
"Tapi mas tidak tega sama kamu dan Zahwa, harus tinggal di rumah hanya berdua. Meski ada bibi yang menemani kalian."
"Bagaimana, kalau kalian sementara tinggal di rumah mamah dan papah, selama aku tinggal di apartemen?!" Usul Nares.
"Aku takut terjadi sesuatu terhadap kalian," lanjutnya lagi.
Zahra terdiam sebentar, memikirkan usulan dari suaminya itu.
"Baiklah, aku dan Zahwa akan tinggal di rumah mamah untuk sementara," ucap Zahra setelah berpikir lama.
"Yasudah, lebih baik sekarang kamu bereskan baju-baju kamu dan Zahwa, mas tunggu disini."
"Memangnya mas tidak pergi ke apartemen?" tanya Zahra.
"Nanti. Setelah mas mengantar kamu ke rumah mamah," jawabnya.
Zahra tak lagi bertanya, ia masuk kedalam kamarnya dan mulai memasukan pakaiannya kedalam koper, sementara pakaian dan peralatan putrinya ia masukan kedalam tas bayi.
Sementara Nares ia kini tengah asik, bermain dengan putrinya di atas ranjang yang sering ditempati dirinya dan juga Zahra.
Tak butuh waktu lama, Zahra pun telah selesai memasukkan pakaiannya dan juga pakaian bayi putrinya kedalam koper dan juga tas bayi.
Melihat itu, Nares segera mengambil alih membawa koper berukuran kecil beserta tas bayi, sementara Zahra ia menggendong putri mereka.
Setelah itu mereka pun keluar dari kamar mereka dan menuju lantai bawah.
"Bi," teriak Nares.
"Iya den," ucap bi Darmi.
"Bibi sebaiknya pulang, karena Zahra dan Zahwa sementara akan menginap di rumah orang tua saya. Jadi, bibi hanya perlu membersihkan rumah ini saja, ketika istri saya belum pulang," ujar Nares.
"Baik den."
"Yasudah kalau begitu kami pamit, jangan lupa kunci pintunya ya bi."
"Iya den."
"Assalamu'alaikum," ucap Nares dan Zahra.
"Wa'alaikum salam," jawab bi Darmi.
°°°
Tak lama mobil yang dikendarai oleh Nares sampai di rumah kedua orang tuanya.
Mereka pun masuk kedalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Nares dan Zahra, setelah berada di ruang keluarga, tempat mamah dan papah nya Nares berada.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam," jawab keduanya.
"Loh ada apa ini? Kenapa kalian bawa tas dan koper segala?" tanya sang mamah, setelah Nares dan Zahra duduk di sofa yang berada di hadapannya.
"Begini mah, Nares mau minta mamah sama papah buat jaga Zahra dan Zahwa dulu, untuk Nares. Karena, Nares mau menjaga Zoya yang tengah sakit ... Mamah, papah, pasti tau, kan?!"
"Yah, mamah sama papah sudah tau," ujar pak Putra.
"Mamah sama papah ikut prihatin, atas musibah yang menimpa Zoya," ucap sang mamah.
"Iya mah. Jadi mamah sama papah, gak keberatan, jika Nares titip Zahra dan putri Nares disini?"
"Tentu saja tidak dong. Malahan mamah senang, jika mereka tinggal disini. Jadi mamah ada temannya," jawab sang mamah lagi.
"Yang dikatakan mamah mu benar, res. Untuk apa kita keberatan," pak Putra pun setuju, jika menantu dan cucunya tinggal di rumah mereka.
"Hufs, sepertinya aku harus kembali ke apartemen. Maafkan aku," ucap Nares.
"Baiklah, nak. pergilah," ujar sang papah.
"Aku pamit, assalamu'alaikum," ucap Nares, setelah menyalami punggung tangan kedua orang tuanya, dan juga mencium istri dan anaknya.
"Aku akan sering-sering mengunjungi mu," ucapnya seraya mengelus pipi mulus istri pertamanya, dan juga mencium pipi gembul putrinya.
Setelah itu, Nares pun pergi dari rumah kedua orang tuanya, dan kembali ke apartemennya.
