Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
EXTRA CHAPTER


__ADS_3

Waktu pun telah berlalu, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.


Hari ini di sebuah rumah yang cukup besar, dengan halaman yang luas dan taman yang di hiasi berbagai bunga.


Di sebuah kamar yang luas dengan bercet putih, abu-abu itu.


Nampak seorang pria yang sudah memasuki kepala tiga, sedang menata rambutnya di depan cermin.


Ia pun menoleh saat pintu kamarnya terbuka, dan muncullah sosok gadis kecil yang cantik, yang berusia tiga tahun itu, dengan memakai dress selutut, dan rambut yang di kuncir kuda.


"Ayah, apa ayah sudah siap? adik kembal sudah menunggu," ucapnya dengan suara cadel, dan juga bertanya pada sang ayah.


Pria itu pun berjongkok, agar tingginya sejajar dengan tinggi gadis kecil itu.


"Tentu sudah dong princess nya ayah," jawabnya, seraya tersenyum.


"Kalau begitu ayo, Zahwa udah gak sabal beltemu dengan ibu dan bunda," ucapnya.


Ya, pria dan gadis kecil itu adalah Nares dan Zahwa.


"Yasudah ayo, kasihan adik-adik mu sudah lama menunggu."


Nares pun menggandeng tangan kecil Zahwa, dan tangan satunya membawa dua bunga mawar, dengan yang satu berwarna merah, dan satunya lagi berwarna putih.


Saat sampai di ruang tamu, Nares melihat anak kembarnya sedang bersama pengasuhnya.


Kini si kembar sudah berusia dua tahun, mereka hanya selisih satu tahun dengan Zahwa kakaknya.


"Ayah ayo kita beltemu ibu dan bunda," ucap mereka serempak.


"Iya-iya, sepertinya kalian sudah tidak sabar ya, bertemu dengan ibu dan bunda kalian?" tanya Nares dengan tersenyum.


"Tentu, kami sudah tidak sabal ingin bertemu dengan ibu dan bunda," ucap si bungsu Zee.


Fyi, ketiga anak kembar Nares dan Zoya diberi nama dengan si sulung yang bernama, Ziovano Alexander Syahputra, dan yang kedua bernama, Zeovan Alexander Syahputra, dan si bungsu di beri nama Zeevanya Alexander Syahputra.


Nares dan Zahwa sering menyebutnya dengan si sulung, Zio, yang kedua dengan Zeo, dan si bungsu dengan sebutan Zee.


Di dalam perjalanan, penuh dengan kecerewetan dari anak-anak, Nares yang kini tengah mengemudi mobilnya, hanya tersenyum mendengar setiap ocehan dari putra dan putrinya.


Hingga di tengah perjalanan, hening tak ada suara sama seperti sebelumnya.


"Apa mereka tidur?" tanyanya pada perawat si kembar.


"Iya tuan, si kembar sudah tidur," jawab perawat itu.


Ya, Nares memang menyewa jasa perawat untuk menjaga si anak kembar nya.


Sedangkan Zahwa, ia sendiri yang tidak ingin di jaga oleh perawat, dia mandiri sama seperti mendiang ibunya.


Tak lama mobil pun sampai di tempat yang mereka tuju.


Para pengasuh pun membangunkan si kembar, dan Nares membangunkan putri sulungnya, yang duduk di sampingnya.


"Mm ... Apa kita sudah sampai ayah?" tanya Zahwa setelah bangun.


"Sudah sayang," jawab Nares.


"Benalkah," kali ini si bungsu Zee yang berucap, dengan mata yang berbinar-binar, seolah ia tak sabar ingin bertemu dengan ibu dan bundanya.


Ya, Nares memberitahukan pada mereka bahwa mereka mempunyai dua orang ibu, namun dengan panggilan yang berbeda.


Zahra yang dipanggil dengan sebutan ibu, sedangkan, Zoya ia dipanggil dengan sebutan bunda.


Meski mereka belum mengerti semuanya, namun mereka tetap senang.


"Iya," ujar Nares.


Mereka pun turun, dan berjalan melewati beberapa pemakaman yang berjejer rapi.


