


Sementara Zahra ia masuk kedalam rumahnya.


...***...


Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Sudah lima bulan usia pernikahan Nares dan Zoya, dan selama itu pula Nares tidak berubah.


Nares masih belum mencintai istri kecilnya itu, hanya rasa nyaman lah yang Nares rasakan bersama Zoya.


Berbanding terbalik dengan Zahra, ia begitu mencintai istri pertamanya, apalagi putri pertama mereka kini sudah berusia enam bulan, dan hal itu membuat Nares semakin mencintai keduanya.


Dan pada malam ini, semua orang tengah berkumpul di kediaman keluarga Syahputra.


Karena malam ini mereka tengah menyiapkan syukuran atas hari ulang tahun pernikahan papa Putra dan juga mamah Anggun.


Semua keluarga di undang, mulai dari keluarga Abimanyu, dan juga kedua orang tua Zahra, termasuk Zoya pun di undang.


Ia hanyalah istri kedua, apalagi seratus pernikahannya dengan Nares hanya siri, jadi membuat Zoya merasa minder, dan tak enak hati.


Namun Nares memaksa dia untuk hadir, karena mamah dan papah nya pun ingin dia hadir, dan mau tak mau Zoya pun hadir ke pesta ulang tahun pernikahan kedua mertuanya itu.


Dan disinilah Zoya berada, setelah makan malam bersama, kini para orang tua tengah mengobrol bersama di ruang keluarga, dikediaman Syahputra.


Sementara Zahra ia sedang bersama Vio, sedang mengobrol bersama, seraya menjaga anak-anak mereka. Begitupun dengan Nares dan Jeffry, mereka pun ikut mengobrol bersama istri dan anak mereka.


Sementara Zoya ia lebih memilih mengasingkan diri ke taman belakang.


Di sana ia tengah duduk seorang diri, sambil melihat ke atas langit yang cerah menampilkan beberapa bintang yang bersinar.


"Ternyata kau disini, sepertinya kamu sadar di mana posisi mu," ucap orang itu, yang tak lain ibu tiri dari Zahra.


Mendengar ucapan itu, Zoya pun berdiri dan menengok ke arah ibu tiri Zahra, yang ternyata sudah berada di belakangnya.


"T- Tante."


"Kenapa kau kaget?"

__ADS_1


"Tidak."


"Sudah ku katakan, kau itu hanya parasit di dalam rumah tangga putriku. Sebaiknya kamu pergi dari kehidupan anakku dan juga suaminya, tinggalkan Nares. Apa kau tidak mempunyai rasa malu, telah hadir di rumah tangga orang," ucap sinis dari ibu tiri Zahra.


Melihat Zoya yang hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya, membuat ibu tiri Zahra itu pun semakin semangat untuk mengucapkan kata-kata pedas.


"Seharusnya kau itu sadar diri! Suamimu itu tidak mencintaimu, dia hanya mencintai putriku saja, kau itu tidak jauh berbeda dari seorang simpanan. Paham!" lanjutnya lagi dengan penuh penekanan dan juga tak lupa mulutnya yang nyinyir.


"Kau lihat lah sekarang, Nares lebih memilih bersama Zahra dan anaknya, dan membiarkan dirimu sendirian. Asal kau tahu, kau itu telah dilupakan."


"Orang seperti mu tidak pantas masuk ke keluarga besar ini," ucapnya lagi, setelah itu ia pun kembali masuk kedalam rumahnya.


Sementara Zoya ia sudah tidak bisa membendung air matanya, ia duduk di kursi tempat tadi ia duduki, dan ia membiarkan air matanya mengalir ke pipinya.


Zoya pun terisak, menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak di dengar oleh siapapun.


Setelah lama menangis, Zoya pun mulai membersihkan air matanya, kemudian ia pergi dari rumah keluarga suaminya itu melalui samping rumah.


Setelah berada di depan gerbang, Zoya pun langsung pergi dari rumah itu. Dan beruntungnya tidak ada orang yang menjaga gerbang tersebut.


Dia pun berjalan meninggalkan kompleks perumahan, dan setelah jauh dari rumah keluarga Syahputra, tak lama taksi yang dipesannya melalu online pun sampai.


Ia pun langsung masuk, di perjalanan Zoya hanya diam seraya melihat keluar jendela.


Ia mengerungi apa yang dikatakan oleh ibu tiri nya Zahar. Ya, ibu tiri nya Zahar memang tidak salah, ia lah yang salah, seharusnya dari dulu ia tidak masuk kedalam rumah tangga suaminya.


°°°


Disisi lain, Nares yang kini tengah bersama Zahra dan putrinya, dikejutkan dengan suara notifikasi yang berasal dari ponselnya.


Nares pun membuka ponselnya, dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan.


Pada saat ia melihat, ternyata Zoya yang mengirimkan dirinya pesan.


Ia pun membuka pesan yang dikirim oleh Zoya, didalam pesan tersebut Zoya meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu, dan meminta maaf karena tidak berpamitan terlebih dahulu.


Zoya.


Kak. Maaf, aku pergi pulang terlebih dahulu tanpa bilang padamu, dan juga tanpa berpamitan pada semua orang. Aku merasa tidak enak badan. Jadi, sebab itu aku tidak berpamitan pada kalian semua.


Nares pun memejamkan matanya, setelah membaca pesan Zoya.

__ADS_1


__ADS_2