Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 18


__ADS_3

Melihat wajah Nares tersenyum dan berseri-seri, tak seperti biasanya yang selalu berwajah datar, membuat Zoya merasakan sakit di hatinya.


Tak seharusnya ia berada di dalam rumah tangga suaminya itu bersama istri pertamanya, bahkan ia bisa melihat betapa Nares sangat mencintai istri pertama nya itu.


Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, Nares kemudian melihat ke arah depan yang ternyata ada Zoya yang sedang duduk dihadapannya.


Seketika membuat Nares memejamkan matanya, karena ia lupa ternyata ia masih berada di apartemennya, apalagi kini ia tengah bersama dengan istri keduanya.


"Maaf, aku lupa ternyata kamu masih ada disini, bukan maksudku untuk membuat mu sakit," ucapnya kepada Zoya.


"Untuk apa kakak meminta maaf? Aku tidak pa-pa ko, lagian aku hanya orang asing yang tiba-tiba masuk kedalam keluarga kecil kakak," ujar Zoya.


"Jangan bicara seperti itu, itu bukan salahmu. Ini sudah menjadi takdir untuk kita."


"Yasudah aku harus pulang dulu. Oh ya, mulai besok akan ada asisten rumah tangga yang akan membersihkan apartemen ini, kalau begitu aku pamit assalamu'alaikum," ucap Nares.


"Wa'alaikum salam," jawab Zoya.


Melihat punggung Nares sudah tak ada lagi di hadapannya, Zoya pun seketika menangis, ia menangis takdirnya, kenapa ia ditakdirkan menjadi istri kedua dari orang yang sangat mencintai istri pertamanya itu.


Bahkan ia yakin Nares melakukan ini hanya semata-mata kasihan pada dirinya, atau bahkan Nares hanya menganggap nya sebagai adiknya bukan sebagai istrinya.


Dan ia yakin bahkan Nares tak akan pernah melihat nya sebagai istri, Zoya pun merasa kesal kepada dirinya sendiri, berharap Nares akan menganggapnya sebagai seorang istri, dan mulai membuka hati untuknya, sama seperti dirinya yang sudah membuka hati untuk Nares.


Ya, sebenarnya Zoya sudah menaruh hati kepada Nares, pada saat Nares menolong dirinya dari sang paman.

__ADS_1


Kenapa secepat itu Zoya mencintai Nares? Jawabannya ialah, Zoya hanya lah remaja yang masih labil jika menyangkut perasaan, ia akan cepat jatuh cinta kepada orang yang menurutnya sesuai kriteria yang selama ini ia idam-idamkan, apalagi jika orang itu baik terhadap dirinya.


°°°


Setelah dari apartemen Zoya, kini Nares pun sudah sampai di rumahnya, ia sampai pada jam 20:00 wib.


Setelah memakirkan mobilnya di garasi, ia pun turun lalu melangkah menuju rumah, tak lupa ia membawa satu paper bag berukuran sedang, yang isinya adalah satu kotak set perhiasan.


Pada saat membuka pintu dan mengucapkan salam, ia dikejutkan dengan suprise yang diberikan istri tercintanya itu.


"Suprise," teriak Zahra, sambil membawa kue ditangannya.


"Astaga, kau ini mengagetkan mas saja," ucap Nares seraya mendekati istrinya itu.


"Happy anniversary juga, terima kasih atas kejutannya sayang," ujar Nares, setelah mencium kening sang istri.


"Yasudah mari kita tiup lilinnya."


"Kita tiup bersama-sama ya sayang."


"Iya mas."


"Oh ya, dimana Zahwa? Biar sekalian dia ikut tiup lilin."


"Zahwa sudah tidur mas," ucap Zahra.

__ADS_1


"Yah sayang sekali, tapi gak pa-pa. Yaudah yuk kita tiup, satu, dua, tiga."


Huss.


Mereka pun meniup lilinnya secara bersama.


Setelah itu, Zahra memotong kue yang ia buat untuk suaminya, bahkan ia menyuapinya.


Nares pun menerima suapan dari sang istri, ia pun tak ketinggalan untuk menyuapi istrinya itu.


"Bagaimana rasanya enak gak mas?" tanya Zahra, setelah menerima suapan dari suaminya.


"Enak sayang, ini buatan kamu?" tanyanya, dan di angguki oleh Zahra.


"Oh ya, aku udah masakin makanan kesukaan kamu loh mas."


"Oh ya?"


"Heh, kamu mau mandi apa langsung makan mas?" tanya Zahra.


"Sepertinya mas mau mandi dulu deh, gak pa-pa, kan?"


"Gak pa-pa dong."


Mereka berdua pun menaiki tangga dan melangkah menuju ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2