
"Lalu habis itu kamu mau kemana? Bukankah tadi kamu bilang, kamu sudah diusir oleh pemilik kontrakan?" tanya Nares.
"Iya tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, sudah buruan. Lagian untuk apa kamu kesini lagi, buakankah kamu sudah diusir?" tanya Nares heran.
"A-aku, cuman mau mengambil baju-baju ku, yang belum sempat aku ambil, karena paman sudah membawaku terlebih dahulu," jawab Zoya, karena sejujurnya ia takut dengan Nares, jika Nares sudah berbicara.
Nares pun mengetahui bahwa Zoya takut kepada dirinya, karena ia berbicara dengan nada yang datar nan dingin.
"Maaf, bukan maksudku untuk membuatmu takut atau apa. Tapi memang beginilah nada bicaraku terhadap orang yang tidak aku kenal," ucap Nares menjelaskan, dan kali ini nada bicara sedikit lembut.
"Terhadap orang yang tidak aku kenal!" gumam Zoya dalam hati, seraya tersenyum miris.
__ADS_1
Setelah mendengarkan ucapan dari Nares, Zoya pun hanya mengangguk. Dan setelah itu ia pun langsung keluar dari mobil Nares dan berjalan menuju kontrakannya.
Di perjalanan menuju ke kontrakan nya, Zoya selalu menyadarkan dirinya, bahwasanya ia hanyalah orang asing bagi Nares, yang kebetulan menolong dirinya dari sang paman.
Dan untuk bertahta di hati sang pria yang menolong nya, agak mustahil, jelas-jelas dari sorot mata dan juga nada bicaranya saja tidak ada ruang untuk Zoya bertahta di hati suaminya itu.
"Sadar Zoya, sampai kapanpun ka Nares tidak akan pernah melirikmu, jangankan melirik, menganggap kamu sebagai istrinya pun mungkin tidak..." lirih Zoya.
Zoya pun sudah sampai di teras kontrakan nya, ia melihat tasnya sudah ada diluar kontrakan, yang ditaruh dilantai dekat dengan jendela.
Di dalam mobil, Nares tak henti-hentinya mengumpat, lantaran istri sirinya itu belum juga kembali, padahal sudah satu jam ia sudah menunggu, apalagi hari semakin malam.
Iya tak ingin istri pertamanya itu menunggunya karena khawatir. Terlebih lagi handphone miliknya tertinggal di apartemennya, karena tadi siang ia sempat pergi ke apartemennya itu, yang dulu sering ia tempati, sebelum menikah dengan istrinya Zahra.
__ADS_1
Namun semenjak menikah, Nares tak pernah lagi tinggal di apartemen, kecuali pada saat ia benar-benar merasa lelah dan tak sanggup lagi untuk berkendara setelah pulang bekerja.
Ia sering tidur di apartemennya itu, jika ia merasa lelah atau ada hal yang mendesak, ia lebih memilih tidur di sana, terlebih lagi lokasinya dekat dengan kantor pengacara miliknya dan juga perusahaan milik keluarganya.
Nares pun keluar dari mobilnya, dan hendak menghampiri wanita yang baru dinikahinya itu.
Setelah berada di depan kontrakan Zoya, ia melihat istrinya itu tengah duduk dilantai, seraya menggelamkan wajahnya ke kakinya yang ditekuk itu.
"Ehmm," Nares berdehem setelah berada di hadapan Zoya.
Mendengar suara deheman, membuat Zoya mengangkat wajahnya, ia dapat melihat suaminya itu sedang menatapnya.
Deg, deg, deg.
__ADS_1
Tiba-tiba jantung Zoya berdetak dengan kencang saat melihat Nares sedang menatapnya, walaupun Nares menatap dirinya dengan datar, namun mampu membuat jantung Zoya berdetak dengan kencang.
Apalagi saat ini mereka tengah menatap satu sama lain, membuat Zoya tak bisa mengontrol debaran jantungnya, ditambah ia merasa malu ditatap seperti itu, mungkin saat ini pipinya sudah menjadi merah, seperti tomat.