
"Baik tuan," ujar Jo, ia pun menjalankan mobilnya menuju Disneyland.
Apalagi waktu masih pagi, jadi Nares bisa mengajak sang istri untuk pergi selagi mereka masih berada di LA.
Nares dan Zoya pun pergi ke Disneyland yang berada di California.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di Disneyland.
Nares pun langsung membeli tiket VIP, yang dimana ia dan Zoya tidak perlu mengantri jika ingin menaiki wahana atau apapun.
Mereka pun asik bermain dan juga berfoto bersama, sebelum Nares pulang membawa Zoya Kemabli ke tanah air, besok hari.
Setelah cukup bermain, Nares pun memutuskan untuk kembali ke rumah Zoya. Karena ia mengingat pesan dari dokter agar istrinya itu tidak boleh terlalu capek.
"Zoy, sebaiknya kita pulang," ucap Nares pada sang istri, kali ini mereka tengah duduk di kursi, dengan Zoya yang sedang memakan es krim.
"Tapi aku masih ingin bermain," rengek Zoya.
"Iya, tapi ingat kata dokter, kamu tidak boleh terlalu capek. Ingat, di dalam perutmu ada tiga makhluk hidup yang masih berkembang."
"Hm, baiklah."
Mereka berdua pun pergi pulang ke rumah Zoya.
Tak lama mereka pun sampai di rumah Zoya.
°°°
Pagi harinya, kini Nares dan Zoya sudah berada di dalam pesawat menuju ke Indonesia.
Sebenarnya Nares masih ingin mengajak Zoya jalan-jalan selama mereka berada di LA.
Namun Nares harus segera pulang ke tanah air, karena bukan hanya Zoya saja yang harus Nares perhatikan.
Ia juga harus memperhatikan istri pertamanya dan juga anaknya.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, kini Nares dan Zoya pun sudah berada di bandara Soekarno-Hatta.
Awalnya Zoya tidak mau ikut dengan Nares untuk pulang ke tanah air, namun Nares memaksa dirinya, mau tak mau Zoya pun ikut bersama dengan Nares, yang masih berstatus suaminya itu.
Tak lama, supir dari keluarga Syahputra pun tiba. Keduanya pun masuk kedalam mobil, setelah Nares membantu supir untuk memasukkan koper miliknya dan juga Zoya kedalam bagasi.
Mobil itu pun melaju membelah jalan, tak lama mereka pun sampai di kediaman keluarga Syahputra.
Yaps, Nares memutuskan Zoya akan tinggal bersama kedua orangtuanya, karena ia tak mungkin selalu bersama dengan Zoya.
__ADS_1
Jadi sebab itu, ia memusatkan untuk membawa Zoya tinggal bersama kedua orang tuanya.
Setelah itu Nares dan Zoya pun masuk kedalam rumah, sementara pak supir membawa ke dua koper mereka.
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya, setelah sudah berada di ruang keluarga.
"Wa'alaikum salam," jawab kedua orang tua Nares, dan juga di sana ternyata sudah ada Zahra yang sedang menggendong putrinya.
"Kalian sudah pulang," ucap sang mamah, ketika anak dan menantunya sudah menyalami nya, dan juga sang suami.
"Iya mah," ucap Nares, sementara Zoya hanya diam seraya sedikit menundukkan kepalanya.
"Mas," ucap Zahra, ia pun menyalim punggung tangan suaminya itu, dan di balas kecupan di keningnya.
"Bagaimana keadaan mu, apa mamah dan papah menjaga dirimu dan juga putri kita dengan baik?" canda Nares.
"Tentu saja mamah menjaga menantu dan cucu mamah dengan baik, memangnya mamah mertua yang durhaka apa," timpal sang mamah.
"Oh ya bagaimana keadaan mu sayang?" tanya sang mamah pada satu menantunya lagi, sementara sang papah sejak tadi hanya diam memperhatikan obrolan dari anak, istri, dan kedua menantunya.
"Alhamdulillah baik, mah," jawab Zoya.
