Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 91


__ADS_3

Tak lama, ambulans pun datang, para petugas medis pun langsung membawa Zoya ke bankar.


Mamah Anggun pun langsung naik ke dalam mobil ambulans itu, dan tak lupa ia membawa cucunya untuk ikut serta masuk kedalam mobil ambulans itu, sedangkan stroller baby ia biarkan saja di sana.


Setelah semuanya masuk, mobil itu pun langsung melaju menuju rumah sakit.


°°°


Sementara di kantor, perasaan Nares tak karuan, ia merasa bahwa terjadi sesuatu.


Dan yang ia rasakan ini sama seperti dirinya yang merasakan terhadap mendiang istrinya, Zahra.


Pada saat satu hari sebelum kecelakaan yang merenggut istri pertamanya itu, ia pun merasakan perasaan yang serupa.


Dan kali ini ia merasakannya lagi, Nares pun mengehentikan pekerjaannya, ia menghela nafasnya, seraya bersandar pada kursi kerjanya.


Lalu ia berdo'a dalam hati. "Ya Allah, semoga tidak terjadi sesuatu terhadap orang-orang yang aku sayangi," ucapnya dalam hati.


Dan tak lama ponselnya pun berdiri, dilihatnya siapa yang menghubunginya, dan orang itu ialah sang mamah.


Nares pun mengangkat teleponnya.


"Halo assalamu'alaikum, ada apa mah?" tanya Nares pada sang mamah.


"Wa'alaikum salam. Nares, Zoya ... Zoya ..."


"Zoya kenapa mah?" tanyanya dengan hati yang tak enak, apalagi ditambah ia mendengar sang mamah berbicara sambil menangis di sebrang sana.


"Z- Zoya, Zoya ... Zoya kecelakaan Nares. Di- dia, dia tertebak oleh mobil, dan sekarang mamah berada di rumah sakit, dan keadaannya kritis," ucap sang mamah dengan tangisnya yang pecah.


"Apa!!!! Katakan, dimana alamat rumah sakitnya mah, Nares akan segera ke sana."


"Di rumah sakit xxx, cepatlah kemari."


"Mamah yang tenang yah, mamah jangan menangis, Nares akan segera ke sana. Oh ya, Zahwa bagaimana?" tanyanya.


"Zahwa baik-baik saja, tapi Zoya ... " Mamah Anggun pun tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia pun terus saja menangis.


"Iya mah, kalau begitu Nares tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah panggilan itu terputus, Nares pun langsung berlari ke lobby kantornya.


Setelah berada di parkiran, ia pun langsung masuk kedalam mobilnya, dan mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedikit penuh.


°°°

__ADS_1


Tak lama mobil yang dikendarai Nares pun telah sampai di pekarangan rumah sakit.


Setelah memakirkan mobilnya, ia pun langsung turun, dan menanyakan ke bagian resepsionis.


"Maaf saya ingin bertanya, dimana korban kecelakaan yang dibawa tadi? Korban itu seorang wanita hamil?" tanya Nares pada bagian resepsionis.


"Tunggu sebentar, kami cek dulu tuan," jawab penjaga resepsionis itu.


Penjaga resepsionis itu pun mengecek. "Korban kecelakaan tabrak lari, masih berada di ruang operasi untuk sekarang ini," ucapnya.


"Di lantai?"


"Di lantai dua tuan."


"Baik terima kasih."


"Sama-sama."


Nares pun langsung menaiki lift menuju lantai dua, yang dimana di sana istrinya sedang di operasi.


Ting.


Lift pun terbuka, di sana Nares langsung berlari mencari di setiap koridor.


Dan akhirnya, ia pun dapat melihat sang mamah yang tengah duduk di kursi yang berada di luar ruangan operasi, dengan mendekap Zahwa yang masih tertidur itu.


"Mah," ucap Nares, ketika ia sudah dekat di hadapan sang mamah.


"Iya mah, bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Nares.


"Entah. Tadi dokter bilang, Z- Zoya ... Zoya harus segera di operasi," jawab sang mamah dengan terbata-bata.