Setelah sampai di suatu pusara, Nares pun berjongkok di samping pusara tersebut, seraya meletakkan bunga mawar putih yang ia bawa, yang batu nisannya bertuliskan nama Zahra Khoirun Nisa.


Tak lupa ia berdo'a. "Assalamu'alaikum, Humaira ku. Mas datang, sama seperti sebelumnya, mas datang dengan anak-anak kita. Terima kasih karena sudah mau menjadi istri mas, terima kasih karena sudah mau menerima seluruh kekurangan mas. Semoga kamu tenang disisi nya," ucap Nares, setelah ia selesai berdo'a.


"Assalamu'alaikum ibu. Ini Zahwa putli cantik ibu, ibu tau Zahwa sudah besal loh, dan Zahwa juga sudah pintal jaga adik Zahwa," ocehannya.


Dan si kembar pun tak ingin ketinggalan, mereka pun berceloteh, seakan-akan orang yang mereka ajak bicara berada di hadapan mereka.


Sementara Nares ia hanya diam memperhatikan tingkah laku anak-anaknya, seraya tersenyum.


Selesai dari pemakaman, mereka pun kembali ke mobil mereka.


"Sekalang kita beltemu dengan bunda," ucap Zeo.


Anak-anak Nares memang cerewet dan banyak tanya jika bersama dengan keluarga mereka, lain lagi jika dengan orang lain maka Zeo akan bersikap dingin sama seperti Nares.


Apalagi Zeo, ia memiliki tingkah yang super jail dibandingkan dengan yang lain, ditambah ia selalu mengusili adiknya, Zee.

__ADS_1


Beda halnya dengan Zio, ia yang mewarisi sikap dingin Nares, kadang ia juga hanya berbicara seperlunya saja. Tidak seperti kakak dan adiknya, yang masih bisa bersikap bercanda.


Namun dibalik sikap dinginnya Zio, ia selalu perhatian dengan adik-adiknya, dan sangat sayang pada kakak perempuannya itu.


Sedangkan dengan si sulung Zahwa, ia memiliki sikap sama seperti mendiang ibunya, yang pengertian.


Meski dia masih kecil, namun sikapnya sudah pengertian, apalagi terhadap adik kembarnya, meskipun mereka beda ibu.


Dan si bungsu Zee, yang mewarisi sikap manja bundanya. Ia kerap kali manja terhadap sang ayah, ia sering kali meminta tidur bersama dengan ayahnya di kamar sang ayah.


Namun sikap manjanya hanya berlaku pada sang ayah dan juga kakaknya, jika bersama orang lain maka ia akan bersikap layaknya seorang gadis kecil pada umumnya.


Ketiga anak kembar Nares, memiliki paras yang menawan, mata mereka mewarisi mata biru dan rambut coklat, milik bundanya.


Sedangkan sikap dinginnya mewarisi dari sang ayah, wajah mereka pun lebih mirip dengan Nares dibandingkan dengan Zoya.


Sedangkan si sulung Zahwa, ia lebih mirip dengan mendiang ibunya, Zahra.


Tak lama Nares pun mulai melajukkan mobilnya, membelah jalan, dengan kecepatan sedang.


"Ayo turun kita sudah sampai," ucap Nares, ia pun mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu mobilnya, lalu keluar.


Disusul dengan Zahwa dan si kembar.


"Yey, bental lagi kita beltemu dengan bunda!" teriak Zee.


"Zee bisa tidak jangan belisik," ujar Zio dengan wajah dinginnya.


Zee yang mendengar ujaran sang kakak ia hanya berdecih lalu memalingkan wajahnya ke arah samping, agar ia tidak bisa melihat wajah dingin kakaknya itu.


"Sudah-sudah, lebih baik kita pergi. Pasti bunda kalian sudah menunggu," lerai Nares.


"Ayo." Nares pun menuntun Zee, karena anak itu ingin sang ayah memegang tangannya.


Sementara, kakak-kakaknya berjalan terlebih dahulu di depan.


°°°


Disisi lain, seorang wanita yang sedang memakai baju toga. Hari ini ia sudah menjadi sarjana, dan impiannya dari kecil pun tercapai sebagai seorang desainer.


