
Dilain tempat, kini Zoya mulai sadar dari pingsannya. Pada saat membuka matanya, ia dikejutkan lantaran, ia sudah dikerumuni oleh empat pria yang berbadan besar dan tegap.
"S- siapa kalian?" tanyanya dengan takut.
"Siapapun kami, anda tidak perlu tau nona." Salah satu orang dari mereka berucap.
"Yang paling penting kita akan bersenang-senang bersama," timpal salah satu yang lainnya.
Mendengar hal itu membuat Zoya takut, namun tidak dengan para penjahat itu, mereka malah tertawa kencang.
Salah satu ponsel dari mereka berdering, orang itu pun mengangkat teleponnya yang ternyata dari bos nya itu.
"Halo bos," ucapnya, setelah sambungan telepon terhubung.
" ... "
"Tenang saja, semua beres. Anda hanya perlu menyiapkan sejumlah uang yang sudah menjadi kesepakatan kita."
" ... "
"Baik, anda tidak perlu khawatir."
Tut. Orang itu pun mematikan sambungan telepon secara sepihak.
°°°
Di tempat lain, seorang pria paruh baya. Yang tak lain adalah paman angkat dari Zoya kini sedang tertawa dengan jahat.
Akhirnya ia bisa membalaskan kesesalannya terhadap putri angkat mendiang kakak nya itu terbalas.
Entah karena apa, ia dari dulu memang tidak suka dengan Zoya dan juga keluarga nya. Termasuk kakak kandung nya sendiri.
°°°
Disisi lain, kini Nares dan juga kakaknya. Beserta beberapa sahabat dari kakaknya, seperti Johny, Tio, Dio, dan lainnya.
Sudah sampai di tempat penyekapan Zoya, mereka pun langsung masuk kedalam bangunan yang sudah tak layak ditempati itu, setelah menemui orang suruhan dari Nares.
Didalam ruangan yang sempit dan juga kotor, Zoya kini tengah ketekunan. Lantaran, mereka kini tengah bersiap untuk melecehkan dirinya.
"Tolong lepaskan aku!!!" teriaknya, seraya memeluk dirinya sendiri, agar penjahat itu tidak membuka baju yang ia kenakan.
"Lepaskan?! Jangan harap. Setelah kami menikmati tubuh indah mu ini, baru kami akan melepaskan mu, nona!!" ucap dari salah satu dari mereka, seraya tersenyum smrik.
__ADS_1
"Tolong jangan lakukan itu, kumohon," pinta Zoya, ia sudah ketakutan setengah mati, bahkan kini ia sudah mengeluarkan air matanya.
"Lebih cepat kita melakukannya, supaya kita bisa mengirim dia ke luar negri," ucap ketua dari orang jahat itu.
"Kau benar."
Ketua itu pun mendekat ke arah Zoya, melihat itu Zoya pun memundurkan tubuhnya. Namun sayang ia kalah cepat, tangannya sudah lebih dulu di cekal dan orang itu pun merobek baju Zoya yang di bagian dadanya.
"Tidak!!!!" teriak Zoya.
"Kumohon jangan." Zoya pun berusaha menutupi robekan yang ada di bagian dadanya.
Diluar ruangan. Mendengar suara teriakkan, Nares dan yang lainnya pun segera berlari menuju sumber suara.
Nares yakin, yang berteriak tadi adalah istri kecilnya.
Setelah sampai di depan pintu, di salah satu ruangan. Ia pun langsung mendobrak pintu itu sehingga pintu itu pun terbuka dengan lebar.
"Be**esk!!!" teriak Nares, ketika melihat apa yang didalam.
Ia melihat istrinya itu tengah ketentuan, apalagi ia melihat ada beberapa sobekan di baju istrinya itu.
Dan yang lebih parahnya lagi, ia melihat salah satu pria yang mencoba untuk mencium bibir istrinya.
Nares pun langsung maju dan melayangkan tinjuan ke arah orang yang hampir mencium istri kecilnya itu.
Sementara Nares ia sedang bertarung dengan orang yang tadi hampir mencium Zoya, istrinya.
