
"Kenapa kalian buru-buru pulang sih. Kan mamah masih kangen sama cucu mamah," ucap mamah Anggun setelah melepaskan pelukannya dari sang menantu dan juga anaknya.
"In syaa Allah, kami akan kesini lagi kok mah," ujar Zahra.
"Benar yah."
"Iya mah, kami pamit dulu," ucap Nares.
"Assalamu'alaikum," ucap Nares dan Zahra.
"Wa'alaikum salam."
Nares dan Zahra, beserta Zahwa yang berada di gendongan Zahra pun pergi dari rumah kedua orang tua Nares.
Didalam perjalanan tak ada yang bersuara, hanya Nares yang sesekali mengelus pipi putrinya yang tengah terlelap tidur itu.
Sampai akhirnya kendaraan yang dikendarai oleh Nares sampai di rumah mereka, setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, Nares membantu Zahra untuk memasukkan koper beserta tas yang berisi peralatan dan juga pakaian putri mereka, kedalam kamar Nares dan Zahra.
Setelah itu ia pun berpamitan pada sang istri untuk pergi ke kantor terlebih dahulu sebelum ke pengadilan.
°°°
Di lain tempat, tepatnya di kampus. Zoya kini tengah menuju ke kantin bersama kedua temannya yakni Dila dan Ratna.
Ketiganya pun duduk di kursi yang kosong di kantin tersebut, setelah membeli makanan.
Namun ketika mereka sedang makan sambil berbincang, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Boleh ikut gabung?" tanya orang itu, yang tak lain ialah Erik, ketua himpunan mahasiswa, sekaligus senior Zoya dan kedua temannya.
"Kak Erik," ucap Dila, dengan mata berbinar. Kerena memang ia mengidolakan sosok ketua himpunan tersebut.
"Boleh aku ikut gabung?" tanyanya lagi.
"Boleh-boleh kok," ujar Dila dengan antusias, sementara Ratna dan Zoya hanya bisa mengulam senyum melihat tingkah Dila yang antusias.
Erik pun duduk di samping Zoya, karena memang disitulah tempat yang kosong. Ia pun meletakan makanan yang ia bawa ke atas meja yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Kalian siswi baru ya? Bagaimana rasanya kuliah di kampus ini? Gak ada yang nyakitin kalian, kan?" tanya Erik kepada Zoya, Ratna, dan Dila, selaku mahasiswi baru di kampus tempat ia menimba ilmu.
"Sejauh ini gak ada ko kak, dan juga tentu kita senang karena bisa masuk ke kampus yang memang sudah menjadi universitas favorit bagi semua orang," ucap Ratna, dan Zoya, Dila pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh Ratna.
"Syukurlah." Erik pun berujar.
"Boleh aku tahu namamu?" tanya Erik, seraya melihat ke arah Zoya, dan mengulurkan tangannya.
"Zoya," jawab Zoya, sambil membalas uluran tangan Erik.
"Ekhm, apa kakak juga gak mau berkenalan dengan kita juga?" tanya Dila, seraya menunjuk dirinya dan juga Ratna yang duduk di sampingnya.
"Ah ya, tentu saja," jawab Erik, sama seperti Zoya ia pun mengulurkan tangannya kepada Ratna dan Dila sebagai tanda kenalan.
"Nama saya Dila," ucapnya sambil tersenyum ke arah Erik.
"Erik."
"Saya Ratna."
"Erik."
Orang itu pun mengepalkan tangannya, apalagi melihat Erik yang terus saja memperhatikan Zoya.
°°°
Di kantor, setelah menyelesaikan masalah kliennya di pengadilan, Nares pun kembali ke kantornya.
Di sana ia tengah duduk di kursi yang sering ia tempati di ruangannya. Ia tengah memikirkan, apakah ia harus memberitahukan pernikahan sirinya itu kepada Zahra dan kedua orangtuanya. Atau lain waktu saja?