°°°
Ia pun memberanikan diri untuk keluar kamarnya. Karena sebelumnya, ia tidak berani untuk keluar dari kamarnya.
Zoya pun pergi ke dapur, dan mengambil beberapa cemilan, ia pun memakannya di sana.
Diluar, Nares yang kini telah berada didalam unit apartemen, dan hendak masuk kedalam kamarnya. Namun ia urungkan, lantaran ia mendengar suara berisik dari arah dapur.
Ia pun menuju ke arah dapur, saat sampai di sana, ia dikejutkan dengan Zoya yang tengah memungut pecahan beling dari gelas.
Ya, Zoya telah memecahkan gelas. Nares pun segera menuju ke arah Zoya, dan memegang tangan Zoya yang hendak mengambil pecahan gelas itu.
"Kakak," ucap Zoya, ketika tangannya ditarik oleh Nares.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Nares.
"Aku sedang membersihkan pecahan gelas, yang tadi aku pecahkan," jawabnya.
"Tidak perlu membersihkannya, biar aku saja."
"Tapi ... "
Belum sempat Zoya melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Nares menggendong dirinya, dan mendudukkan dirinya di kursi makan.
__ADS_1
"Jangan banyak bicara, diam disini. Biar aku saja yang membersikan-nya," ujar Nares, dan Zoya pun patuh, ia duduk tenang di kursi makan.
Sementara Nares langsung membersihkan pecahan gelas tersebut.
Setelah semua selesai, mereka pun duduk di ruang tv. Karena Zoya, ingin menonton drama kesukaannya, dan Nares pun menemani dirinya.
Dan disinilah mereka, tengah menikmati drama yang ada di layar televisi, dengan Zoya yang berbaring di paha Nares.
Cukup lama mereka menonton, dan tidak ada suara dari Zoya, membuat Nares melihat ke arah Zoya.
Ternyata istri kecilnya itu kini tengah tertidur, Nares pun tersenyum, dan ia pun langsung menggendong Zoya ala bridal style, dan membawanya kedalam kamar mereka.
...***...
Tiga Minggu kemudian.
Sudah tiga Minggu, dan keadaan Zoya pun semakin membaik. Ia pun sudah bisa melanjutkan pelajarannya, dan kembali ke kampusnya.
Hari ini, adalah hari terakhir Zoya memeriksa kondisi psikis nya.
Sudah tiga Minggu juga dokter Sandra menangani Zoya, dan hari ini dokter Sandra mengatakan bahwa Zoya sudah tidak memerlukan perawatan dari dokter psikiater atau psikolog lagi.
"Bagaimana, keadaan istri saya dok?" tanya Nares, setelah dokter Sandra keluar dari kamarnya, yang sudah selesai memeriksa Zoya.
"Alhamdulillah, keadaan Zoya sekarang sudah jauh lebih baik. Dan ia tak perlu memerlukan perawatan lagi, hanya saja anda harus tetep mengawasi nya, saya hanya takut jika dia mengingat kembali kejadian yang ia alami."
"Baik, saya akan mengawasi nya."
"Baik, kalau begitu saya permisi," ucap sang dokter.
"Mari saya antar." Nares pun mengantar dokter Sandra sampai pintu.
"Terima kasih," ucap sang dokter.
"Sama-sama, saya pun mengucapkan terima kasih pada dokter, karena sudah merawat istri saya sampai sembuh," ujar Nares.
"Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi kewajiban saya menjadi dokter, kalau begitu saya permisi." Dokter Sandra pun pergi dari apartemen Nares, sementara Nares ia pun kembali lagi kedalam kamarnya.
Di sana, Nares melihat Zoya yang sudah rapi dengan pakaiannya.
Kini Zoya tengah memakai, kemeja hitam, celana jeans dengan warna senada dengan kemejanya, dan sepatu sneaker nya, dengan rambutnya yang sengaja ia urai.
"Kamu mau kemana?" tanya Nares.
"Aku mau pergi kuliah kak," jawab Zoya.
***
**Selamat membaca 💞
__ADS_1
Terimakasih**...