"Syukurlah. Ayo kalian duduk lah," ujar sang mamah menyuruh anak dan mantunya untuk duduk di sofa.
Nares dan Zoya pun duduk di salah satu sofa panjang yang berada di ruang keluarga itu.
"Mm ... Begini, biasa kah Zoya tinggal bersama kalian," jawabnya setelah duduk di sofa. Seraya melihat ke arah mamah dan papah nya.
"Memangnya apartemen mu kenapa?" tanya sang papah.
"Jangan salah paham, nak. Papah hanya bertanya saja," lanjutnya seraya tersenyum ke arah Zoya.
Dan Zoya pun hanya mengangguk.
"Begini. Kenapa Nares meminta Zoya untuk tinggal disini, karena ... Karena Zoya kini sedang mengandung anak Nares. Mah, pah," jawab Nares dengan pelan, dan ia pun menundukkan kepalanya.
Jedarr.
Bagai tersambar petir, Zahra mematung. Apakah yang dikatakan suaminya itu benar, bahwa kini madunya itu tengah mengandung anak dari suaminya.
Apakah ia harus bahagia, atau sedih? Entahlah, apa yang saat ini ia rasakan campur aduk, ia tak harus bersikap apa.
Yang hanya bisa ia lakukan hanyalah diam.
"Benarkah!!" ucap sang mamah dengan canggung, karena ia juga tidak tahu harus bagaimana, apakah dia senang atau apa.
__ADS_1
Sejujurnya pernyataan dari Nares membuat sang mamah dan papah menjadi bingung, dengan kondisi saat ini.
"Iya mah," jawab Nares masih dengan menundukkan kepalanya, karena ia tak berani melihat ke arah istri pertamanya.
"Jadi bagaimana mah, apa boleh Nares titip Zoya disini?" tanya Nares sekali lagi.
"Tentu saja boleh, malahan mamah senang. Dengan begitu mamah mempunyai teman untuk mengobrol," jawab sang mamah.
"Terima kasih."
"Mm ... Sayang, kita pulang nya besok saja tidak apa? Hari ini kita menginap disini, kamu tidak keberatan, kan?" tanya Nares pada Zahra.
"Tidak mas," jawab Zahra.
"Yasudah, kalian istirahatlah. Pasti kalian capek," ucap sang papah yang sedari tadi hanya menyaksikan pembicaraan mereka.
"Iya pah."
"Zoy, kemari biar aku saja yang bawa koper mu," ujar Nares.
"Tak apa biar aku saja."
"Tapi Zoy. Kamu sedang mengandung, tidak boleh membawa barang yang berat, apalagi harus menaiki tangga," ucap Nares.
"Mm ... Begini, aku mau tidur si kamar tamu saja, apa boleh?" tanya Zoya memastikan.
"Kenapa?" Bukannya menjawab justru Nares balik bertanya.
"Mm ... Aku kan sedang mengandung, jadi daripada harus naik turun tangga. Lebih baik aku tidur di kamar tamu saja," jawab Zoya pelan.
"Tapi benar juga, yasudah tak apa. Tapi aku yang akan membawa koper mu," ucap Nares.
"Iya."
"Ara, kamu tunggu dikamar ya. Aku mau bawa koper Zoya dulu," ujar Nares pada Zahra.
"Iya mas." Zahra dan putrinya pun naik terlebih dahulu ke kamarnya bersama Nares yang berada di lantai dua.
Sementara Nares dan Zoya pergi ke kamar tamu, yang berada di lantai satu itu.
Setelah peninggalan anak dan menantunya, kini tinggallah kedua orang tua yang masih berada di ruang keluarga.
"Bagaimana ini pah?" tanya sang mamah, karena ia bingung harus bersikap apa.
Padahal ia sangat ingin tahu bagaimana kehamilan dari memantu keduanya itu.
__ADS_1
Ditanya seperti itu oleh sang istri, pak Putra hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu, lalu ia pun pergi dari ruang keluarga itu.