Ceklek.


Pintu ruang opersi terbuka, dan muncullah seorang dokter.


"Keluarga pasien," panggil sang dokter.


"Iya saya, apa terjadi sesuatu terhadap istri saya, dok?" tanya Nares.


"Apa anda suaminya?"


"Iya dok saya suaminya."


"Begini pak, kami harus segera melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan ketiga bayi anda. Dan untung bayi-bayi anda sangat kuat, sehingga tidak terjadi keguguran kepada tiga bayi anda," jelas sang dokter.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya, dok."

__ADS_1


"Baik, kalau begitu anda bisa ikut perawat ini, untuk menyelesaikan biaya administrasi dan juga mengisi formulir persetujuan untuk dilakukan nya operasi."


"Iya dok."


"Mari ikut saya tuan," ujar sang perawat.


Nares pun mengikuti perawat itu untuk mengisi formulir persetujuan operasi dan juga menyelesaikan biaya administrasi.


Sementara sang dokter, dia pun masuk kembali ke ruang operasi. Dan untuk mamah Anggun, ia hanya bisa duduk dan mencium cucunya yang kini masih berada di dekapannya.


"Semua ini salahku, andai saja aku tidak ceroboh, pasti menantu dan cucuku tidak terjadi apa-apa," lirih mamah Anggun, yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Mah," ucap Nares, ketika ia sudah kembali mengisi beberapa berkas.


Nares pun duduk di samping mamahnya, seraya memeluk dan menenangkan sang mamah.


Ya, tadi Nares sempat mendengar lirih-an dari mamahnya, yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Nares lagi.


"Semua ini salah mamah. Andai saja mamah tidak ceroboh, pasti stroller baby Zahwa tidak akan menggelinding sampai jalan, dan Zoya pasti akan selamat," ucapnya dengan air mata yang terus mengalir itu, dan sang mamah pun menceritakan semua tentang kejadian itu.


"Tidak mah ini bukan salah mamah, ini semua takdir," ucapnya seraya menenangkan sang mamah.


"Oh ya mah. Mamah bilang, orang yang menabrak Zoya melarikan diri?" tanya Nares, dan sang mamah pun hanya mengangguk.


"Pasti ini semua sudah direncanakan, tidak mungkin orang itu mengendarai kendaraannya dengan kecepatan kencang. Padahal dia melihat Zoya yang berada di tengah jalan," gumam Nares dalam hati.


Ya. Nares berpikir, tidak mungkin orang yang menabrak Zoya tidak melihat keberadaan Zoya.


Walaupun pada saat itu, keadaan jalanan sepi dan tidak ada pengendara yang lewat dan hanya mobil yang menabrak Zoya lah yang lewat.


Bisa saja mobil itu mengerem mobilnya, ketika ia melihat Zoya. Tapi ini tidak, sang pengendara malah terus melajukkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga Zoya pun tertabrak, karena tidak bisa menghindari.


Ditengah lamunannya, terdengar suara bayi yang baru lahir.


Oeeekkk, oeeekkk, oeeekkk.


"Mah apa itu suara bayi-bayi Nares yang sudah lahir?" tanyanya.


"Iya sayang, itu anakmu. Mereka sudah lahir ke dunia ini," jawab sang mamah.


Dan hal itu membuat mata Nares berkaca-kaca, ia tak bisa membayangkan, bahwa ia bisa memiliki tiga bayi kembar.


Tak lama pintu ruangan pun terbuka, dan menampilkan beberapa perawat yang membawa bayinya untuk ditempatkan di ruangan khusus, untuk diberi penanganan khusus.


"Sus, anak-anak saya mau dibawa kemana?" tanya Nares pada salah satu suster itu.

__ADS_1


"Maaf tuan, bayi-bayi anda harus ditempatkan di ruangan yang khusus untuk bayi, karena kondisi bayi kembar anda melemah," jawab suster tadi.


"Permisi." Suster itu pun membawa ketiga bayi kembar Nares, dan Nares ia hanya bisa pasrah.


__ADS_2