Namun jika ia tak memberitahukan segera, ia takutnya Zahra dan kedua orangtuanya akan mengetahui dari orang lain, sehingga membuat mereka semakin kecewa terhadap dirinya.
Apalagi sudah satu bulan pernikahannya dengan Zoya, ia benar-benar harus memikirkan dan menyelesaikan semua ini.
Setelah lama berpikir Nares memutuskan untuk memberitahukan kepada Zahra dan keluarganya tentang pernikahan sirinya dengan Zoya.
Apa yang akan terjadi terhadap dirinya setelah dirinya memberitahukan pernikahan keduanya kepada Zahra, Ia akan terima, jika memang Zahra meminta untuk dirinya menceraikan istri kecilnya itu, maka akan ia lakukan, walaupun dengan berat hati.
__ADS_1
Karena sejujurnya, Nares tidak tega menceraikan Zoya dan meninggalkan Zoya sendiri, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena rasa cintanya terhadap istri pertamanya sangat lah besar.
Tapi ia yakin, istrinya itu tak mungkin tega membiarkan dirinya menceraikan Zoya, setelah ia menceritakan kejadian yang sebenarnya, sehingga ia bisa menikah kembali.
°°°
Malam harinya, Nares pun pulang ke rumahnya yang ditempati nya bersama Zahra. Sebenarnya ia harusnya sudah pulang sejak sore tadi, namun ada yang harus ia kerjakan di perusahaan Syahputra company, sehingga ia pulang pada malam hari.
Setelah selesai makan malam, kini Nares mengajak Zahra duduk di ruang tv. Sementara anak mereka sudah terlelap dalam tidurnya, setelah menyusu pada Zahra.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Nares pada Zahra, yang kini mereka tengah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Zahra, seraya menatap mata suaminya itu.
Nares pun duduk dilantai dan bersimpuh seraya memegang kedua tangan istrinya itu.
"Maaf ... "
"Maaf untuk apa?" Sela Zahra.
"Maaf, karena aku ... aku telah menodai kesucian dalam pernikahan kita," lirih Nares, seraya menggelamkan wajahnya ke tangan Zahra yang ia pegang, bahkan Nares pun mengeluarkan air matanya, karena tak tahan dengan dirinya sendiri yang sudah mengkhianati orang yang ia cintai.
Sementara Zahra, ia hanya bisa terdiam setelah mendengar pengakuan dari suaminya itu.
"Jelaskan padaku, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa kamu telah menodai ikatan suci pernikahan kita," ucap Zahra dengan pelan, walaupun hatinya sakit, takut apa yang ia pikirkan terjadi, bahwa suaminya mempunyai wanita lain.
Dan Nares pun menceritakan semuanya kepada istri pertamanya itu, tanpa ada yang ditutupi lagi.
Dan benar saja setelah mendengar penjelasan dari suaminya itu, apa yang dipikirkan nya tidak salah.
Sejujurnya Zahra syok mendengar peruturan dari sang suami. Namun ia tak bisa menyalahkan kesalahan sepenuhnya terhadap Nares, suaminya.
Ia tahu, suaminya itu tidak bisa berbuat apa-apa, dan takdir lah yang sudah membuat dirinya memiliki seorang madu.
Mendengar penjelasan dari suami yang dicintainya itu, hanya bisa membuat ia menangis, ingin marah, namun ia tak bisa. Ia bukan wanita seperti itu, yang hanya melampiaskan kekesalan dan kecewa-an dengan marah.
Melihat istrinya menangis, Nares pun buru-buru memeluknya. Ia memeluk Zahra dengan erat, dan tangisan Zahra pun semakin kencang.
__ADS_1
Yang hanya bisa dilakukan oleh Nares adalah memeluk istrinya, ia pun membelai punggung Zahra yang bergetar, sesekali ia mencium pucuk kepala Zahra.
"Sayang, maaf ... maafkan mas," ucap Nares dengan lirih.