"Be*sek, beraninya lu nyentuh istri gua!!!" Nares pun menonjok pipi pria itu.
Tak sampai disitu ia pun menarik kerah kemeja pria itu, lalu ia benturkan kepalanya ke dinding sehingga pria tersebut tak mampu melawan lagi, dan terkapar di lantai.
Melihat itu, Nares menghentikan aksinya. Lalu ia pun melihat ke arah Zoya yang tengah memeluk kedua kakinya yang ditekuk, dan menggelamkan wajahnya ke kakinya.
Ia pun mendekat dan pada saat dihadapan Zoya, ia langsung memeluk istrinya itu.
Mendapatkan pelukan dari suaminya, tangisan Zoya kembali pecah.
Sementara Jeffry dan para sahabatnya, pun berhasil menumbangkan para penjahat itu.
Sampai tiba, suara dari polisi mengejutkan mereka.
"Jangan bergerak. Angkat tangan semuanya," ucap salah satu polisi, seraya menodongkan pistol ke arah mereka.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana pun refleks mengangkat tangannya ke atas.
"Pak tangkap mereka semua. Mereka telah berani menculik istriku, bahkan mereka hampir melecehkan istriku," ucap Nares, seraya menunjuk ke arah empat penjahat itu yang sedang duduk tak berdaya, sambil mengangkat tangannya.
Polisi itu pun meminta temannya untuk menangkap para penjahat itu, dan membawa mereka ke kantor polisi untuk di beri hukuman yang setimpal.
"Sebaiknya lu, pakaian istri lu dengan jas ini." Jeffry pun memberikan jasnya ke Nares.
Nares pun menerimanya, dan memakaikan nya ke tubuh Zoya.
Setelah itu mereka pun keluar dari gedung yang tak terpakai itu.
"Thanks ya bro. Udah bantu gua dan adik gua," ucap Jeffry pada sahabatnya itu.
"Santai aja, kaya sama siapa aja lu," ujar Johny.
"Yasudah, kalau gitu kita balik duluan ya," ujar Johny lagi, pada Jeffry.
"Ya. Sekali lagi thanks." Jeffry pun menepuk pundak sahabat nya itu, dan di balas acungkan jempol seraya menaiki mobil nya.
"Tuan, kalau begitu saya juga pamit." Jojo pun ikut pamit pada Nares, dan diangguki oleh Nares.
"Yasudah, sebaiknya kita juga pergi dari tempat ini," ucap Jeffry, dan mereka pun menaiki mobil Jeffry.
Di dalam mobil, Zoya masih berada didalam pelukan sang suami. Bahkan tubuhnya masih bergetar, meski ia sudah tak menangis lagi.
Dan Nares pun hanya membelai punggung Zoya dengan lembut, sesekali ia mencium ubun-ubun istrinya itu.
Jeffry yang melihat dibalik kaca spion depan hanya bisa tersenyum tipis, ia pun kembali memfokuskan dirinya untuk menyetir.
Karena kali ini, ia bertugas untuk menjadi supir dadakan adiknya itu.
Tak terasa mobil yang dikendarai oleh Jeffry pun sampai di apartemen Nares. Nares yang hendak bicara pada istrinya itu, ia urungkan niatnya, karena ia melihat istri kecilnya itu kini tengah terlelap dalam tidurnya.
Mungkin Zoya lelah, karena dari tadi ia terus menangis. Nares pun meminta pada kakaknya untuk membukakan pintu mobil untuk dirinya, agar ia bisa membawa Zoya keluar dari mobil.
"Kak, tolong dong bukakan pintunya." Nares pun meminta pada sang kakak, mau tak mau Jeffry pun keluar dari mobil, dan membukakan pintu untuk sang adik.
"Silahkan yang mulia," ucap Jeffry, ketika Nares sudah keluar dari mobil, dengan menggendong Zoya ala bridal style.
"Sorry." Hanya itu yang Nares ucapkan.
"Hm, yaudah gua balik dulu," ujar Jeffry.
__ADS_1
"Iya, thanks ya kak."
"Gak usah berterima kasih, sudah kewajiban gua," ucapnya.