Takdir Cinta Pengacara Tampan

Takdir Cinta Pengacara Tampan
Episode 34


__ADS_3

Meskipun sikap Nares terhadap dirinya tak pernah berubah, namun nalurinya sebagai seorang istri merasa bahwa suaminya itu tengah menyembunyikan sesuatu, yang ia tidak ketahui.


Apalagi akhir-akhir ini, Nares ada saja lembur sehingga ia harus tidur di apartemennya.


Jika dibandingkan dulu, sesibuk apapun Nares, pasti Nares akan pulang ke rumah. Dan lagi, jika ia lembur pasti tidak pernah pulang selarut malam seperti ini, dulu biasanya hanya sampai jam sepuluh malam.


Zahra pun menghela nafasnya, dari pagi sampai sekarang tidak ada kabar dari suaminya, biasanya Nares akan selalu memberikan kabar, meski hanya pesan sekali pun.


Namun sekarang, mengirimkan pesan kepada saja tidak, apalagi menghubungi dirinya.


°°°


Di lain tempat, kini Nares dan Zoya sudah kembali ke apartemen mereka.


Setelah berada di dalam apartemen mereka, Zoya pun langsung pergi ke kamar mandi, karena sudah merasakan gerah.


Sedangkan Nares ia lebih memilih duduk di balkon yang ada di kamar, ia melamun karena mengerutuki kebodohannya, yang lagi-lagi harus terbawa suasana.


Ia sudah dua kali mencium bibir Zoya, padahal ia sudah menganggap Zoya sebagai adiknya.


Jujur saja, ia tak pernah lepas dari pesona istri keduanya itu.


"Kak, aku sudah selesai mandi. Kakak cepat mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat di bathtub," ucap Zoya, menghampiri sang suami yang tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamar mereka.


Mendengar ucapan dari sang istri, Nares pun masuk kedalam kamarnya dan ia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.


Sementara Zoya menyiapkan pakaian yang akan Nares pakai.


Ting tong. Terdengar bunyi bel ditekan, Zoya pun keluar dan melihat siapa yang menekan bel tersebut.


Zoya pun membuka pintu apartemen, di sana ia melihat siapa yang menekan bel apartemen, yang tak lain adalah pengantar makanan.


"Selamat malam, saya ingin mengantar pesanan dari tuan Nares," ucap orang yang mengantar makanan tersebut.


"Ah ya, terima kasih," ujar Zoya seraya mengambil makanan dari orang tersebut.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."


"Ya."

__ADS_1


Setelah orang itu pergi, Zoya pun kembali menutup pintu, ia hendak menuju dapur, ternyata Nares baru keluar dari kamarnya dengan memakai pakaian yang tadi ia siapkan.


"Kakak memesan makanan?" tanya Zoya, setelah berada dihadapan Nares.


"Iya, apa sudah datang."


"Iya, ini." Zoya pun menunjukkan kantong plastik yang berisi makanan tersebut.


"Yasudah, kalau begitu mari kita makan," ucap Nares.


Mereka pun pergi ke dapur untuk makan malam bersama.


°°°


Disisi lain, tepatnya di sebuah rumah berlantai dua yang cukup megah.


Terdapat seorang pria yang tak lagi muda, tengah berteriak hingga melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya.


"Kamu itu apa-apaan sih mas. Itu guci kesayangan aku, mahal tau harganya!" bentak seorang wanita yang tak lain adalah istrinya.


"Diam kamu! Kamu tau, perusahaan kita sebentar lagi bakal bangkrut, semua ini gara-gara anak haram itu. Jika saja dia tidak kabur waktu itu, mungkin perusahaan kita masih bisa diselamatkan."


"Tentu saja bisa. Apa kamu lupa kita memiliki hutang yang banyak, sebelum aku berhasil mengambil alih dari mendiang mas Alex!"


"Bukankah dari awal kamu sudah membayarnya?"