Setelah melewati beberapa proses, termasuk foto bersama dengan para dekan dan juga dosen, sedang menunggu kedatangan keluarga kecilnya.


"Bundaaaaaa!!" teriak seorang anak kecil.


Wanita itu pun menoleh ke arah sumber suara, ia pun tersenyum setelah melihat semua orang yang ia nantika.


Anak kecil itu pun berlari ke arah wanita itu, dan sang wanita itu pun langsung memeluknya.


"Selamat bunda," ucapnya.


Wanita itu pun terkekeh, ia pun mencium seluruh wajah cantik anak itu. "Terima kasih, my princess."


"Hay," ucap seorang pria.


Wanita itu pun mendongkang melihat wajah pria itu, wanita itupun tersenyum setelah melihat ke arah pria itu.


"Happy graduation, selamat atas kelulusan mu," ujar pria itu, seraya memberikan bunga mawar merah pada wanita itu.


"Terima kasih, kak." Wanita itupun mengambil bunga pemberian dari pria itu.


"Hm ... Kalian tidak ingin memberikan ucapan pada bunda? Dan juga tidak ingin memeluk bunda?" tanya wanita itu pada anak-anak nya.


"Tentu saja kami mau memeluk bunda," ucap salah satu di antara mereka.


"Iya benar," timpal yang lainnya.


Dan mereka pun langsung berlarian ke arah wanita itu, dan memeluknya.


"Kesayangan bunda," ucapnya.


"Selamat wisuda bunda," ucap Zahwa dan Zeo.


"Terima kasih sayang."


"Zio, kamu tidak ingin memberikan selamat pada bunda?" tanyanya.


"Selamat wisuda, bunda," ucapnya dengan nada dingin.


"Astaga, kamu ini persis ayahmu."


"Tentu saja dia kan putraku," ujar Nares.


"Tapi aku yang mengandung, dan melahirkannya," timpalnya.


Ya, pria dan wanita itu adalah Nares dan Zoya.


°°°

__ADS_1


Flashback on.


Waktu itu, saat Zoya dinyatakan meninggal oleh dokter, ternyata tubuh Zoya masih merespon, sehingga ia masih bisa bernafas, meski nafasnya tidak teratur.


"Dokter," ucap salah satu perawat dengan sedikit berteriak.


"Ada apa?" tanya dokter.


"Pa- pasien. Pasien ... Dia kembali bernafas," jawabnya.


"Apa!!!" ucapnya dan bukan hanya dokter saja, namun semua orang yang berada di sana.


"Benar dokter, pasien kembali bernafas."


"Baik kalau begitu, saya akan memeriksa terlebih dahulu."


Dokter dan perawat itu pun masuk kedalam ruangan, untuk memeriksa kembali keadaan Zoya.


Sementara semua orang menunggu kabar Zoya dari luar.


Di saat mereka tengah menunggu harap-harap cemas. Tiba-tiba ada seorang pria bule yang mungkin usianya tidak jauh beda dengan sang ayah, yakni pak Putra, menghampiri mereka.


"Permisi," ucapnya.


"Iya, ada apa ya?" tanya Jeffry.


"Apakah benar di dalam dengan pasien yang bernama Zoya Alexander?" jawabnya sekaligus bertanya.


"Benar. Memangnya ada apa?" tanya Jeffry lagi.


"Begini. Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan diri saya sendiri. Perkenalkan nama saya Smith saya adalah saudara kembar dari saudara Samuel, selaku ayah biologis dari Zoya. Orang yang telah melecehkan saudari Anggi mamahnya Zoya ... "


"Saya datang kemari ingin mendonorkan darah saya untuk keponakan saya itu, saya mendapat kabar dari orang suruhan saya bahwa saat ini Zoya sedang mengalami masa kritisnya akibat kecelakaan," jelasnya lagi.


Tuan Smith pun menceritakan semuanya, tentang ia yang selama ini mencari Zoya yang sudah di beri amanah oleh sang kakak yakni Samuel selaku ayah biologis Zoya.


Karena sebelum Samuel berangkat untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang ia perbuat pada ibunya Zoya, ia lebih dahulu berpesan pada sang adik, jika terjadi sesuatu terhadap dirinya, maka adiknya itu harus bisa menjaga Zoya.