"Iya, tapi meminjamnya lagi. Waktu perusahaan kita mengalami penurunan, sehingga banyak dewan direksi yang ingin mengetahui data dari pendapatan dan juga pengeluaran, jika aku memberikan nya pada mereka, maka mereka pasti akan tahu kebusukan ku selama ini ... "


"Ditambah lagi, orang yang sudah bekerja sama dengan perusahaan kita, sewaktu mendiang mas Alex hidup tidak bisa dibohongi."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, aku tidak mau jatuh miskin," ucap wanita tua itu.


"Kau pikir aku mau! Tentu saja tidak!"


"Ini semua gara-gara anak sialan itu. Aku harus membuat rencana untuk membuat anak itu menderita!" Geram pak tua itu, yang tak lain adalah paman angkat dari Zoya.


°°°


Pagi hari, Zoya yang hendak berolahraga di ruang gym di apartemen Nares, tiba-tiba menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Karena ia melihat suaminya itu tengah melakukan olahraga juga di sana. Ia melihat suaminya itu begitu seksi, padahal Nares hanya memakai celana training dan membiarkan tubuhnya telanjang, sehingga memperlihatkan perutnya yang kotak-kotak.


Ditambah lagi, keringat yang membasahi tubuhnya, sehingga membuat Nares semakin terlihat seksi.


Zoya bingung, apakah ia tetap berolahraga di ruangan itu bersama suaminya, atau mengurungkan niatnya.


"Kau ingin berolahraga juga?" tanya Nares, ketika melihat istri kecilnya itu yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Ah, ya." Zoya pun tersadar dari lamunannya, ia pun menjawab Nares sedikit gugup.


"Yasudah, masuklah. Kenapa berdiri disitu."


"Ah, ya." Zoya pun masuk kedalam, dan ia mulai melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum mencoba alat gym yang ada di raungan itu.


Nares pun hanya melihat Zoya yang tengah melakukan pemanasan, sungguh Nares melihat penampilan Zoya kini begitu seksi di matanya. Apalagi melihat lekuk tubuh Zoya, yang tidak seperti gadis seusianya.


Zoya yang kini hanya memakai baju olahraga, sport bra berwarna merah, dan juga celana legging panjang berwarna hitam.


Mereka pun berolahraga bersama. Setelah selesai berolahraga, kini keduanya duduk dilantai, sambil meluruskan kaki mereka.


"Kamu cepat mandi dan bersiap-siaplah, kita akan pergi ke swalayan untuk belanja kebutuhan dapur," ucap Nares, sambil melihat Zoya yang duduk disampingnya, seraya menyeka keringatnya.


Zoya pun melihat ke arah Nares. "Baiklah," ujarnya.


Dan ia pun beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kakinya ke kamar mereka. Sedangkan Nares masih duduk di sana, ia hanya menghela nafasnya, ketika Zoya tak lagi berada di ruangan gym.


Sungguh dia pria normal. Namun anehnya, ia hanya bereaksi kepada Zoya saja, sementara terhadap wanita lain, ia tak perduli sama sekali, meskipun mereka telanjang sekali pun.


Nares pun beranjak dari duduknya, kemudian ia menyusul Zoya ke kamar mereka.


Di dalam kamar, Nares bisa mendengar suara gemericik air didalam kamar mandi. Ia pun hanya memakai baju yang semalam ia pakai, yakni kaos oblong berwarna putih.


Kemudian ia keluar kamar. Tak lama, setelah Nares keluar dari kamar, pintu kamar mandi terbuka.


Zoya pun keluar dari kamar mandi, yang hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya. Kemudian ia mengambil pakaian yang akan ia pakai di lemari.


Setelah memakai pakaiannya, Zoya pun keluar dari kamar, dan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Di sana ia melihat, Nares tengah memasak sesuatu. Yaps, Nares tengah memasak nasi goreng untuk mereka sarapan. Karena Nares melarang BI Siti untuk datang ke apartemen mereka ketika ia berada di apartemen.

__ADS_1


"Kakak sedang masak apa?" tanyanya.


__ADS_2