Dan setelah beberapa tahun, akhirnya orang suruhan tuan Smith berhasil menemukan Zoya berada.


Pada saat itu, Zoya sudah menjadi istri dari Nares, dan sudah mengandung si kembar.


Mengetahui bahwa sang keponakan dalam keadaan baik-baik saja, dan bersama orang yang tepat menurutnya, tuan Smith pun memutuskan untuk tidak bertemu terlebih dahulu dengan keponakan nya itu.


Lantaran ia harus mengurusi perusahaan milik keluarganya, ditambah lagi Zoya pasti belum tahu bahwa selama ini ayah kandungnya memiliki seorang adik, apalagi ayah kandung Zoya dan dirinya adalah saudara kembar.


Memang selama ini tuan Smith selalu menutupi dirinya, sehingga pada saat tuan Alexander selaku ayah angkat Zoya, tidak tahu bahwa ayah kandung dari Zoya memiliki saudara kembar.


Dan kali ini, ketika ia mendapatkan kabar dari orang suruhannya, bahwa Zoya dalam masa kritis, dan dinyatakan sudah tiada, namun beruntungnya ia masih mendapatkan keajaiban.


Tubuhnya merespon kembali dan ia pun kembali mulai bernafas, meski nafasnya tak teratur.


Tuan Smith pun langsung terbang menuju Indonesia, untuk mendonorkan darahnya.


Dan disinilah ia berada, di dalam ruangan untuk di periksa apakah ia bisa mendonorkan darahnya untuk Zoya.


Setelah melalui berbagai pemeriksaan, akhirnya Zoya pun bisa mendapatkan donor darah.


Zoya pun dinyatakan telah berhasil melewati masa kritisnya.


Flashback off.


°°°


Kembali ke Nares dan Zoya.


Kini keduanya tengah berdiri, saling menatap satu sama lain.


Sementara untuk anak-anak mereka, si kembar dan juga Zahwa tengah bersama dengan Oma opa nya.


Nares pun memegang kedua tangan Zoya, seraya melihat sang istri dengan mata yang melekat.


"Terima kasih. Terima kasih, untuk semuanya Zoy. Terima kasih, karena kamu mau bertahan sama orang sepertiku. Terima kasih, karena kamu mau menunggu balasan cintaku untukmu dari lama. Terima kasih, karena kamu sudah mau menemaniku sampai saat ini. Dan terima kasih, kamu sudah memberikan ku anak-anak yang lucu dan menggemaskan ... "


"Dan aku ingin minta maaf, karena dulu aku belum sempat membalas cintamu. Maafkan aku, karena sikap dingin dan cuek ku selama ini padamu, dan tidak selalu bersama denganmu pada saat kau mengandung. Dan aku lebih mementingkan kandungan mu, daripada dirimu, karena dulu aku terlalu fokus pada kesedihan yang aku alami, sehingga kamu terabaikan, maafkan aku. Sungguh aku menyesal," jelas Nares dengan panjang lebar.


"Kakak tidak perlu minta maaf, ini semua tidak sepenuhnya salah kakak. Kakak tidak salah, karena terlalu mencintai mendiang mbak Zahra. Aku tau perasaan kakak pada saat itu, mungkin aku pun akan sedih mendengar kabar tentang kehilangan orang yang kita cintai. Ini bukan salah kakak, dan aku juga mau mengucapkan terima kasih juga, karena kakak sudah mau menerima dan membuka hati kakak untukku."


"Astaga kau ini. Sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku kakak, karena aku bukan kakak mu, tapi suamimu," ucap Nares seraya mencubit hidung mancung Zoya, dan ia pun membawa Zoya dalam pelukannya.


Zoya pun hanya terkekeh. "Tapi itu panggilan sayang untukmu dariku, kak."


"Terserah." Nares pun mengeratkan pelukannya, dan Zoya pun membalas pelukan dari suaminya.


...***...


Kerena ada yang komen untuk minta extra cahpter, sama happy ending.

__ADS_1


Nih, aku sudah kasih ya🤗💚


__ADS_2